Di Tengah Riuh PRSU, Ada Minyak Sawit Merah yang Diam-Diam Mencuri Perhatian

Di Tengah Riuh PRSU, Ada Minyak Sawit Merah yang Diam-Diam Mencuri Perhatian

Kalau mendengar kata Pekan Raya Sumatera Utara (PRSU), yang pertama terlintas di kepala biasanya panggung hiburan, aneka kuliner, atau deretan stan yang menawarkan produk khas daerah. Namun di area Gedung Serbaguna, ada satu stan yang mengajak pengunjung berhenti sejenak, bukan untuk bernyanyi atau berburu diskon, melainkan mengenal sesuatu yang mungkin selama ini sering lewat di depan mata, tetapi jarang benar-benar dipahami: minyak sawit merah.

Stand Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (Ketapang) Sumatera Utara tampak ramai didatangi pengunjung. Ada yang melihat-lihat bibit tanaman, pupuk, hingga hasil pertanian. Namun yang paling sering memancing rasa penasaran justru botol-botol minyak berwarna jingga kemerahan yang berjajar rapi di etalase.

“Ini minyak sawit merah, Bu… Pak…,” begitu kira-kira kalimat yang paling sering terdengar dari petugas stan saat menjelaskan kepada pengunjung yang penasaran.

Banyak yang awalnya mengira minyak itu hanya minyak goreng biasa yang salah pilih pewarna. Setelah dijelaskan, barulah mereka tahu bahwa warna merah tersebut justru berasal dari kandungan beta-karoten alami yang tetap dipertahankan karena proses produksinya tidak melalui tahap pemutihan (bleaching).

Petugas stan, Ayu, menjelaskan bahwa minyak sawit merah yang diproduksi di Pabrik Tanjung Garbus, Kabupaten Deliserdang, dijual seharga Rp25 ribu per liter. Penjualannya memang masih terbatas, sebagian dilakukan melalui platform daring, sementara pembelian dalam jumlah besar bisa langsung menghubungi pihak pengelola.

Menariknya, pengunjung bukan hanya diajak membeli, tetapi juga belajar. Di stan ini, minyak sawit tidak lagi hanya dipandang sebagai komoditas perkebunan andalan Sumatera Utara. Ia diperkenalkan sebagai pangan fungsional yang kaya manfaat.

Minyak sawit merah diketahui mengandung beta-karoten, vitamin E, skualena, hingga koenzim Q10 yang berperan sebagai antioksidan. Kandungan tersebut dipercaya membantu menjaga kesehatan jantung, mendukung fungsi otak, membantu memenuhi kebutuhan vitamin A, hingga menjadi salah satu sumber nutrisi yang berpotensi mendukung pencegahan stunting bila dikonsumsi sebagai bagian dari pola makan bergizi dan seimbang.

Namun, petugas juga mengingatkan bahwa minyak ini bukan “obat ajaib” yang bisa menyelesaikan semua persoalan kesehatan dalam sekali makan. Justru cara menggunakannya yang menentukan manfaatnya. Minyak sawit merah lebih dianjurkan untuk tumisan ringan, campuran makanan hangat, atau saus, dibandingkan dipakai menggoreng pada suhu yang sangat tinggi agar kandungan nutrisinya tetap terjaga.

Di balik botol sederhana itu, ada pesan yang ingin disampaikan Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Sumut: hasil perkebunan tidak selalu harus dikenal dari besarnya produksi atau luasnya kebun. Kadang, nilai tambah justru lahir ketika masyarakat mulai memahami manfaatnya.

PRSU pun kembali menunjukkan wajahnya sebagai ruang belajar yang menyenangkan. Orang datang mungkin karena ingin menonton konser atau menikmati wahana. Namun pulangnya, bisa saja membawa bibit tanaman, mengenal inovasi pangan, bahkan membawa sebotol minyak sawit merah yang sebelumnya tidak pernah terpikir untuk dicoba.

Begitulah pameran bekerja. Di sela keramaian, selalu ada pengetahuan baru yang menunggu ditemukan. Dan di tengah gemerlap PRSU tahun ini, minyak sawit merah berhasil membuktikan bahwa menjadi pusat perhatian tidak selalu harus dengan lampu sorot. Kadang, cukup dengan warna alaminya sendiri.(***)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *