Medan — Menjelang Ramadhan dan Idul Fitri, ada satu agenda yang selalu dinanti masyarakat: pasar murah. Sebuah tempat di mana harga dibuat lebih bersahabat, dan harapan ikut dibawa pulang dalam kantong belanja.
Wakil Ketua DPRD Kota Medan, Hadi Suhendra, S.H., turut menghadiri pembukaan Pasar Murah Pemerintah Kota Medan yang digelar dalam rangka menyambut Bulan Suci Ramadhan dan Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriah/2026, Kamis (12/02/2026).
Kegiatan tersebut secara resmi dibuka oleh Wali Kota Medan, Rico Tri Putra Bayu Waas, yang hadir bersama unsur Forkopimda Kota Medan, kepala OPD, serta masyarakat yang tampak antusias—mungkin karena dua hal: harga yang lebih ringan dan kebutuhan yang semakin mendesak.
Pasar murah ini merupakan program rutin Pemerintah Kota Medan melalui Dinas Koperasi Usaha Kecil dan Menengah Perindustrian dan Perdagangan Kota Medan. Setiap tahun, program ini hadir sebagai “penyeimbang kecil” di tengah kenaikan harga yang kadang lebih cepat dari niat berhemat.
Berlokasi di Alun-Alun Warna-Warni Kecamatan Medan Labuhan, kegiatan ini tidak hanya menawarkan bahan pokok dengan harga terjangkau, tetapi juga diramaikan oleh bazar UMKM yang menghadirkan beragam produk kuliner dan makanan khas.
Dalam suasana santai khas Horatian, pasar murah ini terasa seperti kompromi manis antara kebutuhan dan kemampuan. Harga diturunkan, beban sedikit diringankan, dan masyarakat pun bisa berbelanja tanpa terlalu banyak berpikir panjang—setidaknya untuk sementara.
Namun di balik itu, terselip harapan yang sederhana: semoga program seperti ini tidak hanya menjadi rutinitas tahunan, tetapi juga bagian dari solusi jangka panjang bagi stabilitas harga dan kesejahteraan masyarakat.
Kehadiran Wakil Ketua DPRD Kota Medan, Hadi Suhendra, S.H., dalam kegiatan ini pun menjadi simbol dukungan terhadap upaya pemerintah dalam membantu masyarakat, terutama menjelang momen penting seperti Ramadhan dan Idul Fitri.
Dan pada akhirnya, pasar murah bukan sekadar tempat bertransaksi, tetapi juga ruang di mana kebijakan bertemu langsung dengan kebutuhan. Di sanalah, ukuran keberhasilan tidak lagi dihitung dari laporan, melainkan dari seberapa banyak warga yang pulang dengan senyum—dan kantong belanja yang tidak terlalu berat.(***)






