matabangsa.com – Medan: Medan kembali jadi saksi, para arsitek berkumpul, bukan karena bangunan roboh, tapi karena ide-ide malah sampai prototipe sering lebih dulu ambruk sebelum sempat dibangun. Rabu 08 April 2026, di Srikandi Jalan Samanhudi, peluncuran Arsitek Jumpa Tengah (AJT) 2026 digelar— sebuah acara yang terdengar seperti forum ilmiah, tapi diam-diam juga jadi ruang curhat kolektif tentang kota yang tumbuh cepat, tapi kadang lupa arah.
Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) Sumatera Utara tampaknya tidak main-main. Setelah sukses pada 2024 dan 2025 —AJT kembali hadir untuk ketiga kalinya. Artinya, ada sesuatu yang masih perlu diperbaiki. Atau minimal, masih banyak yang perlu dibahas sambil ngopi, berdebat dan tukar fikiran kolektif.
Ketua IAI Sumut, Ar. Achmad Aryanto, IAI, AA didampingi Ketua Panitia AJT : Ar. Fachri Zahari, IAI, berdiri sebagai dirigen dari simfoni kertas rancang bangun, beton dan kaca ini. Dalam dunia di mana bangunan sering lebih cepat berdiri daripada logika perizinannya, kehadiran beliau seperti pengingat arsitektur bukan sekadar “yang penting jadi”, tapi juga “yang penting dipikirkan”—meski kadang hasil akhirnya tetap bikin warga bertanya: “Ini konsepnya apa ya, tidak semua mengerti?”
Tema besar AJT 2026 dirangkum dalam tiga kata terdengar seperti judul puisi: Nadi, Ruang, Utara. Nadi, katanya, adalah denyut kehidupan. Ironisnya, banyak kota justru berdenyut karena macet, bukan karena desain yang sehat. Kalau arsitektur adalah nadi, maka beberapa kawasan kita tampaknya sedang mengalami aritmia tata ruang.
Lalu ada “Ruang”—yang secara teori adalah wadah interaksi. Dalam praktiknya? Kadang berubah jadi lahan parkir liar atau bangunan tambahan tanpa izin yang “tiba-tiba sudah ada”. Ruang publik yang ideal sering kalah cepat dengan ruang komersial yang lebih agresif dan kadang kalah dari gesitnya juru parkir ketika mengatur lalu lintas. Interaksi tetap terjadi, tapi lebih sering antara kendaraan dan klakson.
Dan “Utara”—identitas dan geografis. Ada rasa bangga jadi warga Sumatera Utara—mulai dari lanskap pegunungan tropis, arsitektur pesisir, hingga dinamika urban di Kota Medan. Ini paling menarik. Karena di tengah semangat globalisasi, banyak bangunan kita terlihat seperti copy-paste dari katalog luar negeri, hanya ditambah sedikit sentuhan “biar lokal”. Kadang sulit membedakan apakah kita sedang di Medan atau di kota lain yang kebetulan pakai AC yang sama dinginnya.
AJT 2026 akan digelar di LG Floor SUN Plaza Medan, 5 hingga 9 Agustus 2026. Tempat yang tepat: pusat perbelanjaan, simbol peradaban modern, sekaligus bukti bahwa manusia lebih cepat membangun mall daripada memperbaiki drainase. Di sanalah nanti arsitektur akan dipamerkan—di tengah eskalator dan diskon.
Acara ini penuh agenda: pameran arsitektur terbaik, talkshow arsitek nasional, arsitek lokal, hingga talkshow multidisipliner. Lengkap. Dari yang berbicara soal idealisme sampai yang mungkin diam-diam memikirkan klien yang minta “budget minimal, hasil maksimal, revisi unlimited.”
Ada juga sesi Archi-Siswa—tempat para calon arsitek masa depan berkumpul. Mereka masih penuh semangat, belum terlalu sering ditolak klien, dan masih percaya bahwa desain bisa mengubah dunia. Kita doakan semoga semangat itu bertahan lebih lama dari proyek tender.
Workshop desain juga disiapkan, karena menjadi arsitek hari ini bukan cuma soal menggambar, tapi juga soal bertahan hidup di antara revisi, deadline, dan klien yang bilang, “Coba dibuat lebih simpel tapi lebih mewah.”
Yang paling menarik tentu konsultasi arsitektur gratis. Ini bagian favorit publik. Karena di negeri ini, kata “gratis” punya daya tarik lebih kuat daripada konsep desain berkelanjutan. Di sinilah orang bisa datang, bertanya tentang rumah impian—lalu pulang dengan harapan baru dan anggaran lama.
Dan sebagai penutup yang sangat manusiawi: band dan musik langsung. Karena setelah berbicara tentang etika, logika, dan estetika, semua orang tetap butuh hiburan. Termasuk arsitek, yang mungkin diam-diam ingin merancang panggung hidupnya sendiri—tanpa revisi dari siapa pun.
AJT 2026 bukan sekadar event. Ini adalah pengingat halus—dan sedikit menyengat—bahwa membangun kota bukan cuma soal tinggi bangunan, tapi juga kedalaman pemikiran. Karena kalau arsitektur gagal memberi “nadi”, jangan heran kalau kota kita tetap hidup, tapi terasa seperti kota zombie yang sibuk.(***)






