Di sebuah kota yang lebih sering viral karena panasnya daripada hijaunya, Kota Bekasi akhirnya mencoba berdamai dengan matahari. Sang Wali Kota, Tri Adhianto Tjahyono, mencanangkan sesuatu yang terdengar heroik sekaligus ambisius: menanam 3 juta pohon dalam lima tahun. Ya, tiga juta. Bukan tiga pot, bukan tiga batang, tapi tiga juta—angka yang kalau ditulis di proposal biasanya langsung bikin anggaran berkeringat duluan.
Pada Jumat (24/4/2026), di kawasan Taman Galaxy, acara penanaman pohon bertajuk “Hijaukan Bumi, Sejuta Manfaat bagi Alam” digelar. Nama acaranya panjang, manfaatnya diharapkan lebih panjang lagi. Kegiatan ini diinisiasi oleh Jemaat Gereja Katolik Paroki St. Bartolomeus—sebuah kolaborasi lintas elemen yang mengingatkan kita bahwa menyelamatkan bumi ternyata tidak bisa sendirian, apalagi cuma lewat caption Instagram.
Pak Wali Kota turun langsung menanam pohon, yang tentu saja bukan sekadar gaya-gayaan memegang cangkul di depan kamera. Beliau menegaskan bahwa ini bukan seremoni. Ini “investasi ekologis.” Istilah yang terdengar mahal, meski yang ditanam masih bibit.
“Kita ingin pembangunan seimbang dengan lingkungan,” kata beliau. Warga mengangguk. Sebagian karena setuju, sebagian lagi karena sudah terbiasa mendengar kalimat itu sejak zaman baliho masih pakai foto formal dengan jas dan senyum 3/4.
Program ini mengandalkan partisipasi warga—dari RT, RW, sekolah, hingga pelaku usaha. Ada juga skema sumbangan pohon, yang secara filosofis bagus: rakyat menyumbang pohon untuk kota yang juga milik mereka. Secara praktis? Tergantung, apakah nanti pohonnya disiram atau cuma difoto saat tanam saja.
Pemkot juga cukup jujur mengakui tantangan. Musim kemarau bisa jadi musuh utama. Karena di negeri tropis ini, menanam pohon itu mudah—yang sulit adalah memastikan dia tidak berubah jadi kenangan kering dua bulan kemudian.
Solusinya? Sumur resapan. Konsep yang sederhana tapi sering kalah pamor dari proyek-proyek yang lebih “instagramable.” Padahal, kalau dipikir-pikir, sumur resapan ini seperti teman setia: tidak banyak bicara, tapi diam-diam menyelamatkan.
Acara ini dihadiri tokoh-tokoh penting, mulai dari Romo Leonardus Pieter Pungki Setiawan hingga pejabat wilayah seperti Sri Susilawati dan Kodriana. Mereka menanam pohon secara simbolis—karena memang semua perubahan besar selalu dimulai dari simbol, lalu diuji oleh realitas.
Warga pun ikut menanam berbagai jenis pohon. Harapannya sederhana: udara lebih bersih, kota lebih sejuk, dan mungkin—ini harapan paling optimistis—Bekasi tidak lagi identik dengan “panasnya kebangetan.”
Namun di balik semua semangat ini, ada satu hal yang diam-diam mengendap di benak warga:
apakah tiga juta pohon ini akan benar-benar tumbuh, atau hanya akan menjadi angka cantik di laporan lima tahunan?
Karena warga Bekasi tahu, menanam itu mudah. Yang sulit adalah merawat—baik pohon, maupun janji.
Tapi ya sudahlah. Untuk kali ini, mari kita percaya dulu. Siapa tahu, dari satu pohon yang ditanam hari ini, kelak akan tumbuh satu cerita baru: bahwa Bekasi pernah mencoba jadi lebih hijau—dan berhasil.(***)






