Rico Waas: Purnatugas Bukan Akhir Pengabdian, Tapi Membuka Lembaran Baru
MEDAN – Pensiun dari status aparatur sipil negara (ASN) bukan berarti pensiun dari kehidupan. Justru, masa purnatugas dapat menjadi kesempatan membuka lembaran baru untuk tetap berkarya, menikmati hidup, dan memberi manfaat bagi keluarga maupun masyarakat.
Pesan itu disampaikan Wali Kota Medan Rico Tri Putra Bayu Waas saat membuka kegiatan Pembekalan PNS yang Akan Memasuki Purna Tugas Tahun 2025 di Hotel LePolonia, Rabu (7/10/2026).
Rico mengingatkan para ASN yang akan memasuki masa purnatugas agar tidak menganggap berakhirnya masa kerja sebagai akhir dari pengabdian dan kebermaknaan diri.
“Pensiun atau purna tugas bukan berarti kita tidak lagi berarti, tidak lagi dipedulikan, atau tidak lagi memiliki manfaat. Sebagai manusia, kita ini sangat berharga,” kata Rico Waas.
Menurutnya, para calon pensiunan justru memiliki modal yang tidak dimiliki semua orang, yakni pengalaman puluhan tahun menjalani pekerjaan sekaligus kehidupan.
Pengalaman tersebut, kata Rico, dapat menjadi bekal untuk memasuki berbagai aktivitas baru sesuai minat dan kemampuan masing-masing.
Mulai dari berkebun, beternak, mengembangkan usaha kuliner, membudidayakan tanaman hias hingga memberikan les privat. Bahkan, pengalaman dan pengetahuan yang dimiliki para pensiunan juga dapat dibagikan melalui kegiatan edukasi atau dikembangkan menjadi konten kreator.
“Pengalaman Bapak dan Ibu sangat luar biasa. Pahit, manis, asin yang sudah dirasakan dalam hidup adalah pengalaman yang tidak ternilai. Bekal Bapak dan Ibu sebenarnya sudah sangat lengkap,” ujarnya.
Dengan bekal tersebut, masa pensiun seharusnya tidak menjadi fase untuk sekadar duduk menunggu waktu. Justru, masa inilah kesempatan untuk memilih kegiatan yang selama masih aktif bekerja mungkin belum sempat dilakukan.
Jangan Terjebak Cerita Masa Lalu
Rico juga mengingatkan para calon pensiunan agar tidak terjebak post-power syndrome atau sindrom pasca-kekuasaan.
Salah satu tandanya, menurut Rico, adalah terlalu sering membicarakan masa lalu, terutama pengalaman ketika seseorang pernah menduduki jabatan tertentu.
“Kalau kita terus bicara tentang dulu, lama-lama kita akan tersangkut di titik tersebut. Kita tidak maju-maju. Karena bicara dulu itu mundur. Maka, marilah kita lebih banyak membicarakan sekarang dan masa depan,” katanya.
Pesan tersebut cukup sederhana, tetapi penting. Sebab, setelah puluhan tahun terbiasa dengan rutinitas kantor, rapat, disposisi, surat masuk dan berbagai urusan birokrasi, tiba-tiba semua itu berhenti.
Namun, yang berhenti seharusnya hanya rutinitas pekerjaan sebagai ASN. Bukan semangat untuk menjalani kehidupan.
Rico menilai masa purnatugas justru dapat menjadi awal kehidupan yang lebih fleksibel. Para pensiunan dapat mengisi waktu dengan aktivitas yang menyenangkan, termasuk memperbanyak waktu bersama keluarga dan cucu.
“Purnatugas adalah membuka lembaran baru. Lembaran baru itu dimulai dengan penulisannya. Buatlah hal-hal yang menyenangkan,” ucapnya.
Kegiatan tersebut diselenggarakan Pemerintah Kota Medan melalui BKDPSDM sebagai bagian dari persiapan bagi ASN yang akan memasuki masa purnatugas.
Tetap Dibutuhkan Masyarakat
Rico berharap para ASN yang memasuki masa purnatugas tetap aktif dan memberikan kontribusi bagi masyarakat dan Kota Medan.
Menurutnya, pengalaman sebagai abdi negara dan abdi masyarakat tetap memiliki nilai penting meskipun status sebagai ASN telah berakhir.
“Bapak dan Ibu semuanya masih dibutuhkan. Setiap masyarakat pasti saling bisa membantu satu dengan lainnya. Medan untuk Semua, Semua untuk Medan adalah untuk kita semuanya,” katanya.
Ia juga mengajak para calon pensiunan mempersiapkan masa purnatugas dengan optimisme, menjaga kesehatan dan memberikan perhatian lebih kepada keluarga.
Rico menegaskan, masa purnatugas semestinya menjadi fase untuk menikmati hasil perjalanan panjang sekaligus tetap memberikan manfaat bagi lingkungan sekitar.
“Buatlah yang terbaik untuk Kota Medan, buatlah yang terbaik untuk keluarga, dan buatlah yang terbaik untuk diri kita sendiri. Selamat memasuki persiapan purnatugas. Berbahagialah, karena Bapak dan Ibu akan memiliki banyak waktu untuk diri sendiri dan keluarga,” pungkasnya.
Pada akhirnya, pensiun memang mengakhiri kewajiban datang ke kantor setiap pagi. Tetapi bukan berarti mengakhiri kesempatan untuk berkarya.
Kalau dulu hidup diatur oleh jadwal apel, absensi dan rapat, setelah purnatugas mungkin waktunya diganti dengan berkebun, bermain bersama cucu, membuka usaha kecil, atau sekadar menikmati kopi tanpa harus khawatir ada disposisi yang menunggu.
Sebab, purnatugas bukan tanda bahwa kehidupan selesai. Ia hanya tanda bahwa satu bab telah ditutup dan halaman berikutnya siap ditulis.(***)






