Keripik Pare Jadi Bintang di PRSU, Sayur yang Dulu Dihindari Kini Laris Diburu

Keripik Pare Jadi Bintang di PRSU, Sayur yang Dulu Dihindari Kini Laris Diburu

Kalau ada penghargaan untuk “produk paling berhasil mengubah nasib” di Pekan Raya Sumatera Utara (PRSU) 2026, mungkin pare layak masuk nominasi.

Sayur yang selama ini sering membuat anak-anak menggeleng, bahkan orang dewasa berpikir dua kali karena rasa pahitnya, justru menjadi primadona di Paviliun Kabupaten Labuhanbatu.

Ironisnya, yang diburu bukan buah impor atau camilan kekinian dengan nama asing. Yang membuat pengunjung rela berhenti justru keripik dari pare.

“Serius ini pare? Kok nggak pahit?”

Kalimat itu berkali-kali terdengar dari pengunjung yang mampir ke stan UMKM Labuhanbatu. Awalnya mereka datang hanya karena penasaran. Beberapa menit kemudian, mereka sudah mengantre di meja kasir sambil membawa beberapa bungkus keripik.

Melati, staf Paviliun Kabupaten Labuhanbatu, mengatakan keripik pare memang menjadi produk yang paling banyak dicari selama PRSU berlangsung.

“Yang paling diminati memang keripik pare. Banyak yang penasaran karena produk seperti ini belum banyak ditemukan di paviliun daerah lain,” katanya.

Keunikannya justru terletak pada kesederhanaannya.

Pare yang digunakan tetap pare asli. Tidak direndam dengan bahan-bahan aneh untuk menghilangkan rasa pahitnya. Buah itu hanya diiris tipis, dibalut tepung berbumbu, lalu digoreng hingga renyah.

Hasil akhirnya justru membuat banyak orang sulit percaya.

Sayur yang selama ini sering “tersisih” di meja makan berubah menjadi camilan gurih yang membuat orang ingin menambah lagi.

Di situlah letak satirenya.

Kadang kita terlalu cepat memberi cap pada sesuatu hanya dari penampilannya. Pare dicap pahit, lalu dihindari. Padahal ketika diolah dengan kreativitas, ia justru berubah menjadi produk yang paling cepat habis di stan.

Keripik pare dijual seharga Rp18.000 per kemasan 100 gram dengan pilihan rasa original, pedas, dan campuran. Melati bahkan mengaku stoknya mulai menipis karena banyak dibawa pulang pengunjung sebagai oleh-oleh.

Namun Paviliun Labuhanbatu tidak hanya mengandalkan pare.

Di rak-rak lainnya tersusun banana roll, keripik pisang, keripik bayam, kue bawang, ikan asin, hingga wedang sehat, seluruhnya merupakan hasil karya pelaku UMKM lokal binaan Tim Penggerak PKK Kabupaten Labuhanbatu.

Bagi pencinta kerajinan tangan, pilihannya juga tak kalah menarik. Ada tas berbahan manik-manik, rotan, plastik daur ulang, hingga lidi sawit yang disulap menjadi produk bernilai ekonomi.

Salah satu benda yang paling sering mengundang senyum pengunjung adalah keranjang cuci beras berwarna-warni.

“Banyak yang mengira itu pot bunga atau tempat buah. Padahal memang untuk mencuci beras,” ujar Melati sambil tertawa.

Di sudut lain paviliun, suasana berubah lebih artistik. Tiga lukisan karya seniman Labuhanbatu, Ucok Bangun Gultom, dipajang dengan elegan. Yang membuat orang tercengang bukan hanya detail gambarnya, tetapi juga medianya.

Seluruh lukisan itu dibuat hanya menggunakan tinta pulpen.

Tanpa cat minyak. Tanpa kuas. Tanpa pewarna tambahan.

Nilainya pun tak main-main, berkisar antara Rp20 juta hingga Rp30 juta. Bukti bahwa sebuah pulpen ternyata bukan hanya bisa dipakai menandatangani dokumen, tetapi juga melahirkan karya seni bernilai tinggi.

Tak ketinggalan, kain batik printing khas Labuhanbatu ikut melengkapi etalase produk lokal dengan harga mulai dari Rp200 ribuan hingga lebih dari Rp600 ribu, tergantung motif dan ukurannya.

PRSU akhirnya kembali mengajarkan satu hal sederhana.

Daerah tidak akan pernah kehabisan cerita selama warganya terus berani berinovasi.

Labuhanbatu datang bukan membawa produk yang dibuat-buat agar terlihat modern. Mereka cukup membawa hasil karya masyarakatnya sendiri, lalu membuktikan bahwa kreativitas mampu mengubah sesuatu yang sederhana menjadi bernilai.

Dan siapa sangka, di tengah gegap gempita PRSU tahun ini, bintang panggungnya bukan penyanyi, bukan pula artis. Melainkan sepotong keripik pare yang berhasil mengubah rasa pahit menjadi peluang manis bagi pelaku UMKM.(***)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *