Turis Ramai Datang, Hotel Masih Banyak Lowong: Batam Penuh Pengunjung, Tapi Kamar Belum Tentu Laku

Ekonomi, Nasional15 Dilihat

Batam kembali kedatangan 114.837 wisatawan mancanegara sepanjang Maret 2026. Angka yang terdengar mengesankan, cukup untuk membuat brosur pariwisata tersenyum lebar dan pejabat sibuk memoles presentasi dengan grafik menanjak.

Dari jumlah itu, hampir separuhnya—47,78 persen—berasal dari Singapura. Wajar saja. Bagi warga negeri tetangga, Batam ibarat halaman belakang yang lebih murah untuk belanja, pijat, makan seafood, dan sesekali melupakan tagihan hidup di negara yang harga kopinya bisa membuat dompet bergetar.

Namun di balik gegap gempita angka kunjungan, hotel berbintang justru memberi kabar yang lebih jujur. Tingkat Penghunian Kamar (TPK) di Batam turun dari 48,17 persen menjadi 46,46 persen. Artinya, turis memang datang, tetapi tidak semuanya tertarik menginap di hotel berbintang.

Fenomena ini sederhana: tamunya banyak, kamar tetap banyak yang kosong. Seolah-olah pesta ramai digelar, tetapi kursi VIP justru lebih sering terisi angin.

Di tingkat Provinsi Kepulauan Riau, kondisi serupa juga terjadi. TPK hotel berbintang rata-rata hanya 42,05 persen. Dengan kata lain, lebih dari separuh kamar hotel masih setia menunggu tamu yang tak kunjung check-in.

Rata-rata lama menginap pun hanya 1,72 malam di Batam. Bahkan kenaikannya cuma 0,01 poin dibanding bulan sebelumnya. Kenaikan yang begitu tipis, sampai-sampai mungkin hanya cukup untuk menambah satu gelas air mineral di kamar.

Artinya, banyak wisatawan datang ke Batam dengan pola yang sangat efisien: tiba, belanja, makan, menikmati layanan yang diinginkan, lalu pulang sebelum sempat terlalu akrab dengan bantal hotel.

Bagi pelaku industri pariwisata, ini adalah tamparan halus. Jumlah kunjungan yang tinggi tidak otomatis berarti uang mengalir deras ke semua sektor. Wisatawan bisa saja datang berbondong-bondong, tetapi belanjanya selektif dan durasi tinggalnya singkat.

Situasi ini menunjukkan bahwa Batam masih kuat sebagai destinasi transit dan kunjungan singkat, tetapi belum sepenuhnya berhasil membuat wisatawan betah lebih lama. Kota ini ramai dikunjungi, namun belum tentu berhasil mengubah kunjungan menjadi tinggal, dan tinggal menjadi belanja yang lebih besar.

Jadi, ketika angka wisatawan terus dipamerkan sebagai bukti keberhasilan, ada satu pertanyaan yang lebih penting: apakah para tamu benar-benar menikmati Batam, atau mereka hanya mampir sebentar sebelum kembali ke Singapura dengan koper yang lebih penuh dan waktu yang tetap hemat?(***)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *