Tenis Meja Tetap Eksis, Semoga Perhatian Pemko ke Semua Cabang Olahraga Juga Konsisten
Di tengah demam padel dan pickleball yang sedang ramai diperbincangkan, tenis meja rupanya belum mau turun dari podium. Olahraga yang hanya membutuhkan meja, net, dan bola kecil itu kembali membuktikan bahwa popularitas tidak selalu ditentukan oleh seberapa mahal perlengkapannya.
Wali Kota Medan Rico Tri Putra Bayu Waas pun mengakui tenis meja tetap memiliki pesona tersendiri. Menurutnya, olahraga ini seru, mudah dimainkan, dan mampu melatih refleks serta strategi. Bahkan, ia menyebut ruang permainan terasa “unlimited” ketika dimainkan atlet profesional.
Kalimat itu memang benar. Tetapi kalau bicara pembinaan olahraga di Medan, yang kadang terasa unlimited justru daftar harapan para atlet.
Turnamen antar-PTM yang diikuti 30 klub tentu patut diapresiasi. Artinya, tenis meja masih hidup dan memiliki komunitas yang aktif. Namun, sebuah turnamen seharusnya tidak menjadi garis finis perhatian pemerintah, melainkan garis start untuk pembinaan yang berkelanjutan.
Selama ini, banyak cabang olahraga baru mendapat sorotan karena sedang tren. Tidak ada yang salah dengan itu. Yang jangan sampai terjadi adalah olahraga yang sudah puluhan tahun melahirkan prestasi justru hanya mendapat perhatian ketika ada seremoni pembukaan atau penutupan turnamen.
Rico Waas berharap lahir lebih banyak bibit atlet muda dari kompetisi ini. Harapan itu tentu bagus. Hanya saja, bibit atlet tidak tumbuh hanya karena diberi piala. Mereka tumbuh karena ada pelatih yang didukung, klub yang dibina, fasilitas latihan yang layak, kompetisi yang rutin, dan perhatian pemerintah yang tidak musiman.
Banyak atlet daerah yang sebenarnya tidak kalah berbakat. Mereka hanya sering kalah oleh minimnya kesempatan. Semangat berlatih tinggi, tetapi jadwal turnamen sedikit. Prestasi ada, tetapi dukungan anggaran kadang seperti bola tenis meja yang memantul ke mana-mana tanpa arah yang pasti.
Yang menarik dari tenis meja adalah satu hal: bola terus bergerak. Kalau pemain berhenti bereaksi, poin langsung hilang. Filosofi ini juga cocok untuk pemerintah. Pembinaan olahraga tidak bisa hanya bergerak ketika ada agenda penutupan turnamen atau penyerahan piala. Harus ada gerakan yang konsisten setiap hari.
Pertandingan ekshibisi antara Wali Kota dan Ketua PTMSI memang menambah kemeriahan acara. Tetapi para atlet tentu berharap pertandingan yang paling serius bukan di atas meja tenis, melainkan di meja pengambilan kebijakan. Di sanalah diputuskan apakah olahraga benar-benar menjadi prioritas atau sekadar pelengkap kalender kegiatan.
Kalau Medan ingin terus melahirkan atlet berprestasi, jangan hanya semangat saat memberikan trofi kepada juara. Lebih penting lagi adalah memastikan para calon juara memiliki tempat berlatih, kompetisi yang berkesinambungan, dan dukungan yang tidak ikut selesai ketika lampu acara dimatikan.
Sebab pada akhirnya, prestasi olahraga bukan lahir dari pidato penutupan turnamen. Prestasi lahir dari latihan yang panjang, pembinaan yang serius, dan pemerintah yang konsisten hadir, bahkan ketika tidak ada kamera yang menyorot.(***)







