Di negeri ini, setiap gedung kampus yang diresmikan selalu membawa harapan besar. Harapan agar pendidikan mampu memutus rantai kemiskinan, mencetak generasi unggul, dan menjadi jalan menuju masa depan yang lebih baik. Semua terdengar indah. Masalahnya, rakyat sudah terlalu sering mendengar pidato tentang pentingnya pendidikan, tetapi belum tentu melihat pendidikan benar-benar menjadi hak yang mudah dijangkau semua orang.
Peresmian Universitas Satya Terra Bhinneka di Medan menjadi salah satu kabar baik di tengah tantangan dunia pendidikan. Kampus baru ini lahir dari perjalanan panjang Dr. Sofyan Tan, sosok yang selama puluhan tahun dikenal konsisten membangun pendidikan bagi masyarakat tanpa memandang suku, agama, maupun latar belakang ekonomi.
Yang menarik justru bukan kemegahan gedungnya, melainkan kisah di balik berdirinya. Sofyan Tan mengaku pernah hampir menjual sekolah karena terlilit utang yang terus membengkak. Ia bertahan bukan karena bantuan negara yang melimpah, melainkan karena solidaritas orang-orang di sekitarnya yang percaya bahwa pendidikan layak diperjuangkan.
Ironisnya, kisah seperti ini sering menjadi pengecualian, bukan kebiasaan. Di saat banyak orang berbicara tentang investasi pendidikan, masih ada mereka yang harus mempertaruhkan harta pribadi demi mempertahankan sekolah tetap berdiri. Seolah-olah membangun lembaga pendidikan lebih bergantung pada idealisme individu daripada keberpihakan sistem.
Wakil Wali Kota Medan Zakiyuddin Harahap berharap kampus ini menjadi jembatan bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu untuk meraih kesuksesan. Harapan itu tentu mulia. Namun publik juga berhak bertanya, apakah jembatan itu benar-benar bisa dilalui semua orang, atau hanya mereka yang mampu membayar ongkos untuk menyeberang?
Karena persoalan terbesar pendidikan tinggi hari ini bukan semata-mata jumlah kampus. Persoalannya adalah akses.
Berapa banyak anak berprestasi yang gagal kuliah karena biaya? Berapa banyak lulusan SMA yang memilih bekerja daripada melanjutkan pendidikan karena kondisi ekonomi keluarga? Dan berapa banyak mahasiswa yang akhirnya putus kuliah bukan karena kurang pintar, tetapi karena uang semester lebih cepat habis daripada tabungan orang tuanya?
Jika kampus ingin menjadi jembatan, maka jembatan itu harus terbuka bagi mereka yang benar-benar membutuhkan, bukan hanya bagi mereka yang memiliki kemampuan finansial.
Konsep pendidikan multikultural yang diusung Universitas Satya Terra Bhinneka patut diapresiasi. Di tengah meningkatnya polarisasi dan sentimen identitas di berbagai tempat, gagasan bahwa kampus menjadi ruang belajar tanpa membedakan latar belakang adalah pesan yang relevan. Pendidikan memang seharusnya menyatukan, bukan mengkotak-kotakkan.
Namun semangat inklusif tidak cukup berhenti pada slogan. Kampus juga harus menjadi tempat yang melahirkan keberanian berpikir kritis, riset yang menjawab persoalan masyarakat, dan lulusan yang mampu menciptakan lapangan kerja, bukan sekadar menambah panjang antrean pencari kerja.
Rencana membangun pusat riset pertanian bersama BRIN juga terdengar menjanjikan. Indonesia membutuhkan lebih banyak inovasi yang lahir dari laboratorium dan diterapkan di sawah, kebun, serta dunia usaha. Kampus akan memiliki arti jika hasil penelitiannya benar-benar menyentuh kehidupan masyarakat, bukan hanya menjadi jurnal yang dibaca segelintir akademisi.
Di sisi lain, pemerintah juga perlu bercermin. Tidak adil jika seluruh harapan memperbaiki kualitas sumber daya manusia dibebankan kepada perguruan tinggi, sementara persoalan pendidikan dasar, ketimpangan akses, hingga biaya pendidikan masih menjadi pekerjaan rumah yang belum selesai.
Gedung kampus yang megah memang membanggakan. Tetapi masa depan bangsa tidak dibangun oleh beton, kaca, dan ruang kuliah berpendingin udara. Masa depan dibangun oleh kesempatan yang setara bagi setiap anak untuk belajar, berkembang, dan bermimpi tanpa dibatasi keadaan ekonomi keluarganya.
Pada akhirnya, Universitas Satya Terra Bhinneka layak diapresiasi bukan karena kemegahan bangunannya, melainkan karena keberanian mewujudkan mimpi yang sempat nyaris kandas. Namun keberhasilan sesungguhnya baru akan terlihat beberapa tahun ke depan.
Bukan dari banyaknya pejabat yang hadir saat peresmian, melainkan dari berapa banyak anak dari keluarga sederhana yang kelak keluar dari kampus itu dengan ijazah di tangan, pekerjaan yang layak, dan kesempatan mengubah nasib keluarganya.
Karena pendidikan yang hebat bukanlah pendidikan yang hanya membangun gedung tinggi. Pendidikan yang hebat adalah pendidikan yang mampu mengangkat mereka yang selama ini berada di bawah.(***)







