UMKM Mau Go International? Coba Dulu Bikin Mereka Bertahan di Medan
Wali Kota Medan ingin para delegasi dari Korea Selatan mempromosikan produk UMKM Medan ke dunia internasional.
Keinginannya mulia.
Siapa yang menolak produk lokal dikenal sampai Seoul, Tokyo, bahkan New York?
Masalahnya, banyak pelaku UMKM masih berjuang agar dikenal… di Medan sendiri.
Mereka bukan sedang memikirkan ekspor ke Korea.
Mereka masih memikirkan bagaimana dagangan hari ini laku, biaya sewa kios terbayar, pelanggan datang lagi besok, dan omzet tidak tenggelam bersama hujan yang menggenangi jalan menuju tempat usaha mereka.
Pemerintah memang gemar berbicara tentang “go international”. Kalimat itu terdengar gagah di podium. Namun dunia usaha selalu dimulai dari sesuatu yang jauh lebih sederhana.
Jalan menuju toko yang tidak berlubang.
Lingkungan yang bersih.
Pasar yang tertata.
Parkir yang rapi.
Perizinan yang cepat.
Promosi yang berkelanjutan.
Kepastian usaha yang membuat pelaku UMKM sibuk menghitung keuntungan, bukan sibuk menghitung kerugian.
Ironisnya, setiap ada tamu luar negeri, kota mendadak ingin tampil sempurna.
Bus listrik disiapkan.
Destinasi wisata dipercantik.
Galeri UMKM dipoles.
Rute kunjungan diatur sedemikian rupa.
Seolah-olah Medan baru menjadi kota yang layak dipamerkan ketika ada tamu asing.
Padahal promosi terbaik bukanlah perjalanan wisata yang sudah diskenariokan.
Promosi terbaik adalah ketika tamu asing bisa berjalan tanpa harus mencari-cari trotoar yang utuh, menikmati sungai yang bersih, melihat ruang publik yang tertata, dan merasakan pelayanan kota yang efisien.
Itulah promosi yang tidak membutuhkan brosur.
Pemerintah juga berharap para pelaku UMKM belajar tren kuliner Korea.
Tidak ada salahnya.
Tetapi jangan sampai kita lebih sibuk mempelajari street food Korea sementara masih banyak pedagang kaki lima di Medan yang berjualan tanpa fasilitas yang layak, tanpa penataan yang konsisten, dan tanpa kepastian tempat usaha.
Belajar dari Korea bukan hanya soal kimchi, tteokbokki, atau teknik memasak.
Belajar dari Korea seharusnya juga tentang bagaimana pemerintah membangun ekosistem usaha yang disiplin, bersih, tertata, dan mampu membuat usaha kecil tumbuh menjadi merek kelas dunia.
Karena UMKM tidak lahir besar hanya karena difoto bersama delegasi internasional.
Mereka tumbuh karena pemerintah menciptakan iklim usaha yang sehat setiap hari.
Sayangnya, terlalu sering pemerintah menganggap kunjungan internasional sebagai panggung pencitraan.
Beberapa hari kota terlihat sibuk.
Spanduk dipasang.
Penyambutan disiapkan.
Agenda dipadati.
Foto-foto dipublikasikan.
Lalu setelah rombongan tamu pulang, UMKM kembali menghadapi kenyataan yang sama.
Persaingan yang berat.
Promosi yang minim.
Akses pembiayaan yang rumit.
Infrastruktur yang belum sepenuhnya mendukung.
Go international memang penting.
Tetapi fondasi menuju internasional bukan dibangun dari seremoni.
Melainkan dari keberanian pemerintah membenahi persoalan domestik yang selama ini menghambat pelaku usaha.
Sebab dunia tidak akan menilai Medan hanya dari Galeri Dekranasda yang dikunjungi selama satu jam.
Dunia akan menilai bagaimana kota ini memperlakukan pelaku usahanya sepanjang tahun.
Kalau UMKM benar-benar ingin mendunia, jangan hanya kirim tamunya melihat etalase.
Perlihatkan juga kota yang mampu menjadi rumah terbaik bagi para pelaku usahanya.
Karena produk lokal tidak membutuhkan lebih banyak pidato tentang pasar global.
Mereka membutuhkan pemerintah yang lebih sibuk memperbaiki pasar lokal.
Sebab sebelum produk Medan menaklukkan dunia, ada pekerjaan rumah yang jauh lebih dekat: memastikan UMKM tidak kalah berjuang di kota tempat mereka dilahirkan.(***)







