Saat Irama Melayu dari Pulau Pinang Membuat PRSU Lupa Batas Negara

Saat Irama Melayu dari Pulau Pinang Membuat PRSU Lupa Batas Negara

Minggu malam di Pekan Raya Sumatera Utara (PRSU) bukan sekadar soal jalan-jalan, berburu kuliner, atau pulang membawa belanjaan. Ada satu panggung yang diam-diam berhasil “menculik” perhatian ribuan pasang mata. Dari sana, Pulau Pinang datang membawa sesuatu yang sederhana, tetapi ampuh: budaya Melayu.

Tak perlu paspor, tak perlu cap imigrasi. Cukup dengan denting musik, lenggok tari, dan senyum para penampil, suasana PRSU seketika berubah menjadi ruang pertemuan dua negeri yang ternyata memiliki akar budaya yang sama.

Begitu lampu panggung menyala, satu per satu penampilan mulai mengalir. Ada tarian, musik, hingga peragaan busana Melayu yang anggun. Penonton pun larut. Sebagian sibuk mengabadikan momen lewat ponsel, sementara yang lain memilih menikmati pertunjukan tanpa berkedip. Sesekali terdengar tepuk tangan panjang, seolah menjadi bahasa yang tak perlu diterjemahkan.

Puncaknya datang ketika penyanyi Sifa naik ke atas panggung. Dengan suara lembut dan bening, ia membawakan lagu legendaris Cindai, yang pernah dipopulerkan diva Malaysia, Siti Nurhaliza.

Dalam hitungan detik, suasana berubah syahdu. Lagu itu seperti mesin waktu. Ada yang ikut bersenandung pelan, ada yang tersenyum mengenang masa lalu, bahkan mungkin ada yang diam-diam teringat seseorang yang kini hanya tinggal kenangan. Begitulah musik bekerja—ia sering kali lebih pandai membuka pintu ingatan dibandingkan album foto.

Tak berhenti di situ, rombongan seni dari Pulau Pinang juga menampilkan tarian tradisional yang dibawakan kelompok penari kerajaan Pulau Pinang. Setiap gerakan terasa anggun, penuh filosofi, sekaligus mengingatkan bahwa budaya Melayu memang tak pernah kehilangan pesonanya.

Kemudian hadir tarian kreatif Nirmala, sebuah pertunjukan yang mengangkat semangat, kekuatan, dan ketulusan hati manusia. Di tengah dunia yang sering sibuk mengejar penampilan, tarian itu justru mengingatkan bahwa keindahan sejati bukan berasal dari gemerlap kostum atau cahaya lampu panggung, melainkan dari hati yang tulus dan niat yang baik.

Acara yang dipandu dengan hangat oleh Baim mengalir tanpa terasa. Satu demi satu penampilan disambut antusias. Tidak ada sekat antara penampil dan penonton. Yang ada hanyalah kegembiraan yang menyatu dalam irama Melayu.

Malam itu PRSU kembali membuktikan bahwa budaya memiliki cara sendiri untuk menyatukan manusia. Tak ada perdebatan soal batas wilayah, tak ada perbedaan logat yang menjadi penghalang. Semua larut dalam satu bahasa yang paling mudah dipahami: seni.

Pulau Pinang memang datang sebagai tamu. Namun ketika lagu, tarian, dan busana Melayu memenuhi panggung, rasanya mereka bukan sedang bertamu. Mereka seperti keluarga yang pulang membawa cerita, disambut hangat oleh saudara serumpun di Sumatera Utara.

Barangkali inilah kekuatan budaya yang sesungguhnya. Ia tidak pernah memaksa orang untuk mengerti. Ia hanya mengajak menikmati. Dan ketika tepuk tangan bergemuruh menutup pagelaran malam itu, semua sadar bahwa hubungan persaudaraan ternyata bisa dirawat bukan hanya lewat diplomasi, tetapi juga lewat sepotong lagu, selembar kain Melayu, dan langkah-langkah tari yang mampu menyentuh hati.(***)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *