Nobar Ribuan Orang Meriah, Semoga Antrean Pelayanan Publik Juga Bisa Seramai Perhatian Pemko
Ribuan warga Medan rela begadang hingga dini hari untuk menyaksikan final Piala Dunia 2026 di Urban Community Park Kebun Bunga. Hujan gerimis tak menyurutkan semangat. Spanyol melawan Argentina menjadi alasan ribuan pasang mata bertahan sampai babak tambahan waktu, bahkan ikut larut saat Ferran Torres memastikan La Roja menjadi juara dunia.
Di tengah riuh sorak-sorai itu, Wali Kota Medan Rico Tri Putra Bayu Waas ikut membaur bersama masyarakat. Ada kuis, hadiah, tepuk tangan, dan suasana yang hangat. Sesaat, semua lupa bahwa di luar lapangan sepak bola masih banyak “pertandingan” lain yang setiap hari dimainkan warga Medan.
Bedanya, pertandingan itu tidak memakai wasit, tidak ada VAR, dan kadang pemenangnya adalah siapa yang paling sabar menghadapi birokrasi.
Rico Waas mengatakan nilai terpenting sepak bola adalah sportivitas dan kebersamaan. Kalimat itu sulit dibantah. Namun kalau bicara pelayanan publik, masyarakat juga berharap ada “fair play” yang sama. Semua warga mendapat pelayanan yang setara, cepat, dan tidak bergantung pada siapa yang dikenal atau seberapa keras mereka mengeluh.
Nonton bareng seperti ini memang patut diapresiasi. Ruang publik menjadi hidup, masyarakat punya hiburan, dan pemerintah hadir lebih dekat dengan warganya. Tetapi kedekatan itu akan terasa jauh lebih bermakna jika semangatnya ikut dibawa ke kantor-kantor pelayanan setiap pagi.
Bayangkan jika semangat panitia mengatur ribuan penonton nobar diterapkan juga saat mengatur antrean pelayanan administrasi. Mungkin warga tidak perlu lagi bertanya, “Pak, loketnya yang mana?” atau mendengar kalimat legendaris, “Besok saja datang lagi.”
Wali Kota juga mengajak masyarakat bergandengan tangan membangun Medan melalui semangat Medan untuk Semua. Tentu itu cita-cita yang baik. Hanya saja, membangun kota bukan hanya soal menghadirkan panggung, layar raksasa, dan acara yang meriah. Yang tidak kalah penting adalah memastikan jalan berlubang cepat diperbaiki, pelayanan kesehatan mudah diakses, sampah terangkut tepat waktu, dan urusan administrasi tidak terasa seperti laga yang harus dimainkan sampai babak perpanjangan waktu.
Sepak bola mengajarkan bahwa tim hebat bukan hanya pandai menyerang ketika kamera menyorot. Tim yang benar-benar juara justru konsisten bermain selama 90 menit, bahkan sampai tambahan waktu. Pemerintah pun demikian. Kehadiran saat acara seremonial tentu penting, tetapi masyarakat lebih menunggu konsistensi pelayanan ketika lampu panggung sudah padam dan keramaian telah usai.
Semoga semangat sportivitas yang digaungkan malam itu bukan hanya hidup di lapangan dan layar raksasa. Akan lebih indah jika semangat itu juga hadir di meja pelayanan, di ruang-ruang birokrasi, dan dalam setiap keputusan yang menyentuh kebutuhan warga.
Karena bagi masyarakat Medan, kemenangan yang paling dinanti bukan hanya Spanyol mengangkat trofi Piala Dunia, melainkan ketika mengurus pelayanan publik tidak lagi terasa seperti pertandingan yang harus dimainkan sampai adu penalti.(***)







