Pertemuan ini bukan sekadar ajang saling berjabat tangan sambil bertukar kartu nama. Ini adalah momen ketika insan pers dan birokrasi menyadari bahwa mereka sebenarnya saling membutuhkan. Pemerintah punya program, wartawan punya pena. Pemerintah punya jargon, wartawan punya deadline.
Ketua Pewarta Unit Pemko Medan, M. Edison Ginting, hadir memperkenalkan jajaran pengurus baru yang baru saja dikukuhkan Wali Kota Medan, Rico Tri Putra Bayu Waas. Dengan gaya khasnya, pria yang akrab disapa Ginting “Cobra” itu mengingatkan bahwa dalam hubungan kemitraan, berlaku hukum sosial paling tua di Nusantara: tak kenal maka tak sayang.
Dan memang benar. Sebab dalam birokrasi, terkadang yang belum saling kenal bisa saja saling menunggu. Wartawan menunggu informasi, OPD menunggu wartawan datang. Akhirnya yang paling rajin bekerja justru grup WhatsApp.
Ginting berharap hubungan antara wartawan dan Dinas Sosial bisa terus harmonis. Karena di tengah banyaknya persoalan sosial—dari bantuan yang belum turun hingga warga yang masih bingung apakah namanya terdaftar atau sekadar “sedang diproses”—media memiliki peran penting sebagai penyambung suara masyarakat.
Kepala Dinas Sosial Kota Medan, Khoiruddin Rangkuti, menyambut hangat kehadiran para wartawan. Didampingi Sekretaris Dinas Feri dan jajaran kepala bidang, ia menegaskan bahwa Dinsos sangat terbuka untuk bersinergi dengan media.
Maklum, Dinas Sosial adalah salah satu OPD yang pekerjaannya nyaris tak pernah sepi. Dari urusan Program Keluarga Harapan (PKH), BPJS Kesehatan, hingga berbagai bantuan sosial, semuanya menyentuh kebutuhan dasar masyarakat. Dan sebagaimana kita tahu, kebutuhan dasar masyarakat selalu lebih cepat sampai ke telinga wartawan daripada ke meja rapat.
Khoiruddin memahami bahwa program sebaik apa pun tak akan banyak berarti jika warga tak mengetahuinya. Sebab bantuan yang tidak diketahui masyarakat nasibnya hampir sama dengan sinyal Wi-Fi tanpa password: ada, tapi tak bisa dimanfaatkan.
Sekretaris Pewarta Unit Pemko Medan, Irwan Manalu, menambahkan bahwa wartawan di lapangan kerap menjadi “call center berjalan” bagi masyarakat. Mulai dari keluhan bansos, data DTKS, hingga pertanyaan klasik, “Bang, kenapa nama saya belum masuk?”
Menurut Irwan, wartawan bukan sekadar pemburu kutipan dan foto seremonial. Mereka juga menjadi jembatan yang menghubungkan keluhan warga dengan instansi terkait. Kadang lebih cepat dari aplikasi pengaduan, karena masyarakat merasa lebih yakin jika keluhannya sudah masuk berita.
Ia juga menegaskan bahwa wartawan tidak hanya dibutuhkan saat kegiatan berlangsung dan backdrop terpasang rapi. Kehadiran media justru paling penting ketika pemerintah membutuhkan masukan, kritik, dan tentu saja sedikit pengingat bahwa masyarakat menunggu hasil nyata, bukan sekadar dokumentasi.
Di akhir pertemuan, Edison Ginting menyampaikan apresiasi atas sambutan hangat Dinas Sosial. Ia berharap sinergi antara wartawan dan Pemko Medan semakin solid dalam mendukung visi pembangunan Kota Medan di bawah kepemimpinan Wali Kota Rico Waas.
Karena pada akhirnya, hubungan pemerintah dan wartawan memang mirip hubungan lama yang saling memahami. Kadang saling mengkritik, sesekali berbeda pandangan, tetapi tetap bertemu lagi demi satu tujuan: memastikan program pemerintah tidak hanya terdengar bagus di podium, tetapi benar-benar terasa manfaatnya hingga ke pintu rumah warga.(***)






