RPH Medan Jangan Cuma Jago Potong, Saatnya Belajar Jualan

RPH Medan Jangan Cuma Jago Potong, Saatnya Belajar Jualan

Kalau selama ini Rumah Potong Hewan (RPH) identik dengan urusan sapi masuk, daging keluar, tampaknya Wali Kota Medan Rico Waas ingin alur cerita itu sedikit diubah. Jangan cuma memotong, tapi juga mulai berpikir bagaimana menghasilkan uang.

Dalam rapat evaluasi PUD RPH Kota Medan, Rico memberi “vitamin bisnis” kepada direksi. Pesannya sederhana: berhenti menunggu pelanggan datang seperti menunggu hujan di musim kemarau. Kalau perlu, datangi perusahaan-perusahaan, bawa proposal, ajak kerja sama. Istilah kerennya, jemput bola. Jangan sampai bolanya malah dijemput kompetitor.

Saran itu sebenarnya masuk akal. Sebab, kalau sebuah perusahaan daerah hanya mengandalkan biaya jasa pemotongan, ya pertumbuhannya akan ikut “dipotong”. Apalagi ketika aset yang dimiliki mencapai sekitar lima hektare, tetapi pendapatannya masih belum sebanding. Ibarat punya rumah besar, tapi uang listrik saja masih dihitung pakai kalkulator.

Rico juga mengingatkan agar jangan buru-buru sibuk mencari investor kalau urusan di dalam rumah sendiri masih berantakan. Investor itu biasanya datang membawa uang, bukan membawa kesabaran. Mereka tentu lebih tertarik melihat tata kelola yang rapi daripada presentasi yang penuh janji tetapi minim bukti.

Data yang dipaparkan dalam rapat pun menjadi alarm. Jumlah pemotongan sapi tertinggi masih sekitar 892 ekor per bulan. Angka itu memang bukan nol, tetapi juga belum cukup membuat perusahaan berlari. Paling banter masih jalan santai. Kalau targetnya perusahaan sehat, tentu tidak bisa berharap keajaiban datang hanya dari aktivitas yang itu-itu saja.

Karena itulah muncul ide mengembangkan cold storage, kawasan peternakan unggas, hingga hilirisasi produk daging. Bakso, kornet, sosis, atau olahan lainnya dinilai bisa menjadi sumber pendapatan baru. Logikanya sederhana, nilai tambah lebih menguntungkan daripada sekadar menjual bahan mentah. Daging yang hanya lewat meja potong nilainya berbeda dengan daging yang sudah berubah menjadi produk siap jual.

Yang menarik, Rico meminta proposal lengkap selesai dalam waktu sepekan. Bukan sekadar kumpulan slide dengan foto sapi dan grafik warna-warni, tetapi benar-benar berisi analisis bisnis, rencana kerja, hingga daftar calon mitra. Artinya, yang dibutuhkan bukan presentasi yang enak dilihat, melainkan proposal yang cukup kuat untuk membuat investor berkata, “Ini layak dikerjakan.”

Di akhir rapat, Rico menegaskan evaluasi bukan ajang mencari kambing hitam. Untung juga, karena di RPH kambing biasanya memang masuk daftar yang dipotong, bukan disalahkan. Evaluasi, katanya, harus melahirkan solusi dan progres nyata.

Kini publik tinggal menunggu. Apakah PUD RPH benar-benar bertransformasi menjadi perusahaan daerah yang mampu mengoptimalkan aset dan menghasilkan berbagai produk bernilai tambah, atau justru kembali nyaman dengan rutinitas lama. Sebab pada akhirnya, perusahaan daerah tidak diukur dari seberapa sering menggelar rapat evaluasi, melainkan dari seberapa besar perubahan yang benar-benar bisa dirasakan.(***)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *