RW 14 Pekayon Jaya Diproyeksikan Jadi Kampung Pasundan, Wali Kota Bekasi Puji Gotong Royong Warga
BEKASI – Kampung tematik biasanya identik dengan satu hal: ada yang harus dibangun pemerintah. Namun, RW 14 Kelurahan Pekayon Jaya, Kecamatan Bekasi Selatan, justru menunjukkan cerita yang sedikit berbeda. Warganya sudah lebih dulu bergerak, pemerintah tinggal membantu agar potensinya semakin “naik kelas”.
RW 14 kini diproyeksikan menjadi salah satu Kampung Pasundan di Kota Bekasi. Wali Kota Bekasi Tri Adhianto melihat langsung potensi lingkungan tersebut, termasuk kreativitas warga dalam menghadirkan suasana bernuansa budaya Sunda.
Menurutnya, lingkungan RW 14 sudah memiliki karakter kesundaan yang cukup kuat. Karena itu, pengembangannya tidak perlu dimulai dari nol, melainkan tinggal diperkuat melalui sejumlah fasilitas pendukung.
“RW 14 yang ada di Pekayon Jaya ini kita coba jadikan sebuah kampung tematik. Sebetulnya tinggal di-upgrade lagi karena bangunannya sudah mencirikan suasana kesundaan atau Pasundan. Nanti kita tambahkan beberapa fasilitas pendukung,” ujar Wali Kota Bekasi Tri Adhianto, Rabu 30 September 2026.
Salah satu perhatian pemerintah adalah akses menuju kawasan tersebut. Wali Kota Bekasi berkomitmen melakukan perbaikan jalan masuk agar masyarakat yang datang dapat menikmati suasana kampung dengan lebih nyaman.
“Saya sudah janji, dari depan nanti kita coba aspal, sehingga warga masyarakat yang hadir bisa melihat dan merasakan suasana Kampung Pasundan ini,” katanya.
Lima TOGA per Rumah
Menariknya, konsep Kampung Pasundan di RW 14 tidak berhenti pada ornamen budaya atau bangunan bernuansa Sunda. Lingkungan sehat juga menjadi bagian dari identitas kampung tersebut.
Warga bahkan menerapkan kebijakan setiap rumah tangga wajib menanam minimal lima tanaman obat keluarga atau TOGA.
“Di sini juga sudah diwajibkan satu rumah tangga harus menanam lima tanaman TOGA. Saya kira ini sesuatu yang menarik dan menjadi contoh,” ungkapnya.
Kebijakan tersebut membuat lingkungan RW 14 tidak hanya terlihat lebih hijau, tetapi juga memberikan manfaat langsung bagi warga.
Wali Kota Bekasi melihat langsung sejumlah rumah yang memanfaatkan lahan terbatas untuk bercocok tanam. Bahkan, ruang di atas rumah atau rooftop pun disulap menjadi lahan penghijauan.
Kalau dulu rooftop identik dengan tempat menjemur pakaian atau sekadar menikmati angin sore, di RW 14 tempat tersebut bisa berubah fungsi menjadi kebun mini. Lumayan, atap rumah tidak cuma panas-panasan.
Cabai Bertukar Terong
Ada satu hal lain yang membuat Wali Kota Bekasi memberi apresiasi khusus, yakni semangat berbagi antarwarga.
Setiap rumah tidak menanam jenis tanaman yang sama. Ada yang memilih terong, ada pula yang menanam cabai. Ketika panen tiba, hasilnya dibagikan dan ditukar dengan tanaman milik tetangga.
“Ada yang menanam terong, ada yang menanam cabai. Ketika cabainya berbuah dibagikan kepada yang menanam terong, begitu juga terong yang berbuah dibagikan kepada yang menanam cabai. Ini menunjukkan kehidupan gotong royong, saling peduli, dan saling empati,” jelasnya.
Di tengah kehidupan perkotaan yang kadang membuat tetangga hanya saling mengenal dari grup WhatsApp, pola kehidupan seperti ini tentu menjadi sesuatu yang menarik.
Wali Kota Bekasi menilai semangat tersebut mencerminkan karakter Kota Bekasi sebagai kota yang harmonis di tengah keberagaman masyarakat.
“Ini mudah-mudahan bisa mencirikan khas Kota Bekasi, kota yang harmoni di antara seluruh agama, suku, dan bangsa. Walaupun masyarakatnya beragam, semangat kebersamaan tetap terjaga,” tuturnya.
Dapat Dukungan Gubernur Jabar
Pengembangan Kampung Pasundan tersebut juga mendapat dukungan dari Pemerintah Provinsi Jawa Barat.
Wali Kota Bekasi menyampaikan bahwa dirinya telah berkomunikasi dengan Gubernur Jawa Barat KDM terkait rencana penguatan konsep budaya Sunda di RW 14.
Dalam sebuah video singkat saat melakukan peninjauan, Wali Kota Bekasi menyampaikan rencana pengembangan Kampung Pasundan sekaligus meminta dukungan untuk memperkuat unsur budaya Sunda di kawasan tersebut.
Respons pun datang. Gubernur Jawa Barat menyatakan dukungannya dengan mengirimkan material bambu yang akan digunakan untuk mendukung konsep Kampung Pasundan di RW 14 Pekayon Jaya.
Bambu tersebut nantinya diharapkan dapat memperkuat karakter visual kampung sehingga nuansa Pasundan tidak sekadar menjadi nama, tetapi benar-benar terasa ketika masyarakat memasuki kawasan tersebut.
Pemerintah Membantu, Warga Jadi Motor
Meski pemerintah menyiapkan dukungan infrastruktur dan fasilitas, Wali Kota Bekasi menegaskan keberhasilan Kampung Pasundan tetap sangat bergantung pada keterlibatan warga.
Menurutnya, pemerintah tidak mungkin bekerja sendirian untuk membangun sebuah kampung tematik. Justru kekuatan utama kampung berada pada masyarakat yang tinggal dan beraktivitas di dalamnya.
“Yang paling penting adalah kerja sama masyarakat. Karena Kota Bekasi merupakan bagian dari Provinsi Jawa Barat, sehingga semangat Pasundan juga menjadi bagian dari identitas kita. Dengan kolaborasi bersama, kita bisa menciptakan lingkungan yang memiliki karakter, nyaman, dan membanggakan,” pungkasnya.
Jika konsep tersebut konsisten dikembangkan, RW 14 Pekayon Jaya bukan hanya berpotensi menjadi Kampung Pasundan dengan ornamen bambu dan nuansa Sunda.
Lebih dari itu, kampung tersebut bisa menjadi contoh bahwa kampung tematik tidak selalu harus dimulai dengan proyek besar. Kadang, lima tanaman TOGA, kebun rooftop, sepiring hasil panen, dan tetangga yang mau berbagi sudah cukup menjadi modal awal.
Sebab, identitas sebuah kampung pada akhirnya bukan hanya soal apa yang dibangun di sana, tetapi juga bagaimana warganya hidup bersama.(***)






