Belajar Sambil Berlayar: Ketika Cita-cita Anak TK Mulai dari Geladak Kapal

Medan27 Dilihat

Medan— Ada cara baru mengenalkan dunia pada anak-anak: bukan lewat buku tebal atau ceramah panjang, melainkan langsung diajak naik kapal. Dan bukan sembarang kapal, melainkan KRI Bima Suci—kapal yang biasanya dihuni kadet, kini disulap jadi taman bermain edukatif lengkap dengan cita-cita masa depan.

Sosok di balik “wisata sambil bercita-cita” ini adalah Airin Rico Waas, yang dengan penuh semangat mengajak siswa PAUD Fitri dan TK Fitria Al-Islam menjelajahi kapal yang sedang bersandar manis di Pelabuhan Belawan, Selasa (7/4/2026) .

Anak-anak pun datang lengkap dengan orang tua, dan tentu saja dengan rasa penasaran yang jauh lebih besar dari ukuran tas sekolah mereka. Dari tangga kapal hingga sudut geladak, semua dijelajahi dengan antusias—mungkin sambil membayangkan diri sebagai kapten, dokter kapal, atau minimal penumpang VIP tanpa tiket.

Kunjungan ini sendiri bukan kunjungan biasa. KRI Bima Suci tengah menjalankan misi mulia dalam rangka pelayaran persahabatan International ASEAN Plus Cadet Sail 2026. Singkatnya, kapal ini sedang membawa misi diplomasi—dan hari itu, juga membawa misi membahagiakan anak-anak TK.

Di atas round house deck, Airin membuka sesi interaksi yang terasa seperti talkshow santai versi anak-anak. “Senang nggak?” tanyanya. Pertanyaan sederhana yang dijawab dengan teriakan kompak, seolah-olah ini adalah konser kecil bertema kapal laut.

Tak berhenti di situ, Airin mulai “melempar masa depan” ke tengah-tengah mereka. “Siapa yang mau jadi Angkatan Laut?” tanyanya. Seketika tangan-tangan kecil terangkat tinggi, mungkin lebih cepat dari saat mereka diminta mengerjakan PR di rumah.

Salah satu anak dengan polos menjawab ingin menjadi dokter. Sebuah pilihan yang langsung disambut Airin dengan penjelasan bahwa di kapal pun ada fasilitas kesehatan. Sebuah informasi penting—siapa tahu nanti ada yang bercita-cita jadi dokter kapal, kombinasi langka antara stetoskop dan ombak.

Dalam suasana penuh tawa dan imajinasi, anak-anak pun diajak memahami bahwa dunia itu luas—dan sebagian dari dunia itu ternyata bisa dijelajahi dari atas kapal. Bahkan mungkin, dari sinilah mimpi-mimpi kecil mulai berlayar, meski sementara masih ditemani bekal roti dan susu kotak.

Kegiatan pun ditutup dengan sesi foto bersama. Anak-anak berpose dengan gaya terbaik mereka—yang bagi orang dewasa mungkin biasa saja, tapi bagi mereka adalah dokumentasi penting untuk masa depan: “Ini loh, waktu aku pertama kali naik kapal besar!”

Pada akhirnya, kegiatan ini bukan sekadar jalan-jalan. Ini adalah cara halus memperkenalkan dunia kemaritiman sejak dini, tanpa harus menggunakan istilah rumit. Karena kadang, cita-cita besar memang dimulai dari langkah kecil—atau dalam hal ini, dari naik tangga kapal dengan penuh rasa ingin tahu.(***)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *