Pendidikan Dirayakan Meriah, Sementara Banyak Sekolah Masih Berjuang dengan Atap Bocor

Penutupan Gebyar dan Expo Pendidikan Sumatera Utara berlangsung meriah. Ada panggung besar, ribuan pengunjung, tepuk tangan, stan kreativitas siswa, hingga penampilan Idgitaf yang sukses memeriahkan suasana di Lapangan Astaka, Deliserdang.

Pendidikan akhirnya tampil keren. Penuh lampu. Penuh musik. Penuh seremoni.

Sayangnya, di luar arena expo yang gemerlap itu, masih banyak sekolah yang bahkan belum bisa tampil layak di hadapan muridnya sendiri.

Alexander Sinulingga mengusulkan kegiatan ini menjadi agenda tahunan. Alasannya untuk menjaga kesinambungan program dan membuka ruang kreativitas siswa.

Usulan yang bagus. Sangat bagus. Karena memang di negeri ini, acara tahunan sering lebih terjamin keberlangsungannya dibanding kualitas pendidikan itu sendiri.

Expo pendidikan memang bisa memamerkan karya siswa terbaik. Tetapi publik tahu, yang tampil di panggung biasanya hanya wajah paling rapi dari sistem pendidikan. Yang jarang dipamerkan adalah ruang kelas panas tanpa kipas, toilet sekolah rusak, guru honorer bergaji menyedihkan, dan siswa yang masih harus menempuh jalan berlumpur demi belajar.

Semua itu tidak cukup fotogenik untuk backdrop acara.

Panitia menyebut kegiatan ini bukan sekadar seremoni. Kalimat yang hampir selalu muncul di setiap acara pemerintahan yang terlalu banyak seremoni.

Padahal masyarakat bisa melihat sendiri: ketika panggung lebih megah daripada perpustakaan sekolah, ketika anggaran acara terdengar lebih hidup dibanding nasib guru honorer, publik tentu berhak curiga bahwa pendidikan kadang lebih sibuk dipromosikan daripada diperbaiki.

Ribuan pengunjung disebut antusias menghadiri expo ini. Wajar. Hiburan, konser, dan keramaian memang selalu menarik. Tetapi pertanyaan yang lebih penting: apakah antusiasme yang sama juga muncul saat membahas kualitas literasi siswa yang masih rendah? Saat membahas angka putus sekolah? Atau saat guru di daerah terpencil mengeluh kekurangan fasilitas?

Karena pendidikan kita punya bakat unik: sangat ramai saat festival, sangat sunyi saat membicarakan akar masalah.

Sementara itu, penghargaan diberikan kepada siswa dan guru berprestasi. Tentu itu baik. Tetapi di balik piagam dan tepuk tangan, banyak guru mungkin pulang sambil tetap memikirkan beban administrasi yang menumpuk, kurikulum yang terus berubah, dan kesejahteraan yang tak kunjung terasa setara dengan tuntutan pekerjaan mereka.

Ironisnya, dunia pendidikan hari ini kadang lebih sibuk menghasilkan dokumentasi kegiatan daripada memastikan semua anak benar-benar mendapat pendidikan bermutu.

Dan di tengah semua kemeriahan itu, rakyat sebenarnya hanya ingin hal sederhana: sekolah yang aman, guru yang sejahtera, fasilitas yang layak, dan sistem pendidikan yang tidak sekadar hebat di baliho acara peringatan.

Karena pendidikan tidak akan maju hanya dengan panggung besar, artis ibu kota, dan slogan penuh semangat.

Masa depan anak-anak tidak dibangun oleh gemerlap penutupan expo, tetapi oleh keberanian memperbaiki kenyataan pahit yang selama ini terlalu sering ditutupi tepuk tangan seremoni.(***)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *