Medan Ingin Belajar Kebersihan dari Jepang, Karena Sampah Ternyata Tak Bisa Diselesaikan dengan Spanduk Imbauan

Internasional6 Dilihat

Wakil Wali Kota Medan Zakiyuddin Harahap memenuhi undangan Furugori Toru untuk membahas peluang kerja sama antara Medan dan Jepang.

Topiknya cukup lengkap dan terdengar modern:
pendidikan,
pariwisata,
budaya,
pengembangan SDM,
hingga kebersihan kota.

Ya, kebersihan kota.

Sebuah topik yang memang selalu terdengar relevan setiap kali pejabat Indonesia bertemu negara yang trotoarnya bahkan lebih bersih daripada sebagian ruang rapat pemerintahan kita.

Dalam pertemuan itu, Medan disebut ingin belajar dari Jepang soal disiplin, tata kota, dan budaya kebersihan.

Keinginan yang bagus. Sangat bagus bahkan.

Karena di Jepang, orang selesai makan bisa membawa sampahnya pulang.
Sementara di sini, habis acara besar biasanya yang tertinggal bukan hanya sampah — tapi juga janji menjaga kebersihan.

Pembahasan juga menyentuh rencana mengaktifkan kembali kerja sama Sister City dengan Kota Ichikawa.

Sebuah istilah keren yang sering terdengar sangat internasional, meski publik kadang belum benar-benar merasakan apa dampaknya selain seremoni penandatanganan dan foto pejabat saling tukar cendera mata.

Furugori Toru memuji Soto Medan yang dianggap eksotis.

Dan memang begitulah Indonesia:
di saat pemerintah sibuk menjual potensi investasi dan kerja sama global, yang paling cepat mencuri hati tamu asing tetap makanan.

Soto, rendang, sambal, dan kopi sering lebih berhasil menjadi diplomat dibanding sebagian pidato birokrasi.

Namun di balik obrolan hangat soal budaya dan wisata, publik tentu berharap kerja sama seperti ini tidak berhenti sebagai agenda diplomasi basa-basi.

Karena rakyat sudah terlalu sering melihat pertemuan antarpejabat yang penuh istilah strategis:
kolaborasi,
sinergi,
pengembangan,
peningkatan kapasitas.

Tetapi setelah berita selesai tayang, kota tetap macet, sungai tetap kotor, dan pelayanan publik tetap menguji kesabaran warga.

Zakiyuddin mengatakan Medan ingin belajar tentang kebersihan dan pelayanan publik dari Jepang.

Tentu itu niat yang mulia.

Tapi belajar dari Jepang seharusnya bukan cuma soal meniru slogan bersih atau memasang taman estetik untuk foto Instagram pemerintah daerah.

Yang lebih penting adalah belajar soal disiplin, rasa malu melanggar aturan, dan keseriusan menjalankan sistem tanpa harus menunggu viral dulu.

Karena masalah utama kota-kota di Indonesia sebenarnya bukan kekurangan studi banding.

Yang kurang justru keberanian menerapkan aturan secara konsisten — termasuk kepada mereka yang punya jabatan, koneksi, dan privilese.

Pada akhirnya, kerja sama internasional memang penting.
Tetapi warga Medan mungkin punya harapan yang lebih sederhana:
jalan lebih tertata,
sampah tidak menumpuk,
pelayanan tidak berbelit,
dan kota terasa nyaman bahkan tanpa perlu dibandingkan dulu dengan Jepang.(***)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *