matabangsa.com – Medan: Berdasarkan laporan dari Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional pada tahun 2023, jumlah timbulan sampah di Indonesia mencapai 38,4 juta ton per tahun dan terdapat 14,7 juta ton sampah yang tidak terkelola dengan baik per tahunnya.
Dari data tersebut, dapat dilihat bahwa timbulan sampah yang semakin meningkat sangat mengkhawatirkan bagi keberlangsungan hidup manusia di masa depan. Timbulan sampah yang memuncak juga dapat memberikan dampak yang cukup signifikan terhadap perubahan iklim di berbagai wilayah. Mulai dari pemanasan global, naiknya permukaan air laut, dan tenggelamnya daerah pesisir pantai merupakan dampak yang dapat dirasakan oleh manusia jika dilihat dari segi ilmiah.
Foto: Yuli Efriani saat melakukan kegiatan pemilahan sampah.(Mulkan Nasution)
Namun, pemerintah telah melakukan berbagai upaya untuk mengurangi timbulan sampah, seperti melakukan pelatihan, membuat peraturan, mengadakan kampanye dan workshop, serta menetapkan target pengelolaan sampah. Upaya-upaya tersebut masih belum cukup untuk mengurangi sampah secara nasional. Diperlukan adanya campur tangan pihak ketiga untuk memberikan penyadaran kepada masyarakat agar dapat mengelola sampah yang mereka hasilkan secara mandiri.
Munculnya berbagai organisasi atau komunitas yang bergerak di bidang pelestarian lingkungan memungkinkan pemerintah untuk dapat menjangkau masyarakat secara luas, bahkan hingga ke daerah-daerah yang sulit dijangkau. Selain itu, adanya komunitas yang fokus pada edukasi pengelolaan sampah dapat memberikan manfaat yang luar biasa bagi masyarakat, seperti penyadaran akan bahaya sampah, edukasi pemilahan sampah yang tepat, bahkan nilai dari sampah itu sendiri.
Dalam pengelolaan sampah, ada metode-metode yang perlu diperhatikan oleh masyarakat agar sampah yang dikelola tidak hanya menjadi sampah biasa. Yuli Efriani, alumnus Jurusan Teknik Lingkungan Universitas Sumatera Utara (USU) dan East West Center, Hawaii, Amerika Serikat membagikan teknik pengelolaan sampah sederhana yang dapat dilakukan di rumah dengan baik. Sebagai pendiri komunitas yang fokus pada pengelolaan sampah pesisir, Seabolga, ia juga merupakan aktivis lingkungan yang aktif mengedukasi masyarakat dalam proses pemilahan sampah. Berikut adalah tahapan-tahapan pengolahannya:
1. Mulailah dengan Mengenali Jenis Sampah
Sebelum melakukan pengelolaan, Anda harus mengenali jenis-jenis sampah terlebih dahulu karena ada berbagai macam jenis sampah. Pertama, Anda harus memilah sampah kering, sampah basah, dan sampah B3 (Bahan Berbahaya dan Beracun). Sampah kering seperti plastik sekali pakai, styrofoam, kayu, pakaian. Sampah basah seperti kulit buah, sayuran, tulang, dan nasi. Sampah B3 seperti popok, baterai, pembalut, dan lain-lain. Ketiganya harus dipilah terlebih dahulu, dikenali jenisnya, dan tidak dicampur menjadi satu.
2. Pilah dan Pisahkan Berdasarkan Jenisnya
Langkah selanjutnya adalah memilah atau memisahkan sampah. Ketika Anda membeli makanan, setelah selesai makan, pasti ada sampah seperti tulang, kertas, dan bungkus plastik. Maka cara yang tepat untuk mengelola sampah adalah dengan segera memisahkan sampah tersebut, karena dengan memisahkannya kita bisa mendaur ulangnya. Dengan begitu, kita bisa membantu proses daur ulang dan menjaga nilai dari sampah tersebut. Setelah dipilah, sampah kemudian dipisahkan menjadi sampah yang mudah membusuk, tidak mudah membusuk, dan sampah berbahaya.
3. Mengolah atau Mengirimnya ke Pihak Ketiga
Di rumah, kita bisa mengolah sampah seperti sisa makanan, buah-buahan, sayuran dan lainnya untuk dijadikan pupuk alami atau kompos dengan cara menggali lubang di halaman belakang rumah lalu menimbunnya atau menggunakan kantong kompos. Sampah anorganik dapat didaur ulang menjadi vas bunga, tas, dan kerajinan tangan lainnya. Jika Anda tidak punya waktu, Anda bisa langsung mengirimkan sampah Anda ke peternakan belatung untuk diberi makan, atau Anda juga bisa memberikannya ke pihak ketiga yang mampu mengolah sampah dengan baik, termasuk limbah B3.
Melalui tips yang dibagikan oleh Yuli, masyarakat diharapkan dapat lebih sadar untuk mengelola sampah di rumah secara mandiri. Tentunya dengan tips tersebut, mulai dari ayah, ibu, hingga anak-anak dapat menerapkan cara pengelolaan sampah ini sebagai budaya dan kebiasaan di lingkungannya, sehingga diharapkan dapat menumbuhkan kesadaran pada keluarga-keluarga lainnya.****
Penulis Muhammad Fikri Haikal Saragih adalah mahasiswa jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Sumatera Utara






