Pegadaian Ajak Masyarakat Alihkan Investasi ke Emas, Bukan Sekadar Mengejar Untung Sesaat

Pegadaian Ajak Masyarakat Alihkan Investasi ke Emas, Bukan Sekadar Mengejar Untung Sesaat

MEDAN – Ada satu nasihat menarik yang mengemuka dalam Media Gathering Pegadaian (Persero) Kanwil 1 Medan Sumatera Utara dan Aceh: kalau uang hanya dibiarkan mengendap, nilainya bisa pelan-pelan tergerus inflasi. Kalau dibelanjakan seluruhnya, dompet yang lebih dulu menghilang. Maka, emas kembali ditawarkan sebagai salah satu pilihan untuk menjaga nilai kekayaan dalam jangka panjang.

Pesan tersebut menjadi salah satu fokus pembahasan dalam kegiatan Media Gathering yang dihadiri Kepala Pegadaian Kanwil 1 Medan Sumut dan Aceh, Yohanis Wulang didampingi Wawan Triadi, Deputy Operasional Kanwil I Medan, Faozan Wahyu Praptono, Deputy Bisnis Area Medan 1, Heri Susianto  Deputy Bisnis Medan 2 dan pejabat lainnya bersama Pemred dan wartawan, bersama jajaran deputi dan pimpinan unit Pegadaian di Hotel Karibia Medan, Rabu 12 Agustus 2026.

Dalam pertemuan dengan awak media itu, Pegadaian mendorong masyarakat mulai mempertimbangkan pengalihan sebagian investasi ke emas, terutama sejak awal tahun hingga saat ini, apalagi aplikasi Tring semakin familiar di tengah masyarakat dan diawasi ketat dari OJK (Otoritas Jasa Keuangan) secara terus menerus. Fenomena tersebut tidak terlepas dari situasi ekonomi global yang masih dipengaruhi berbagai dinamika geopolitik.

Geopolitik, seperti biasa, memang punya cara sendiri membuat pasar keuangan ikut deg-degan. Ketika ketidakpastian meningkat, emas justru kerap menjadi salah satu instrumen yang dicari karena memiliki karakter sebagai aset penyimpan nilai.

Namun Pegadaian mengingatkan, membeli emas sebaiknya tidak dilakukan dengan pola pikir ingin kaya mendadak. Emas bukan tiket lotre yang dibeli pagi lalu diharapkan memberikan keuntungan besar sore harinya, ujar Wulang yang pernah menjabat Deputy Bisnis Area Semarang.

Investasi emas idealnya disiapkan berdasarkan kemampuan dan sumber penghasilan bulanan. Artinya, masyarakat perlu menentukan alokasi dana secara terukur sehingga investasi tidak mengganggu kebutuhan pokok maupun kondisi keuangan keluarga.

Pegadaian juga mengingatkan agar masyarakat tidak menjadikan emas sebagai instrumen spekulasi jangka pendek. Naik turun harga memang menarik untuk diperhatikan, tetapi investasi emas sebaiknya ditempatkan sebagai strategi jangka panjang.

Dengan kata lain, jangan setiap harga emas naik sedikit langsung merasa menjadi Warren Buffett. Sebaliknya, ketika harga turun, jangan pula buru-buru menganggap dunia investasi sedang kiamat.

Konsep yang ingin dibangun Pegadaian adalah investasi emas sebagai alat menjaga nilai kekayaan, bukan semata-mata mencari keuntungan sesaat.

Emas memiliki karakter yang relatif mudah diuangkan ketika pemilik membutuhkan dana. Karena itu, emas dapat menjadi salah satu instrumen untuk menjaga daya beli sekaligus menghadapi tekanan inflasi dalam jangka panjang.

Sifat emas yang mudah disimpan dan dapat dicairkan juga menjadi alasan instrumen ini tetap menarik. Namun, Pegadaian mengingatkan bahwa emas yang disimpan pada dasarnya merupakan aset pribadi sehingga pengelolaannya tetap membutuhkan disiplin dari pemiliknya.

Di Sumatera Utara sendiri, Pegadaian mencatat perkembangan yang cukup positif. Pertumbuhan emas disebut mencapai sekitar 2,5 ton, menunjukkan semakin besarnya minat masyarakat terhadap emas sebagai bagian dari portofolio investasi.

Sementara untuk 2026, Pegadaian Kanwil 1 Medan Sumut dan Aceh memiliki target pembiayaan sekitar Rp2,3 triliun untuk wilayah Sumatera Utara. Target tersebut tentu bukan sekadar angka yang ditempel di papan kantor, tetapi menjadi bagian dari upaya memperluas akses masyarakat terhadap berbagai produk dan layanan Pegadaian.

Pegadaian juga menegaskan bahwa seluruh produk yang dijalankan, termasuk produk berbasis syariah, mengacu pada ketentuan dan prinsip yang sesuai dengan fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) serta berada dalam pengawasan Dewan Pengawas Syariah.

Hal tersebut menjadi penting karena masyarakat tidak hanya membutuhkan produk investasi yang mudah diakses, tetapi juga kepastian mengenai prinsip dan mekanisme yang digunakan.

Pada akhirnya, pesan Pegadaian cukup sederhana: investasi tidak harus selalu mengejar keuntungan terbesar, tetapi harus mampu menjaga nilai kekayaan dan dilakukan sesuai kemampuan.

Emas pun tidak perlu diperlakukan seperti benda keramat yang setiap hari harus dipandangi grafik harganya. Ia lebih cocok ditempatkan sebagai bagian dari strategi keuangan jangka panjang.

Jadi, jika sejak Januari hingga sekarang masyarakat mulai melirik emas, Pegadaian melihatnya sebagai momentum untuk meningkatkan literasi investasi. Bukan mengajak masyarakat ikut-ikutan membeli emas karena harga sedang ramai dibicarakan, melainkan memahami kapan, berapa banyak, dan untuk tujuan apa emas tersebut dimiliki.

Sebab dalam investasi, yang sering membuat orang rugi bukan hanya harga yang turun. Kadang justru keputusan membeli karena ikut-ikutan dan menjual karena panik yang menjadi masalah.

Dan di situlah emas ingin ditempatkan Pegadaian: bukan sebagai jalan pintas menjadi kaya, tetapi sebagai salah satu cara menjaga kekayaan agar tidak diam-diam dimakan inflasi. Sehingga prinsip ‘menyelesaikan masalah tanpa masalah’, masih terasa di era digitalisasi ini.(***)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *