Di tengah berkembangnya budaya ngopi di Indonesia, Kopi Fest Indonesia hadir sebagai ruang kolaboratif yang mempertemukan pelaku industri kopi, komunitas, hingga penikmat kopi dari berbagai kalangan. Festival ini bukan sekadar ajang menikmati minuman berkafein, melainkan juga wadah edukasi, promosi, dan apresiasi terhadap perkembangan ekosistem kopi nasional.
Dari petani kopi, roastery lokal, barista profesional, hingga pengunjung yang datang demi pengalaman dan suasana, semuanya berkumpul dalam satu perayaan yang menunjukkan bahwa kopi kini telah menjadi bagian penting dari gaya hidup modern masyarakat Indonesia.
Regional perdana di Sun Plaza sukses membuktikan bahwa antrean manusia Indonesia memang tidak pernah punah. Mulai dari tenant Toko Kopi Tuku sampai Alligator Roastery dipadati manusia yang rela berdiri lebih lama demi segelas kopi dibanding menunggu kepastian hubungan.
Sementara di sudut lain, IAC 2026 Regional Medan berlangsung penuh gengsi, karena ternyata menyeduh kopi kini bisa menjadi jalur resmi menuju kejuaraan dunia di Meksiko. Dulu orang tua bertanya, “Main kopi bisa jadi apa?” Sekarang jawabannya: “Bisa ke luar negeri, Pak.”
Yang paling menyentuh tentu program “Seduh Kopi Rp1”. Sebuah inovasi luar biasa di tengah harga hidup yang makin abstrak. Dengan modal receh, pengunjung bisa mencoba alat-alat premium seperti Hario, Bialetti, sampai DeLonghi. Ini mungkin satu-satunya tempat di mana uang Rp1 tidak dipandang hina, melainkan berubah menjadi tiket masuk menuju pencerahan kafein. Dan di antara aroma espresso serta diskon mesin kopi dari Otten Coffee, para pengunjung akhirnya sadar: festival kopi bukan lagi soal minuman, tapi gaya hidup modern yang membuat orang rela belajar membedakan kopi robusta dan arabika sambil tetap memesan “yang manis aja, Kak.”(***)






