Kementerian Keuangan Republik Indonesia kembali menetapkan kurs mata uang asing untuk pelunasan pajak dan bea masuk periode 6–12 Mei 2026.
Dan seperti biasa, rakyat yang membaca daftar kurs ini mendadak merasa seperti analis ekonomi internasional — meski saldo rekening tetap lokal.
Dolar AS kini ditetapkan Rp17.294.
Poundsterling tembus Rp23 ribuan.
Euro di atas Rp20 ribu.
Sementara rupiah? Tetap berjuang mempertahankan martabat di tengah harga kebutuhan yang diam-diam ikut menyesuaikan “situasi global.”
Menariknya, setiap kurs naik, penjelasannya selalu canggih:
geopolitik,
ketidakpastian pasar,
dinamika global,
sentimen investor.
Tetapi ketika harga kopi di warung ikut naik, penjelasannya mendadak sederhana: “ya memang semua lagi mahal.”
Kurs pajak ini sebenarnya penting untuk urusan bea masuk, PPN, hingga pajak impor. Tetapi bagi masyarakat biasa, daftar angka panjang itu sering terasa seperti pengingat rutin bahwa ekonomi dunia bergerak sangat cepat — sementara gaji bulanan bergeraknya masih pakai mode hemat baterai.
Dolar Amerika Serikat selalu jadi pusat perhatian. Seolah apa pun yang terjadi di dunia, ujung-ujungnya rakyat Indonesia tetap harus menoleh ke nilai tukar dolar dulu sebelum bernapas tenang.
Dollar naik, harga barang impor ikut gelisah.
Dollar turun sedikit, harga di pasar tetap pura-pura tidak tahu.
Yang paling santai justru harga kebutuhan pokok: naiknya cepat, turunnya malu-malu.
Sementara itu, masyarakat awam mungkin membaca daftar kurs ini sambil berpikir:
“Wah, yen Jepang cuma Rp10 ribuan.”
Lalu baru sadar itu kurs untuk 100 yen, bukan satu yen. Harapan liburan hemat pun kembali kandas sebelum check-in.
Di sisi lain, pemerintah tetap rajin mengeluarkan keputusan kurs mingguan dengan format rapi dan penuh angka presisi sampai dua digit desimal. Sangat detail. Sangat teknokratis.
Padahal bagi banyak rakyat, hitungan ekonomi sehari-hari jauh lebih sederhana:
gaji masuk,
tagihan datang,
saldo menghilang.
Dan di tengah segala istilah stabilisasi ekonomi serta kebijakan fiskal, masyarakat sebenarnya cuma ingin satu kepastian kecil: semoga yang naik bukan cuma kurs dan pajak — tapi juga daya beli yang sudah lama megap-megap mengikuti perkembangan zaman.(***)






