Sumut Darurat Bencana dan Narkoba, Solusinya Lagi-Lagi: Mari Kita Doakan Bersama

Muhammad Bobby Afif Nasution mengajak masyarakat mendoakan agar Sumatera Utara bebas dari bencana dan narkoba dalam Pengajian Akbar HUT ke-78 Sumut di Masjid Raya Al Mashun.

Doa tentu penting. Tidak ada yang membantah itu. Tetapi di negeri yang terlalu sering gagal membereskan masalah mendasar, doa kadang terdengar seperti pelengkap dari sesuatu yang seharusnya diselesaikan dengan kerja keras, keberanian politik, dan tindakan nyata — bukan sekadar mikrofon, podium, dan kalimat penuh harapan.

Sumut baru saja mengalami bencana besar akhir 2025. Lebih dari 300 orang meninggal. Ribuan mengungsi. Banyak luka-luka. Itu bukan angka kecil. Itu tragedi besar. Tetapi setelah semuanya lewat, publik kembali disuguhi ritual yang sudah terlalu akrab: pejabat berkumpul, pidato belasungkawa, lalu ajakan berdoa bersama agar kejadian tidak terulang.

Masalahnya, longsor dan banjir tidak berhenti hanya karena didoakan.

Bencana juga tidak muncul tiba-tiba dari langit kosong. Ada hutan yang rusak. Ada tata ruang yang amburadul. Ada pembangunan yang sering lebih tunduk pada kepentingan ekonomi ketimbang keselamatan warga. Tetapi bagian itu jarang dibahas sekeras ajakan berdoa di depan kamera.

Begitu juga soal narkoba.

Sumatera Utara disebut masih “peringkat pertama” dalam penyalahgunaan narkoba dengan angka mencapai 1,5 juta pengguna. Angka yang seharusnya membuat seluruh pejabat tidak nyaman tidur. Tetapi ironisnya, setiap tahun masalah ini terus disebut sebagai “perhatian serius” tanpa publik benar-benar melihat perubahan yang juga serius.

Narkoba di Sumut sudah seperti tamu VIP: semua tahu keberadaannya, semua mengutuknya, tetapi entah kenapa tetap nyaman berkembang.

Dan rakyat tentu bertanya-tanya: bagaimana mungkin provinsi yang katanya darurat narkoba masih bisa terlihat santai? Bandar besar sering terdengar dalam rumor, tetapi yang paling rutin tertangkap justru pemakai kelas bawah dan kurir recehan.

Sementara itu, pengajian akbar dihadiri sekitar 3.000 jemaah, mayoritas ibu-ibu. Sangat wajar jika kaum ibu paling resah. Mereka yang paling dekat melihat bagaimana narkoba menghancurkan rumah tangga, anak-anak, dan masa depan keluarga.

Namun rasa resah masyarakat tidak akan selesai hanya dengan tausiah dan doa massal jika penegakan hukum masih sering terasa tumpul ke atas dan galak ke bawah.

Acara ini juga dihadiri banyak pejabat penting: DPRD, Forkopimda, OPD, tokoh agama, hingga organisasi masyarakat. Lengkap. Sangat lengkap. Hampir semua unsur hadir.

Tapi justru itu yang membuat publik makin berhak bertanya: kalau semua pejabat penting sudah berkumpul dalam satu ruangan, kapan masalah-masalah besar Sumut mulai diselesaikan lebih serius daripada sekadar menjadi tema sambutan tahunan?

Karena rakyat sebenarnya lelah hidup dalam pola yang sama:
bencana datang — doa bersama,
narkoba merajalela — doa bersama,
masalah membesar — pengajian akbar.

Sementara akar persoalan tetap dibiarkan tumbuh subur, setenang pejabat yang pulang acara dengan pengawalan lengkap dan pendingin mobil menyala.(***)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *