Pelantikan Ikatan Wanita Sulawesi Selatan atau IWSS Kota Bekasi berlangsung meriah di ballroom hotel. Lengkap dengan sambutan, ucapan selamat, dan tentu saja foto bersama yang jumlahnya biasanya lebih banyak daripada program kerja yang sempat dibahas.
Abdul Harris Bobihoe pun menyampaikan harapan besar agar IWSS bisa ikut berkontribusi dalam pembangunan Kota Bekasi dan bersinergi dengan organisasi perempuan lainnya.
Karena di Indonesia, kalau sudah bicara “sinergi”, biasanya artinya: rapat akan semakin ramai, grup WhatsApp makin aktif, dan konsumsi kegiatan makin beragam.
Dalam sambutannya, Wakil Wali Kota mengatakan tidak ada pekerjaan yang sulit jika dikerjakan bersama-sama.
Benar juga.
Macet di Bekasi saja dikerjakan bersama-sama setiap pagi.
Kehadiran IWSS disebut sebagai semangat baru bagi perempuan untuk ikut aktif dalam pembangunan daerah. Sebuah pernyataan yang terdengar optimistis, meski rakyat kadang masih bingung membedakan mana organisasi yang benar-benar bekerja dan mana yang sekadar rutin bikin acara pelantikan lima tahunan.
Namun setidaknya, organisasi perempuan memang punya peran penting. Bukan cuma soal seremoni berkebaya atau lomba tumpeng saat hari besar nasional, tetapi juga bagaimana ikut menyuarakan pendidikan, ekonomi keluarga, sampai persoalan sosial yang nyata di tengah masyarakat.
Indri kini resmi memimpin IWSS untuk lima tahun ke depan. Waktu yang cukup panjang untuk membuktikan apakah organisasi ini akan benar-benar aktif turun ke masyarakat atau hanya aktif saat ada backdrop dan dokumentasi.
Wawali juga memuji perempuan Bekasi sebagai perempuan hebat-hebat.
Tentu saja hebat.
Bisa mengurus rumah, bekerja, mengurus anak, menghadapi harga kebutuhan yang naik, dan tetap sempat hadir di acara organisasi dengan make up yang tidak luntur oleh panas kota.
Di akhir sambutan, muncul pesan klasik penuh harapan: perempuan harus melahirkan generasi penerus yang tangguh, berkarakter, dan optimistis menyongsong masa depan bangsa.
Sebuah tugas yang berat, mengingat generasi sekarang bahkan harus tumbuh di tengah harga sekolah mahal, persaingan kerja ketat, dan kuota internet yang selalu habis lebih cepat daripada gaji bulanan.
Meski begitu, harapan tetap penting. Karena di negeri ini, kadang yang paling murah memang tinggal optimisme — sementara sisanya sudah mengikuti harga pasar.(***)






