Rapat Dulu, Nasionalisme Kemudian: DPRD Medan Mulai dari Meja Rapat

Di dunia birokrasi, ada satu pepatah tak tertulis: sebelum sebuah kegiatan berjalan, rapatnya harus lebih dulu matang. Dan itulah yang dilakukan Sekretariat DPRD Kota Medan. Bukan karena gemar berkumpul di ruang rapat, tetapi karena urusan ideologi dan wawasan kebangsaan memang tidak bisa disiapkan ala kadarnya.

Rabu, 7 Mei 2026, Sekretariat DPRD Kota Medan menggelar Rapat Persiapan Pelaksanaan Kegiatan Pembinaan Ideologi dan Wawasan Kebangsaan bagi Pimpinan dan Anggota DPRD Kota Medan Tahun Anggaran 2026. Pertemuan yang berlangsung di Ruang Rapat Badan Musyawarah DPRD Kota Medan itu dipimpin Kepala Bagian Persidangan dan Perundang-Undangan, Andres Willy Simanjuntak, S.H., M.H., mewakili Plt. Sekretaris DPRD Kota Medan, serta dihadiri tim teknis dan tim pendukung kegiatan.

Kalau mendengar kata “rapat persiapan”, mungkin sebagian orang langsung membayangkan tumpukan map, daftar hadir, dan kopi yang mulai dingin. Padahal di balik itu, ada pekerjaan yang cukup penting: memastikan semua orang memiliki pemahaman yang sama agar pelaksanaan kegiatan nanti tidak berjalan dengan gaya “masing-masing punya versi sendiri”.

Pembinaan ideologi dan wawasan kebangsaan tentu bukan sekadar agenda seremonial. Materi yang disampaikan harus tersusun baik, jadwal harus rapi, administrasi harus lengkap, dan setiap kemungkinan kendala sudah dipikirkan sebelum acara benar-benar dimulai. Ibarat membangun rumah, fondasinya memang tidak terlihat, tetapi justru menentukan kokoh atau tidaknya bangunan.

Dalam rapat tersebut, berbagai aspek teknis dibahas, mulai dari prosedur administrasi, pembagian tugas, hingga identifikasi risiko yang mungkin muncul selama pelaksanaan kegiatan. Tujuannya sederhana: ketika kegiatan berlangsung nanti, yang terlihat adalah kelancarannya, bukan kepanikan panitianya.

Sedikit satire tentu boleh. Kadang masyarakat menganggap rapat pemerintah itu identik dengan rapat untuk membahas rapat berikutnya. Namun, jika hasil akhirnya benar-benar membuat pelaksanaan lebih efektif dan terhindar dari kekacauan, rapat seperti ini justru menjadi investasi waktu yang masuk akal.

Apalagi tema yang dipersiapkan adalah Penyebarluasan Ideologi Pancasila dan Wawasan Kebangsaan. Nilai-nilai kebangsaan tidak cukup hanya diucapkan saat upacara atau dipasang di spanduk. Ia perlu dipahami, disampaikan dengan baik, dan dicontohkan dalam praktik pelayanan kepada masyarakat.

Karena itu, menyamakan persepsi di internal penyelenggara menjadi langkah awal yang penting. Sebab akan sulit mengajak orang lain memahami suatu nilai jika penyelenggaranya sendiri belum memiliki irama yang sama.

Pada akhirnya, publik tentu berharap kegiatan seperti ini tidak berhenti sebagai agenda tahunan yang selesai setelah dokumentasi dibagikan. Yang lebih penting adalah bagaimana semangat kebangsaan benar-benar tercermin dalam sikap, kebijakan, dan pelayanan kepada warga Kota Medan.

Jadi, kalau hari itu yang terlihat hanyalah sebuah rapat persiapan, jangan buru-buru menganggapnya biasa saja. Sebab terkadang, nasionalisme memang dimulai dari hal yang sederhana: semua orang duduk di meja yang sama, memahami tujuan yang sama, lalu bekerja dengan arah yang sama.(***)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *