Sumut Lawan Kabut Asap dengan Modifikasi Cuaca, Hujan Diharapkan Turun: Jangan Sampai Asap Lebih Cepat Datang daripada Solusi
DELISERDANG — Ketika kabut asap mulai mengganggu kesehatan masyarakat, mengurangi jarak pandang, hingga mengacaukan jadwal penerbangan, Pemerintah Provinsi Sumatera Utara (Pemprov Sumut) memilih mengerahkan teknologi modifikasi cuaca untuk memancing hujan. Pesawat Cessna yang dijuluki Capung diterbangkan dengan membawa natrium klorida (NaCl) guna menyemai awan yang memenuhi persyaratan atmosfer untuk menghasilkan hujan.
Wakil Gubernur Sumut Surya melepas penerbangan operasi modifikasi cuaca tersebut di Terminal Kargo Bandara Internasional Kualanamu, Kabupaten Deliserdang, Jumat (16/10/2026) sore. Operasi itu dilakukan atas instruksi Gubernur Sumut Muhammad Bobby Afif Nasution.
Langkah ini menjadi salah satu upaya darurat untuk mengurangi dampak kabut asap yang dikaitkan dengan kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Namun, di tengah harapan agar hujan segera turun, ada satu persoalan mendasar yang tidak boleh luput dari perhatian: modifikasi cuaca dapat membantu penanganan dampak asap, tetapi tidak menggantikan kebutuhan untuk mengendalikan sumber kebakaran.
Sebab, hujan boleh diharapkan datang dari langit, tetapi penanganan kebakaran tetap membutuhkan tindakan nyata di darat.
Pesawat Mencari Awan, Masyarakat Menunggu Udara Bersih
Sebelum melepas penerbangan, Surya meninjau proses pemuatan natrium klorida ke dalam pesawat. Bahan tersebut akan digunakan dalam penyemaian awan yang memenuhi kondisi tertentu agar peluang terbentuknya hujan meningkat.
Wilayah Medan, Binjai, Deliserdang, dan sekitarnya menjadi sasaran awal operasi. Setelah itu, penerbangan direncanakan menjangkau wilayah lain sesuai kebutuhan dan kondisi atmosfer.
“Jadi sesuai perintah Pak Gubernur, bahwa lokasi pilihannya pertama adalah wilayah Medan-Binjai-Deliserdang dan sekitarnya. Selanjutnya akan ke daerah lain,” ujar Surya.
Namun, operasi ini tidak sesederhana menerbangkan pesawat, menaburkan bahan, lalu menunggu hujan turun. Keberhasilan modifikasi cuaca bergantung pada keberadaan awan yang sesuai, kandungan air, serta kondisi atmosfer lainnya.
Surya mengakui bahwa pesawat harus mencari awan yang memenuhi persyaratan sebelum melakukan penyemaian.
“Awalnya memang kita berharap penerbangan dan penyebaran bubuk Natrium Chlorida (NaCl) ini di wilayah Medan dan sekitarnya. Tetapi ternyata tidak semudah itu, karena pesawat harus mencari keberadaan awan sebelum menaburkan bubuk NaCl,” jelasnya.
Di sinilah batas antara harapan dan kenyataan perlu dipahami. Modifikasi cuaca bukan tombol ajaib yang bisa menurunkan hujan kapan pun pemerintah menginginkannya. Teknologi tersebut bekerja dengan memanfaatkan kondisi atmosfer yang tersedia, sehingga hasilnya tidak dapat dijamin hanya berdasarkan jumlah penerbangan.
Dua Kali Sehari, Tiga Hari: Efektivitasnya Perlu Dibuktikan
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumut Tuahta Saragih mengatakan operasi modifikasi cuaca direncanakan berlangsung selama tiga hari. Setiap penerbangan membawa sekitar satu ton NaCl dengan durasi kurang lebih dua jam.
Penerbangan dijadwalkan dilakukan dua kali sehari. Pemerintah berharap penyemaian awan dapat memicu hujan, membantu mengurangi kabut asap, dan memperbaiki kualitas udara di wilayah terdampak.
Surya juga berharap operasi tersebut membuahkan hasil.
“Sesuai perintah Pak Gubernur, ini kita terbangkan pesawat untuk menebar bubuk NaCl sebanyak dua kali dalam satu hari. Mudah-mudahan langkah ini efektif menghilangkan kabut asap akibat karhutla,” sebutnya.
Harapan itu wajar. Masyarakat yang terpapar asap membutuhkan langkah cepat, terlebih ketika jarak pandang menurun dan aktivitas sehari-hari terganggu.
Namun, efektivitas operasi tidak cukup diukur dari berapa kali pesawat mengudara atau berapa ton bahan yang dibawa. Pemerintah perlu menyampaikan hasil yang dapat dievaluasi, seperti perkembangan curah hujan, kondisi kualitas udara, lokasi penyemaian, dan perubahan dampak kabut asap.
Jika hujan turun, perlu dilihat apakah curah hujan tersebut benar-benar membantu mengurangi kebakaran dan asap. Jika hasilnya terbatas karena kondisi atmosfer tidak mendukung, masyarakat juga berhak mendapatkan penjelasan secara terbuka.
Dalam penanganan bencana, keterbukaan mengenai hasil sama pentingnya dengan pengumuman mengenai upaya.
Kabut Asap Mengganggu Penerbangan, Ancaman Kesehatan Tak Boleh Diabaikan
Menurut Surya, kabut asap tidak hanya berdampak terhadap kesehatan masyarakat, tetapi juga mengurangi jarak pandang di Bandara Internasional Kualanamu. Ia menyebut sejumlah jadwal penerbangan dalam dua hari terakhir terpaksa ditunda akibat keterbatasan jarak pandang.
Gangguan tersebut memperlihatkan bahwa dampak karhutla dapat meluas melampaui lokasi kebakaran. Asap dapat menghambat mobilitas, mengganggu kegiatan ekonomi, dan meningkatkan risiko paparan polusi bagi masyarakat.
Karena itu, sembari operasi modifikasi cuaca berlangsung, masyarakat tetap membutuhkan informasi kualitas udara yang mudah diakses serta imbauan kesehatan sesuai kondisi setempat. Kelompok rentan, termasuk anak-anak, lansia, dan orang dengan gangguan pernapasan, perlu mendapat perhatian khusus ketika kualitas udara memburuk.
Pemerintah juga perlu memastikan bahwa penanganan tidak hanya terpusat pada wilayah perkotaan, tetapi menjangkau daerah yang menjadi sumber kebakaran maupun wilayah lain yang terdampak asap.
Sebab, kabut asap tidak mengenal batas administrasi. Ia dapat bergerak mengikuti kondisi angin dan menyelimuti wilayah yang jauh dari titik api.
Hujan Bukan Pengganti Penegakan Hukum
Modifikasi cuaca dapat menjadi bagian dari penanganan darurat, tetapi akar persoalan karhutla tetap harus ditangani. Titik api perlu dipantau, pemadaman harus dilakukan sesuai kebutuhan, dan penyebab kebakaran harus ditelusuri oleh pihak berwenang.
Jika ditemukan unsur kesengajaan atau pelanggaran hukum, proses penegakan hukum harus berjalan berdasarkan bukti dan ketentuan yang berlaku. Pencegahan juga membutuhkan pengawasan lahan, kesiapsiagaan petugas, serta koordinasi antarlembaga.
Di sinilah satire kerasnya: ketika asap sudah menyelimuti permukiman dan mengganggu penerbangan, pemerintah berupaya mencari awan untuk menurunkan hujan. Namun, upaya mencari hujan tidak boleh membuat pencarian sumber api justru kehilangan prioritas.
Jangan sampai seluruh harapan digantungkan pada awan, sementara pengendalian titik api dan pencegahan kebakaran tidak memperoleh perhatian yang sama seriusnya.
Pemerintah tentu tidak dapat mengendalikan cuaca sesuka hati. Akan tetapi, pemerintah tetap memiliki ruang untuk memperkuat pencegahan, mempercepat respons pemadaman, melindungi masyarakat, dan memastikan setiap dugaan pelanggaran ditangani sesuai hukum.
Publik Menunggu Hasil, Bukan Sekadar Kepulan Harapan
Operasi modifikasi cuaca yang dijadwalkan berlangsung tiga hari ini menjadi salah satu ikhtiar Pemprov Sumut menghadapi kabut asap. Hasilnya akan sangat bergantung pada kondisi atmosfer dan pelaksanaan teknis di lapangan.
Karena itu, masyarakat perlu memperoleh pembaruan mengenai hasil penerbangan, perkembangan hujan, kualitas udara, dan penanganan titik api. Informasi tersebut penting agar publik dapat menilai efektivitas langkah pemerintah sekaligus mengambil tindakan pencegahan untuk melindungi kesehatan.
Pada akhirnya, keberhasilan penanganan kabut asap bukan ditentukan oleh seberapa sering pesawat terbang, seberapa banyak NaCl dibawa, atau seberapa besar harapan yang disampaikan pejabat.
Keberhasilan harus terlihat dari berkurangnya titik api, membaiknya kualitas udara, menurunnya risiko kesehatan, dan pulihnya aktivitas masyarakat.
Hujan memang diharapkan turun dari langit. Namun, tanggung jawab mengatasi karhutla tidak boleh ikut digantungkan pada cuaca.
Sebab, masyarakat tidak hanya membutuhkan langit yang kembali cerah, tetapi juga jaminan bahwa ketika musim kering datang lagi, mereka tidak harus kembali menghirup asap sambil menunggu hujan menjadi penyelamat.(***)






