Menolong Tetangga Itu Mulia, Tapi Jangan Sampai Rumah Sendiri Terus Kebanjiran
Tidak ada yang patut diperdebatkan soal membantu daerah yang tertimpa bencana.
Apa yang dilakukan Pemerintah Kota Medan untuk membantu Aceh Tamiang adalah tindakan yang layak diapresiasi. Mengirim petugas pemadam, alat berat, personel, bahkan bertahan berbulan-bulan menunjukkan bahwa solidaritas antardaerah bukan sekadar slogan.
Kemanusiaan memang tidak mengenal batas administrasi.
Namun justru karena itu, muncul pertanyaan yang lebih dekat dengan kehidupan warga Medan sendiri.
Kalau Medan mampu mengirim alat berat hingga berbulan-bulan ke daerah lain, mengapa setiap musim hujan warganya sendiri masih dihantui pertanyaan yang sama:
“Kali ini rumah kami kebanjiran atau tidak?”
Ironinya begitu terasa.
Di podium, banjir dikenang sebagai kisah solidaritas.
Di lapangan, banjir masih menjadi rutinitas.
Pemerintah bangga karena menjadi yang pertama datang membantu Aceh Tamiang.
Tetapi warga Medan lebih ingin pemerintah menjadi yang pertama mencegah banjir di kotanya sendiri.
Karena bagi masyarakat, keberhasilan bukan hanya diukur dari cepatnya mengirim bantuan keluar daerah.
Keberhasilan diukur dari sedikitnya rumah warga yang kembali terendam ketika hujan turun.
Tidak ada yang salah dengan menjadi tetangga yang baik.
Yang menjadi masalah adalah ketika tetangga memuji kita sebagai penolong, sementara penghuni rumah sendiri masih sibuk mengangkat lemari, kasur, dan kulkas agar tidak hanyut.
Bencana memang tidak selalu bisa dicegah.
Tetapi dampaknya bisa diperkecil jika tata kota dikelola dengan serius.
Drainase yang berfungsi.
Normalisasi sungai yang konsisten.
Penataan ruang yang disiplin.
Pengendalian alih fungsi lahan.
Pemeliharaan saluran yang tidak hanya dilakukan ketika kamera mulai merekam.
Itulah bentuk empati yang paling nyata kepada warga.
Sering kali pemerintah lebih mudah menunjukkan foto-foto bantuan ke luar daerah daripada menjelaskan mengapa persoalan banjir di dalam kota belum juga menemukan jalan keluar yang meyakinkan.
Solidaritas memang menghasilkan tepuk tangan.
Tetapi pelayanan menghasilkan kepercayaan.
Dan kepercayaan warga tidak dibangun melalui seremoni ucapan terima kasih.
Ia dibangun ketika hujan deras turun, namun warga tetap bisa tidur tanpa cemas air akan masuk ke ruang tamu.
Wali Kota mengatakan bantuan itu dilakukan tanpa mengharapkan penghargaan.
Kalimat itu patut dihormati.
Namun penghargaan terbesar sesungguhnya tidak datang dari pemerintah daerah lain.
Penghargaan terbesar datang ketika warga Medan suatu hari berkata,
“Tahun ini rumah kami tidak lagi kebanjiran.”
Itulah piagam yang tidak perlu dicetak.
Itulah medali yang tidak perlu dipajang.
Karena pemerintah yang baik bukan hanya dikenang karena sigap membantu daerah lain bangkit dari banjir.
Pemerintah yang baik adalah yang membuat kotanya sendiri tidak terus-menerus hidup berdamai dengan banjir.
Sebab solidaritas antardaerah memang mulia.
Tetapi tanggung jawab pertama seorang kepala daerah tetap sederhana:
Pastikan rakyat yang dipimpinnya tidak terus menjadi langganan bencana yang sama, tahun demi tahun.(***)







