Motor Dicuri dari Halaman Rumah, Polisi Bergerak Cepat Setelah CCTV Bicara

Kriminal, Nasional7 Dilihat

Polsek Kalideres berhasil menangkap pelaku pencurian motor berinisial AKA alias M (23), setelah mencuri Honda Scoopy milik warga yang terparkir di halaman rumah di kawasan Tegal Alur.

Pelaku disebut memanfaatkan pagar rumah yang terbuka dan situasi yang sepi. Dengan modal gunting dan keberanian khas kriminal Indonesia yang kadang lebih tinggi daripada rasa takut ditangkap, motor korban dibawa kabur hanya dalam hitungan menit.

Dan seperti biasa, setelah kejadian, masyarakat kembali diberi imbauan klasik: gunakan kunci ganda, tingkatkan kewaspadaan, dan pastikan rumah aman.

Kalimat yang terdengar masuk akal, tetapi diam-diam juga menyimpan ironi besar.
Karena di negeri yang katanya punya aparat keamanan di mana-mana, rakyat tetap dipaksa hidup seperti satpam bagi barang miliknya sendiri.

Motor harus dikunci ganda.
Diparkir harus diawasi.
Helm harus dirantai.
Rumah harus dipagari tinggi.
CCTV harus dipasang.

Sebab masyarakat sudah tahu, lengah sedikit saja, barang bisa hilang lebih cepat daripada polisi datang ke lokasi.
Untung kali ini ada CCTV.

Karena di era sekarang, kamera pengawas kadang terasa lebih efektif menangkap pelaku dibanding rasa takut penjahat terhadap hukum.

Tanpa rekaman CCTV, kasus seperti ini mungkin hanya akan menjadi tambahan angka kriminalitas harian yang perlahan tenggelam bersama ribuan laporan lain.

Rihold Sihotang menyebut pelaku merusak kontak motor menggunakan gunting sebelum membawa kabur kendaraan.

Modus yang sebenarnya sudah sangat tua. Bahkan terlalu klasik untuk ukuran kejahatan modern.
Tetapi justru itu yang mengkhawatirkan.

Artinya, mencuri motor di Indonesia masih dianggap kejahatan yang cukup mudah dilakukan dan cukup menguntungkan untuk terus diulang.

Dan selama motor curian masih punya pasar penadah yang hidup nyaman di belakang layar, pencurian seperti ini akan terus menjadi industri kecil yang tidak pernah benar-benar mati.

Satu pelaku ditangkap. Satu lagi kabur.
Cerita lama yang terus berulang.

Polisi menyebut “bergerak cepat” setelah menerima laporan korban. Tentu patut diapresiasi. Tetapi publik juga tahu, di banyak kasus lain, kecepatan penanganan sering bergantung pada satu hal penting: apakah ada CCTV, apakah kasus viral, atau apakah korban punya akses untuk terus menekan laporan.

Karena di Indonesia, rasa aman kadang terasa seperti barang mewah: ada, tetapi tidak merata.
Yang lebih tragis, masyarakat kini sudah terlalu terbiasa dengan pencurian kendaraan. Sampai kehilangan motor sering dianggap nasib sial biasa, bukan alarm bahwa kriminalitas sehari-hari masih begitu dekat dengan kehidupan rakyat.

Padahal bagi sebagian warga, motor bukan sekadar kendaraan.
Itu alat kerja.
Sumber nafkah.
Cara bertahan hidup.

Dan ketika motor hilang, yang dicuri sebenarnya bukan cuma barang — tetapi juga ketenangan hidup orang kecil yang bahkan untuk membeli kendaraan itu mungkin harus mencicil bertahun-tahun.(***)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *