Usai Bus ALS Kecelakaan, Semua Bicara Evaluasi Keselamatan — Seperti Biasanya Setelah Korban Berjatuhan

Muhammad Bobby Afif Nasution mendatangi kantor PT Antar Lintas Sumatera usai kecelakaan maut Bus ALS di Musi Rawas Utara yang menewaskan belasan penumpang.

Suasana penuh duka.
Ucapan belasungkawa mengalir.
Koordinasi lintas daerah dilakukan.
Santunan disiapkan.

Dan seperti pola yang terlalu sering berulang di negeri ini, kata “evaluasi” akhirnya kembali muncul setelah nyawa melayang.

Gubernur memastikan korban ditangani dan dipulangkan ke kampung halaman masing-masing. Sebuah langkah yang memang penting, karena di tengah musibah seperti ini, keluarga korban biasanya tidak hanya kehilangan anggota keluarga — tetapi juga dipaksa menghadapi urusan administrasi yang sering lebih melelahkan daripada perjalanan jauh itu sendiri.

Dalam pertemuan tersebut, Bobby juga menyoroti pentingnya manifest penumpang dan kontrol kendaraan.

Kalimat yang terdengar sangat masuk akal.
Sayangnya, sering baru benar-benar dianggap penting setelah kecelakaan besar terjadi.

Karena di dunia transportasi kita, keselamatan kadang terasa seperti formalitas:
dicek saat ada razia,
dibahas saat ada korban,
lalu perlahan dilupakan ketika keadaan mulai tenang.

PT Jasa Raharja memastikan seluruh korban dijamin santunan.

Dan begitulah siklus klasik transportasi publik di Indonesia:
naik bus dengan doa,
kecelakaan dengan duka,
disusul santunan sebagai penutup berita.

Sementara itu, pihak ALS menyebut kondisi jalan diduga menjadi salah satu penyebab kecelakaan.

Pernyataan yang juga terdengar sangat familiar.

Kalau bukan jalan rusak, biasanya sopir lelah.
Kalau bukan sopir lelah, kendaraan bermasalah.
Kalau bukan kendaraan, cuaca.
Tetapi jarang sekali ada yang dengan jujur mengakui bahwa sistem keselamatan transportasi kita memang sering kalah cepat dibanding target setoran dan jadwal perjalanan.

Ironisnya, bus antarkota masih menjadi andalan banyak masyarakat karena lebih murah dan terjangkau. Artinya, rakyat kecil sering tidak punya banyak pilihan selain mempercayakan hidupnya pada kendaraan yang kadang bahkan tak mereka tahu kondisi aslinya.

Bobby sempat naik ke bus tujuan Medan–Yogyakarta dan mengingatkan sopir agar mengutamakan keselamatan.

Sebuah pesan yang baik.
Meski para sopir sendiri mungkin paling tahu bahwa di jalan raya Indonesia, keselamatan sering harus bernegosiasi dengan waktu tempuh, tekanan perusahaan, dan kondisi jalan yang penuh kejutan.

Pada akhirnya, tragedi seperti ini selalu meninggalkan pertanyaan yang sama:
mengapa standar keselamatan baru ramai dibicarakan setelah ada korban meninggal?

Karena di negeri ini, evaluasi transportasi sering datang terlambat — tepat setelah sirene ambulans berhenti berbunyi.(***)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *