Pelaksanaan Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) ke-40 Provinsi Sumatera Utara tahun ini menghadirkan kabar yang menggembirakan. Persaingan bukan hanya semakin ketat, tetapi juga semakin merata. Kalau dulu nama-nama juara seolah sudah bisa ditebak sebelum lomba dimulai, kini kejutan justru datang dari berbagai daerah yang mulai menunjukkan kualitas terbaiknya.
Jumat, 19 Juni 2026, Ketua Dewan Hakim MTQ ke-40 Sumut, Syaifuddin Hazmi Lubis, menyampaikan bahwa hingga hari keempat pelaksanaan MTQ di Astaka MTQ Sumut, Jalan Willem Iskandar, Deliserdang, kualitas para qari dan qariah mengalami peningkatan yang cukup signifikan dibanding tahun-tahun sebelumnya.
Menurut Hazmi, peningkatan tersebut terlihat jelas dari hasil penilaian Dewan Hakim. Jika pada pelaksanaan MTQ sebelumnya nilai tertinggi umumnya berada di angka 94 dari skor maksimal 100, tahun ini sudah ada peserta yang mampu menembus nilai di atas 95, padahal kompetisi masih berlangsung.
Sedikit satire boleh saja. Dulu orang sering bilang, “yang juara itu-itu juga.” Sekarang kalimat itu mulai kehilangan tenaga. Rupanya daerah-daerah lain diam-diam bukan sedang tertinggal, melainkan sedang menyiapkan kejutan. Ketika kesempatan datang, mereka langsung unjuk kemampuan.
Hazmi optimistis peningkatan kualitas tersebut menjadi modal penting bagi Sumatera Utara menghadapi MTQ Nasional 2026. Menurutnya, sekitar separuh peserta yang berlaga tahun ini telah memiliki pengalaman bertanding di tingkat nasional sehingga diharapkan mampu membawa prestasi yang lebih baik.
Para peserta terbaik nantinya akan dipersiapkan menjadi duta Sumatera Utara di ajang nasional. Pengalaman, pembinaan, dan kualitas yang dimiliki para peserta dinilai menjadi bekal untuk bersaing dengan kafilah dari provinsi lain.
Tak hanya itu, Dewan Hakim juga melihat peluang medali terbuka di hampir seluruh cabang perlombaan. Karena itu, Lembaga Pengembangan Tilawatil Qur’an (LPTQ) Sumut menargetkan prestasi maksimal dari setiap cabang yang dipertandingkan.
Yang paling menarik justru muncul dari peta persaingan. Menurut Hazmi, dominasi beberapa daerah yang selama ini dikenal sebagai “langganan juara” mulai bergeser. Kini semakin banyak kabupaten dan kota yang berhasil melahirkan peserta-peserta unggulan dengan kualitas yang tidak kalah bersaing.
Kalau boleh sedikit bercanda, persaingan MTQ sekarang sudah mirip kompetisi olahraga. Tidak ada lagi istilah tim unggulan yang bisa santai menunggu final. Semua peserta harus tampil maksimal, karena siapa pun kini berpeluang naik podium.
Fenomena ini tentu menjadi kabar baik bagi pembinaan tilawah Al-Qur’an di Sumatera Utara. Semakin banyak daerah yang mampu mencetak qari dan qariah berkualitas, semakin besar pula peluang provinsi ini meraih prestasi di tingkat nasional.
Pada akhirnya, kemenangan dalam MTQ bukan semata tentang membawa pulang piala. Yang jauh lebih penting adalah lahirnya generasi muda yang semakin mencintai Al-Qur’an, terus memperbaiki kualitas bacaan, serta menjadikan nilai-nilai Al-Qur’an sebagai pedoman dalam kehidupan sehari-hari. Kalau juara baru terus bermunculan, berarti pembinaan berjalan. Dan kalau pembinaan berjalan baik, maka masa depan MTQ Sumatera Utara pun semakin menjanjikan.(***)






