Medan — Suasana berbeda terasa di Ruang Rapat Badan Musyawarah DPRD Kota Medan saat Dharma Wanita Persatuan Sekretariat DPRD Kota Medan menggelar pertemuan rutin bulan Maret 2026. Bukan sekadar pertemuan biasa, kali ini ada nuansa haru yang ikut hadir di antara agenda yang biasanya tersusun rapi, Selasa (10/03/2026).
Momen tersebut menjadi ajang pelepasan Ketua Dharma Wanita Persatuan Sekretariat DPRD Kota Medan, Rina Muhammad Ali Sipahutar. Sebuah perpisahan yang datang bukan karena berakhirnya kebersamaan, melainkan karena naiknya tanggung jawab ke tempat yang baru.
Seperti diketahui, Sekretaris DPRD Kota Medan telah dilantik dan dikukuhkan sebagai Sekretaris DPRD Provinsi Sumatera Utara oleh Bobby Afif Nasution pada 9 Maret yang lalu. Dan seperti biasanya, setiap perpindahan jabatan membawa serta cerita—dan tentu saja, sedikit rasa kehilangan.
Dalam sambutannya, Ny. Rina Muhammad Ali Sipahutar menyampaikan terima kasih kepada seluruh pengurus dan anggota. Ucapan yang terdengar sederhana, namun sarat makna—karena di balik kata “terima kasih” biasanya tersimpan banyak kenangan yang tidak sempat disebut satu per satu.
Dalam nuansa Horatian yang santai, suasana pertemuan terasa hangat dan penuh keakraban. Tidak ada yang terlalu formal, tidak ada yang terlalu kaku—hanya kebersamaan yang perlahan berubah menjadi kenangan.
Ia juga berharap agar Dharma Wanita Persatuan Sekretariat DPRD Kota Medan ke depan semakin maju dan solid. Sebuah harapan yang hampir selalu hadir dalam setiap perpisahan—karena setiap akhir memang sering menjadi awal bagi sesuatu yang baru.
Pertemuan ini menjadi pengingat bahwa organisasi bukan hanya soal struktur dan program kerja, tetapi juga tentang hubungan antar anggotanya. Tentang bagaimana kebersamaan dibangun, dijaga, dan pada akhirnya—dilepas dengan cara yang baik.
Pada akhirnya, perpisahan ini bukan sekadar seremoni, melainkan bagian dari perjalanan. Karena dalam setiap langkah ke depan, selalu ada jejak yang ditinggalkan di belakang.
Dan jika kenangan yang tertinggal itu cukup hangat untuk dikenang, maka pertemuan ini bukan hanya berakhir—tetapi juga terus hidup dalam cerita yang dibawa masing-masing anggotanya.(***)






