Bukan Cuma Jual Oleh-Oleh, Paviliun Padangsidimpuan di PRSU Ikut “Menjual” Masa Depan
Kalau sebagian besar pengunjung Pekan Raya Sumatera Utara (PRSU) datang dengan niat berburu kuliner, mencicipi jajanan, atau membawa pulang suvenir, Paviliun Pemerintah Kota Padangsidimpuan rupanya punya dagangan yang sedikit berbeda. Yang ditawarkan bukan sekadar keripik, kain tenun, atau es krim rasa salak, melainkan sebuah ajakan: ayo berinvestasi di Padangsidimpuan.
Minggu (26/7/2026), di tengah lalu-lalang pengunjung, Keisya Siagian tampak sibuk melayani setiap orang yang singgah ke paviliun. Mahasiswi Fakultas Keperawatan Universitas Sumatera Utara itu berganti peran menjadi “duta investasi dadakan”. Senyumnya menyambut pengunjung, sementara tangannya tak lelah menjelaskan mengapa Padangsidimpuan layak dilirik para investor.
Di PRSU, orang memang datang dengan banyak tujuan. Ada yang berburu promo, ada yang mengejar konser, ada pula yang sekadar mencari tempat nongkrong. Namun siapa sangka, ada juga yang pulang membawa gambaran tentang peluang bisnis.
Keisya menjelaskan, sesuai arahan Wali Kota dr. Letnan Dalimunthe dan Wakil Wali Kota Harry Pahlevi Harahap, Padangsidimpuan tengah membuka pintu selebar-lebarnya bagi para investor. Bukan sekadar slogan, tetapi disertai komitmen menghadirkan kemudahan perizinan, pendampingan, hingga iklim usaha yang ramah.
“Kalau investor suka disambut dengan karpet merah, di Padangsidimpuan mungkin bukan karpetnya yang merah, tetapi proses izinnya yang diusahakan tidak bikin wajah ikut memerah,” begitu kira-kira pesan yang ingin disampaikan dengan cara yang lebih membumi.
Kota yang selama ini dikenal sebagai pusat aktivitas masyarakat Tapanuli Bagian Selatan itu ternyata menyimpan banyak peluang. Mulai dari sektor pendidikan yang telah lama menjadi kebanggaan daerah, perdagangan dan jasa yang terus berkembang, hingga sektor pariwisata dengan pesona Bukit Simarsayang, Sungai Batang Ayumi, dan kawasan Batu Nadua yang masih menyimpan banyak ruang untuk dikembangkan.
Belum lagi sektor pertanian yang ditopang ribuan petani, peluang pembangunan gudang modern dan cold storage, hingga posisi strategis Padangsidimpuan sebagai simpul penghubung kawasan Sumatera. Semua itu dirangkai menjadi cerita bahwa investasi bukan sekadar membangun gedung, tetapi juga membangun harapan.
Cerita itu rupanya bukan tanpa bukti. Direktur Utama PT Suzuya, Aldes Maryono, mengaku merasakan sendiri bagaimana proses investasi di Padangsidimpuan berjalan cepat. Menurutnya, kemudahan perizinan membuat proyek dapat diselesaikan dalam waktu relatif singkat sekaligus membuka lapangan kerja baru bagi masyarakat.
Di sudut lain paviliun, suasana terasa lebih santai. Berbagai produk UMKM tertata rapi, mulai dari camilan khas, produk fesyen, hingga aneka suvenir. Sementara di bagian depan, es krim rasa salak menjadi magnet tersendiri. Rasanya unik, karena memang tidak setiap hari orang bisa menikmati buah khas Tapanuli Selatan dalam bentuk es krim.
Akhirnya, Paviliun Padangsidimpuan memberi pelajaran sederhana bahwa mengikuti PRSU bukan hanya soal memamerkan apa yang dimiliki hari ini. Lebih dari itu, ini tentang memperkenalkan mimpi yang ingin dibangun esok hari.
Sebab investasi, sama seperti menanam pohon salak, memang tidak langsung berbuah. Tetapi kalau dirawat dengan keseriusan, kemudahan, dan kepercayaan, hasilnya bukan hanya dinikmati pemerintah atau pelaku usaha. Masyarakatlah yang pada akhirnya ikut memetik manfaatnya, lewat lapangan kerja yang bertambah, ekonomi yang bergerak, dan sebuah kota yang perlahan tumbuh menjadi lebih mandiri.(***)







