Medan — Gedung DPRD Kota Medan kembali menjadi ruang belajar yang tidak hanya diisi oleh para pembuat kebijakan, tetapi juga oleh para mahasiswa yang datang dengan rasa ingin tahu—dan mungkin sedikit rasa penasaran tentang bagaimana keputusan besar sebenarnya dirumuskan.
Kali ini, DPRD Kota Medan menerima kunjungan Parliament Tour dari Mahasiswa/i Creative Student Home. Kegiatan tersebut disambut di Ruang Rapat Badan Anggaran DPRD Kota Medan, sebuah ruang yang biasanya penuh dengan pembahasan serius, namun kali ini terasa lebih “ramah” karena dipenuhi semangat belajar, Selasa (10/02/2026).
Acara dibuka oleh Anggota DPRD Kota Medan dari Fraksi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan, Agus Setiawan, S.S., M.H., yang menyambut para mahasiswa dengan suasana hangat. Hadir pula Sekretaris DPRD Kota Medan yang diwakili oleh Kepala Bagian Fasilitasi, Penganggaran, dan Pengawasan Sekretariat DPRD Kota Medan, Syafruddin, S.E., M.M.
Dalam gaya Horatian yang ringan, kegiatan ini seperti “kelas lapangan” yang tidak ada di silabus, tetapi justru sering memberikan pemahaman yang lebih utuh dibandingkan teori di ruang kelas.
Usai sesi pembukaan, para mahasiswa diajak berkeliling mengunjungi Ruang Alat-Alat Kelengkapan DPRD Kota Medan serta Ruang Rapat Paripurna DPRD Kota Medan. Di ruangan inilah, mereka juga berkesempatan mengikuti simulasi jalannya rapat paripurna—sebuah pengalaman yang memberi gambaran langsung tentang bagaimana dinamika rapat berlangsung, lengkap dengan tata tertib, alur pembahasan, hingga proses pengambilan keputusan.
Parliament tour ini pada dasarnya bertujuan untuk memberikan edukasi langsung mengenai tri fungsi dewan, yakni fungsi pembentukan peraturan daerah, fungsi penganggaran, dan fungsi pengawasan. Namun dalam praktiknya, kegiatan ini juga menjadi jembatan kecil antara dunia akademik dan dunia kebijakan.
Di balik suasana yang santai, tersimpan pesan yang cukup serius: bahwa partisipasi publik tidak harus menunggu menjadi pejabat atau anggota dewan. Dengan memahami proses sejak dini, mahasiswa diharapkan dapat mengambil peran yang lebih aktif dalam pembangunan daerah.
Dan seperti kunjungan-kunjungan serupa, parliament tour ini tidak hanya membawa pulang dokumentasi foto, tetapi juga perspektif baru—bahwa di balik setiap keputusan, ada proses panjang yang tidak selalu terlihat dari luar.
Pada akhirnya, mungkin yang paling berharga dari kunjungan ini bukan sekadar melihat ruang rapat atau duduk di kursi paripurna, melainkan memahami bahwa demokrasi bukan hanya tentang siapa yang duduk di dalam gedung, tetapi juga tentang siapa yang mau belajar dan ikut terlibat di dalamnya.(***)






