Abdul Harris Bobihoe kembali mengajak para camat dan lurah menjaga kerukunan umat beragama serta harmoni sosial di Kota Bekasi.
Sebuah ajakan yang terdengar hangat, teduh, dan penuh semangat persatuan — khas suasana forum pemerintahan yang biasanya lengkap dengan air mineral, backdrop biru, dan kalimat “sinergi lintas sektor” yang selalu hadir di setiap sambutan resmi.
Menurut Wawali, kegiatan ini menjadi ruang interaksi dan dialog bagi perangkat wilayah.
Karena di Indonesia, hampir semua masalah diyakini bisa selesai lewat dua hal:
rapat koordinasi dan grup WhatsApp.
Wawali juga menegaskan bahwa hasil pertemuan jangan berhenti di level birokrasi saja, tetapi harus sampai ke RT dan RW.
Artinya, harmoni sosial di Bekasi kini punya jalur distribusi resmi: dari ballroom, turun ke kecamatan, lanjut ke kelurahan, lalu diteruskan ke grup warga yang biasanya lebih ramai membahas parkir liar dan kucing hilang.
Ia mencontohkan situasi unjuk rasa yang pernah terjadi dan berhasil diredam lewat kolaborasi semua pihak.
Dan memang begitulah Indonesia bekerja:
kalau sudah mulai panas, semua pihak mendadak akur demi menjaga kondusivitas.
Sementara saat aman, yang diperebutkan biasanya spanduk ucapan dan posisi kursi paling depan.
Bekasi sendiri disebut ingin menjadi kota global yang berdaya saing.
Tentu ini cita-cita mulia.
Meski sebagian warga mungkin masih berharap hal yang lebih sederhana dulu:
jalan tidak banjir,
lampu merah tidak macet total,
dan sinyal internet tidak hilang tiap hujan turun.
Wawali juga mengingatkan pentingnya komunikasi yang baik dan “apa adanya” kepada publik.
Kalimat yang cukup menarik di era ketika banyak pejabat lebih fasih membuat narasi dibanding menjelaskan kenyataan.
Karena masyarakat sekarang bukan kekurangan informasi — mereka cuma sering kelebihan pencitraan.
Meski begitu, ajakan menjaga harmoni sosial memang penting. Kota sebesar Bekasi tidak bisa dijaga hanya dengan baliho ucapan selamat dan jargon toleransi.
Butuh pemimpin wilayah yang benar-benar mengenal warganya, bukan cuma hafal saat ada kunjungan mendadak atau penilaian lomba kebersihan.
Pada akhirnya, kerukunan sosial memang tidak lahir dari seminar atau forum diskusi semata.
Ia tumbuh dari hal sederhana:
warga yang saling menghargai,
pemimpin yang mau mendengar,
dan pejabat yang lebih sering turun ke lapangan daripada naik ke panggung sambutan.(***)






