Kepala Bapenda Kota Kupang Kunjungi Bapenda Medan, Bahas QRESTO dan Strategi Digitalisasi Pajak

Kepala Bapenda Kota Kupang Kunjungi Bapenda Medan, Bahas QRESTO dan Strategi Digitalisasi Pajak

MEDAN — Kalau sesama pengelola pendapatan daerah sudah bertemu, pembahasannya tentu bukan sekadar bertukar salam dan foto bersama. Ada satu topik yang jauh lebih “berisi”: bagaimana membuat urusan pajak semakin mudah, datanya semakin rapi, dan penerimaan daerah ikut meningkat.

Di sela pelaksanaan Rapat Kerja Nasional (Rakernas) APEKSI di Kota Medan, Kepala Badan Pendapatan Kota Kupang, Pah B. S. Messakh, menyempatkan diri mengunjungi Kantor Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Kota Medan, Kamis (3/7).

Kunjungan tersebut diterima langsung Kepala Bapenda Kota Medan, M. Agha Novrian, di ruang kerjanya. Agha didampingi Kepala Subbidang Pengembangan dan Pengendalian Pajak dan Retribusi Daerah, Popy Maya Syafira.

Pertemuan kedua jajaran pengelola pendapatan daerah tersebut menjadi kesempatan untuk saling bertukar pengalaman, khususnya mengenai pemanfaatan teknologi dalam pengelolaan pajak daerah.

Salah satu yang menjadi perhatian adalah QRESTO, inovasi digital yang diterapkan Bapenda Kota Medan dalam mendukung pengelolaan pajak daerah.

Pembahasan mengenai QRESTO menunjukkan bahwa transformasi digital kini bukan lagi sekadar istilah keren yang cocok dipasang di bahan presentasi. Teknologi memang harus bisa menjawab persoalan nyata di lapangan: memperbaiki pendataan, memudahkan pengawasan, meningkatkan pelayanan, sekaligus membantu pemerintah mengoptimalkan penerimaan.

Dalam pertemuan tersebut, kedua pihak juga berbagi pengalaman dan strategi mengenai pengelolaan pendapatan daerah melalui pendekatan digital.

Bagi pemerintah daerah, langkah seperti ini menjadi penting. Sebab setiap daerah tentu memiliki tantangan masing-masing dalam mengelola sumber pendapatan. Namun, ketika pengalaman dibagikan, daerah lain tidak harus selalu memulai dari halaman pertama.

Pengalaman Bapenda Medan dalam menerapkan inovasi digital dapat menjadi bahan pembelajaran bagi daerah lain, termasuk Kota Kupang. Sebaliknya, pengalaman dari Kota Kupang juga dapat menjadi perspektif baru bagi Medan.

Dengan kata lain, kunjungan ini bukan sekadar kunjungan kerja. Ada semangat “belajar bersama, memperbaiki bersama” dalam upaya meningkatkan tata kelola pendapatan daerah.

Dan di zaman ketika masyarakat sudah terbiasa membayar berbagai kebutuhan melalui ponsel, pemerintah tentu tidak boleh kalah cepat.

Kalau pesan makanan bisa beberapa kali klik langsung sampai rumah, urusan pajak pun idealnya semakin mudah diakses, transparan dan efisien.

Transformasi digital pada akhirnya bukan hanya soal aplikasi atau sistem baru. Yang lebih penting adalah bagaimana teknologi tersebut benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat dan pemerintah.

Pertemuan Bapenda Kota Kupang dan Bapenda Kota Medan pun menjadi bagian dari semangat tersebut: berbagi inovasi, memperkuat kolaborasi, dan mencari cara yang lebih efektif untuk mengoptimalkan pendapatan daerah.

Sebab PAD yang kuat bukan hanya soal angka yang bagus di laporan. Di belakangnya ada pelayanan publik, pembangunan dan kebutuhan masyarakat yang harus terus dibiayai.

Jadi, kalau teknologi bisa membantu pajak lebih tertib dan penerimaan lebih optimal, rasanya tidak ada alasan untuk kembali ke cara lama hanya karena “sudah terbiasa”.(***)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *