Medan — Dalam semangat perayaan Hari Raya Nyepi, Pimpinan dan Anggota DPRD Kota Medan menyampaikan ucapan selamat kepada umat Hindu yang merayakan. Sebuah momen yang identik dengan keheningan—sesuatu yang terdengar sederhana, namun justru terasa langka di tengah hiruk-pikuk aktivitas sehari-hari, Rabu (18/03/2026).
Ketua DPRD Kota Medan, Wong Chun Sen, bersama seluruh jajaran pimpinan dan anggota dewan, mengajak masyarakat untuk memaknai Nyepi sebagai waktu untuk merenung dan menata kembali diri. Ajakan yang terdengar tenang—dan mungkin juga diam-diam diharapkan bisa menular ke suasana kerja yang biasanya cukup dinamis.
“Selamat Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1948. Semoga keheningan Nyepi membawa ketenangan dan kebijaksanaan dalam kehidupan kita sehari-hari,” demikian pesan yang disampaikan, dengan harapan bahwa hening tidak hanya terjadi satu hari, tetapi juga menyisakan dampak setelahnya.
Dalam nuansa Horatian yang santai, Nyepi menghadirkan ironi kecil yang menyenangkan: di saat semua berhenti sejenak, justru banyak hal menjadi lebih jelas. Tidak ada suara bising, tidak ada aktivitas berlebihan—hanya ruang untuk berpikir, sesuatu yang kadang sulit ditemukan di tengah jadwal yang padat.
Ucapan dari DPRD ini menjadi bagian dari tradisi kebersamaan dalam keberagaman. Bahwa di tengah perbedaan, selalu ada ruang untuk saling menghormati dan memahami—meski caranya berbeda, tujuannya tetap sama: hidup yang lebih baik.
Namun tentu saja, setelah Nyepi berlalu, aktivitas kembali berjalan seperti biasa. Rapat kembali digelar, agenda kembali disusun, dan dinamika kembali hidup. Tinggal satu pertanyaan kecil: apakah ketenangan yang sempat dirasakan ikut terbawa, atau hanya singgah sebentar seperti libur sehari?
Pada akhirnya, ucapan ini bukan sekadar formalitas, tetapi juga pengingat ringan—bahwa di tengah kesibukan, sesekali berhenti bukanlah kemunduran, melainkan cara lain untuk melangkah lebih bijak ke depan.






