Mustika Deli Segera Diresmikan, Pemko Medan Ingin UMKM Tak Sekadar Jadi Pajangan
MEDAN — UMKM sering mendapat pujian sebagai tulang punggung ekonomi. Tetapi menjadi tulang punggung tentu tidak cukup kalau produknya hanya dipajang, difoto, lalu pulang tanpa pembeli.
Karena itu, Pemko Medan tengah mematangkan persiapan Grand Launching Galeri Dekranasda Medan Mustika Deli yang dijadwalkan berlangsung Rabu (19/8/2026) di lantai III Gedung Mal Pelayanan Publik (MPP), Jalan Iskandar Muda.
Galeri tersebut akan diresmikan langsung Wali Kota Medan Rico Tri Putra Bayu Waas.
Kehadiran Galeri Mustika Deli dirancang bukan sekadar menambah satu lagi ruangan dengan rak dan lampu yang bagus. Tempat ini diharapkan menjadi pusat promosi sekaligus pengembangan produk unggulan UMKM Kota Medan, sehingga pelaku usaha lokal memiliki ruang lebih luas untuk memperkenalkan produknya kepada pasar.
Persiapan grand launching dibahas melalui rapat koordinasi lintas perangkat daerah di Ruang Rapat MPP, Jumat (14/8/2026). Rapat dipimpin Sekretaris Dinas Koperasi UKM, Perindustrian dan Perdagangan Kota Medan Ruth Oldrina Margareth Tobing.
Dari rapat tersebut, rangkaian peresmian akan dibagi menjadi dua sesi.
Sesi pertama menjadi agenda utama: peresmian Galeri Dekranasda Mustika Deli sekaligus peluncuran aplikasi SIP Kurasi.
Rico Waas nantinya memberikan arahan, meresmikan galeri dan meluncurkan aplikasi tersebut. Prosesi kemudian dilanjutkan dengan pemotongan pita dan penandatanganan prasasti bersama Ketua Dekranasda Kota Medan.
Setelah itu, rombongan akan melakukan gallery tour untuk melihat berbagai produk unggulan UMKM yang dipamerkan.
Produk yang ditampilkan cukup beragam, mulai dari kriya, fashion hingga kuliner.
Kalau selama ini masyarakat mengenal produk UMKM Medan dari bazar, media sosial atau rekomendasi teman, nantinya diharapkan ada satu tempat yang bisa menjadi semacam “etalase resmi” bagi karya pelaku usaha lokal.
Namun justru di sinilah tantangan sebenarnya.
Sebuah galeri bisa saja terlihat cantik saat grand launching. Pita dipotong, prasasti ditandatangani, kamera berbunyi, semua tersenyum.
Tetapi setelah acara selesai, pertanyaan yang jauh lebih penting adalah: berapa banyak produk yang terjual?
Sebab UMKM tidak hidup dari seremoni.
UMKM hidup dari pasar.
Karena itu, sesi kedua grand launching akan difokuskan pada pengenalan konsep dan operasional galeri. Mulai dari filosofi nama Mustika Deli, sistem dan kriteria kurasi produk UMKM, hingga tata kelola galeri dan pengalaman berbelanja pengunjung.
Bagian kurasi menjadi penting.
Tidak semua produk harus masuk hanya karena dibuat oleh UMKM lokal. Produk yang ditampilkan perlu memiliki kualitas, identitas, kemasan dan daya saing yang layak.
Dengan begitu, galeri tidak berubah menjadi gudang bersama yang kebetulan berada di gedung pemerintah.
Kurasi yang baik justru dapat menjadi pintu naik kelas bagi pelaku UMKM.
Produk yang sebelumnya hanya dikenal di lingkungan sendiri bisa mendapatkan kesempatan masuk ke pasar yang lebih luas. Kemasan diperbaiki. Standar kualitas ditingkatkan. Cerita produk diperkuat.
Dan ketika konsumen datang, mereka tidak sekadar membeli barang.
Mereka membeli cerita tentang Medan.
Di sinilah nama Mustika Deli menjadi menarik. Ia dapat menjadi identitas yang mengikat produk-produk lokal dengan karakter kota, bukan sekadar label administratif bahwa barang tersebut dibuat oleh UMKM Medan.
Tentu saja, pekerjaan tidak berhenti ketika galeri resmi dibuka.
Pemko Medan perlu memastikan galeri tersebut benar-benar hidup setelah acara grand launching selesai. Promosi harus berjalan. Pengunjung harus datang. Produk harus berganti secara berkala. Pelaku UMKM harus mendapatkan pendampingan. Dan yang paling penting, transaksi harus terjadi.
Sebab ukuran keberhasilan galeri bukan berapa banyak orang yang hadir pada hari peresmian.
Ukuran keberhasilannya adalah berapa banyak pelaku UMKM yang kemudian mendapatkan pelanggan baru.
Kalau galeri ramai pengunjung tetapi kasirnya sepi, berarti ada sesuatu yang perlu diperbaiki.
Sebaliknya, kalau pengunjung datang, melihat produk, tertarik, lalu membeli dan kembali lagi, barulah Mustika Deli benar-benar menjalankan fungsinya sebagai etalase UMKM.
Kehadiran aplikasi SIP Kurasi juga diharapkan membuat proses kurasi semakin terarah dan modern. Digitalisasi semestinya tidak hanya membuat administrasi lebih cepat, tetapi juga membantu membangun standar kualitas produk yang lebih jelas.
Pada akhirnya, Galeri Dekranasda Mustika Deli memiliki peluang menjadi lebih dari sekadar ruang promosi.
Ia bisa menjadi tempat bertemunya produk lokal dengan pasar, kreativitas dengan peluang usaha, serta tradisi dengan inovasi.
Medan tidak kekurangan orang kreatif.
Yang sering menjadi persoalan adalah bagaimana kreativitas itu menemukan pembeli.
Karena itu, grand launching 19 Agustus nanti sebaiknya tidak hanya menjadi hari ketika sebuah galeri dibuka.
Ia harus menjadi hari ketika UMKM Medan benar-benar mendapatkan pintu baru menuju pasar.
Sebab produk lokal tidak seharusnya hanya dipuji sebagai “karya anak Medan”.
Kalau memang bagus, produk itu harus dibeli, dipakai, dibanggakan—dan kalau bisa, dibawa pulang oleh orang dari luar Medan.(***)







