Bollywood Menggoyang PRSU: Saat India Membawa Tari, Kita Membawa Tepuk Tangan
Medan : Di tengah ramainya Pekan Raya Sumatera Utara (PRSU) 2026 yang dipenuhi stan kuliner, promosi daerah, dan hiruk-pikuk pengunjung, ada satu sudut yang mendadak berubah menjadi “Mumbai mini”. Konsulat Jenderal India di Medan hadir bukan membawa rempah-rempah atau pameran teknologi, melainkan suguhan budaya yang sukses mengundang perhatian ribuan pasang mata.
Malam itu, panggung PRSU dipenuhi irama Bollywood. Lagu-lagu seperti Aankhein Khuli, Dholna, hingga Ladki Badi mengalun mengiringi para penari yang tampil dengan kostum warna-warni dan koreografi penuh energi. Penonton pun larut dalam suasana. Ada yang ikut bergoyang, ada yang sibuk merekam, dan tentu saja, ada yang diam-diam ikut bernostalgia dengan film-film India yang pernah menemani masa kecil.
Namun India rupanya tidak hanya datang membawa goyangan Bollywood. Mereka juga memperkenalkan Bharatanatyam, salah satu tarian klasik tertua di dunia. Gerakannya anggun, penuh makna, dan mengingatkan bahwa budaya bukan sekadar hiburan, tetapi juga cara sebuah bangsa menceritakan sejarah dan nilai-nilainya.
Pertunjukan berlanjut dengan sederet lagu populer seperti Kuch Kuch Hota Hai, Morney Banke, hingga Dilwale Girlfriend. Tepuk tangan penonton tak putus-putus terdengar. Mungkin karena musik India memang sudah lama akrab di telinga masyarakat Indonesia. Atau mungkin karena, di tengah derasnya budaya digital, pertunjukan budaya yang disajikan langsung di atas panggung memang selalu punya daya tarik tersendiri.
Di sela acara, Konsul Jenderal India Ravi Shanker Goel menyampaikan apresiasi atas kesempatan tampil di PRSU. Ia juga mempromosikan potensi wisata Danau Toba dan Pulau Samosir kepada masyarakat India, sembari mengajak masyarakat Sumatera Utara untuk suatu hari menjelajahi “Incredible India”. Diplomasi ternyata bisa dilakukan tanpa meja perundingan. Kadang cukup lewat tarian, musik, dan senyum para penampil.
Yang menarik, India tampaknya paham bahwa hubungan antarnegara tidak selalu dibangun melalui perjanjian dagang atau pidato resmi. Budaya sering kali menjadi bahasa yang lebih mudah dipahami semua orang. Tidak perlu penerjemah untuk menikmati tarian yang indah atau musik yang mampu menggerakkan kaki penonton.
Di sisi lain, kehadiran India di PRSU menjadi pengingat bahwa sebuah pameran daerah bukan hanya tempat berjualan produk atau mempromosikan investasi. Ajang seperti ini juga bisa menjadi ruang bertemunya budaya dari berbagai negara, tempat masyarakat saling mengenal tanpa sekat diplomasi yang kaku.
Akhirnya, malam budaya India di PRSU bukan sekadar hiburan. Ia menjadi bukti bahwa persahabatan dua negara bisa tumbuh lewat panggung sederhana, diiringi musik, tarian, dan tepuk tangan yang datang dengan tulus. Dan kalau setelah pulang masih ada yang bersenandung lagu Bollywood sepanjang jalan, berarti misi diplomasi budaya India malam itu bisa dibilang berhasil.(***)







