Sebar Hoax, Dua Warga Blitar Di Periksa Polisi

Matabangsa28 Dilihat

Matabangsa.comBlitar: Dianggap menyebarkan hoax dan meresahkan, dua warga Blitar berinisial IW (29) dan AB (19), diperiksa penyidik Satuan Reserse Kriminal Kepolisian Resor Blitar Kota.

Berawal dari pembicaraan sebuah grup WhatsApp komunitas sepeda motor, Supra Wafe Blitar, IW dan AB berdialog tentang adanya peristiwa pembacokan disertai kekerasan di utara Kompleks Makam Presiden Soekarno Blitar, padahal sebenarnya peristiwa itu tak pernah terjadi dan hanya iseng belaka.

Namun percakapan kedua orang yang tidak saling kenal disertai dengan unggahan tangkapan layar video seorang perempuan yang tergeletak di pinggir jalan dengan luka-luka dan penuh darah tersebut akhirnya dengan cepat menyebar ke berbagai platform media sosial dan viral di dunia maya.

AKP Momon Suwito Pratomo Kasatreskrim Polres Blitar Kota mengatakan, pihaknya melakukan pelacakan sumber informasi hoaks tersebut dan berhasil mengidentifikasi dua orang pelaku, IW dan AB.

“Kami panggil dan lakukan pemeriksaan terhadap keduanya hari ini karena informasi yang berasal dari percakapan keduanya di grup WhatsApp itu telah menyebar dan meresahkan,” terang Momon, Rabu (20/04/22).

Momon mengatakan, dalam sebuah percakapan di grup WhatsApp pada Senin (18/04/22) malam, IW menginformasikan baru saja terjadi pembacokan dengan korban seorang perempuan dan dilarikan ke rumah sakit.

Informasi palsu yang disampaikan IW itu ditanggapi oleh AB yang seolah-olah juga telah mengetahui kejadiannya. Bahkan AB sempat mengunggah gambar tangkapan layar dari sebuah video yang memperlihatkan seorang perempuan tergeletak di pinggir jalan dengan bersimbah darah. Dan AB menyebut perempuan pada tangkapan layar video itu sebagai korban pembacokan di utara Makam Bung Karno.

Momon menambahkan, Percakapan keduanya segera berakhir. Namun, keesokan harinya pada Selasa (19/04/22), tangkapan layar dari dialog di grup WhatsApp itu menyebar ke berbagai platform media sosial termasuk sejumlah grup komunitas warga Blitar di Facebook.

Tangkapan layar dialog di grup WhatsApp antara IW dan AB itu kemudian menyebar menjadi informasi liar dengan dibumbui istilah klitih seperti yang terjadi di Yogya. Dan Dampaknya, warga Kota dan Kabupaten Blitar kemudian menganggap aksi kekerasan yang disebut dengan istilah klitih di Yogyakarta telah menyebar ke Blitar.

“Tim patroli cyber Polresta Blitar menangkap adanya berita meresahkan itu di Facebook. Setelah kami lacak ternyata berasal dari unggahan screenshot percakapan di grup WhatsApp,” jelas Momon.

Dihadapan polisi IW dan AB yang dihadirkan, mengaku hanya iseng mengarang cerita adanya tindak kekerasan di utara Makam Bung Karno. Keduanya mengaku tidak menyangka percakapan mereka ramai dibicarakan warganet di berbagai platform media sosial dan meresahkan.

“Saya hanya iseng dan menakut-nakuti teman di grup biar tidak keluar malam,” kata IW, warga Kecamatan Sutojayan, Kabupaten Blitar.

Sementara AB yang warga Wlingi Kabupaten Blitar ini mengaku mengunggah tangkapan layar hoax berisi gambar perempuan bersimbah darah berasal dari video seorang korban kecelakaan lalu lintas yang telah lama terjadi.(c-git)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *