Bukan Cuma Menonton, Rico Waas Turun Ikut Tarik Tambang Bersama Warga Medan Amplas

Bukan Cuma Menonton, Rico Waas Turun Ikut Tarik Tambang Bersama Warga Medan Amplas

MEDAN — Ada kalanya seorang kepala daerah cukup berdiri di pinggir lapangan, tersenyum, melambaikan tangan, lalu pulang membawa cerita bahwa ia sudah hadir di tengah masyarakat.

Namun Wali Kota Medan Rico Tri Putra Bayu Waas memilih cara yang sedikit berbeda.

Datang ke tengah warga, ikut lomba, bahkan ikut menarik tambang.

Suasana perayaan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di Lingkungan 9, Kelurahan Harjosari 2, Kecamatan Medan Amplas, Senin (17/8/2026), mendadak semakin meriah ketika Rico Waas hadir menyaksikan perlombaan rakyat yang digelar masyarakat.

Tidak sekadar menjadi penonton, Rico langsung turun ke arena.

Dengan mengenakan baju dan topi merah dipadukan celana putih, penampilan Rico terlihat lebih seperti peserta lomba 17-an ketimbang pejabat yang sedang melakukan kunjungan kerja.

Dan benar saja, begitu tali tambang berada di tangan, urusan protokol sepertinya sementara dilupakan.

Rico ikut bertanding bersama warga dalam lomba tarik tambang.

Tenaga dikerahkan. Kaki menahan tanah. Tali ditarik sekuat-kuatnya.

Hasilnya?

Tim yang diperkuat Rico berhasil memenangkan pertandingan.

Sorak-sorai warga pun pecah. Tidak ada podium, tidak ada medali, apalagi seremoni penyerahan penghargaan yang panjang. Hadiahnya sederhana: kemenangan, tawa, dan tentu saja cerita yang kemungkinan akan terus dibicarakan warga setelah lomba selesai.

Ketika Wali Kota Tidak Hanya Datang untuk Bersalaman

Bagi sebagian warga, kehadiran Rico Waas bukan sekadar kunjungan biasa.

Rapotan Siregar, salah seorang warga, mengaku senang melihat wali kota datang langsung dan berbaur dalam perayaan kemerdekaan di lingkungan mereka.

Menurutnya, ini menjadi pengalaman pertama bagi warga setempat karena perayaan 17 Agustus di kawasan tersebut dikunjungi langsung oleh Wali Kota Medan.

“Yang pasti ini baru pertama kali setiap 17-an Agustus yang langsung dikunjungi oleh Pak Wali Kota. Baru pertama sekali,” ujar Rapotan.

Bagi Rapotan, yang membuat suasana semakin berkesan bukan hanya karena Rico hadir, tetapi karena sang wali kota benar-benar ikut masuk ke dalam suasana warga.

Bukan sekadar berdiri di depan kamera.

Bukan hanya bersalaman beberapa detik lalu berpindah lokasi.

Ia ikut lomba, berbicara dengan warga, menyaksikan perlombaan lain, dan berinteraksi tanpa suasana yang terlalu formal.

“Sangat bahagia sekali karena betul-betul berbaur dengan masyarakat. Berbaur betul, enggak ada penjagaan. Ajudannya agak jauh-jauh sedikit. Saya berfoto saja tadi langsung di sampingnya, enggak ada dihalang-halangi,” ungkap Rapotan.

Kalimat terakhir itu terdengar sederhana, tetapi cukup menggambarkan bagaimana warga merasakan kehadiran pemimpinnya.

Di tengah kehidupan pemerintahan yang sering identik dengan protokol, pagar pembatas, agenda terjadwal dan pengawalan, momen ketika seorang kepala daerah bisa berdiri cukup dekat dengan warga tentu menjadi pemandangan yang menarik.

Setidaknya untuk beberapa jam, jarak antara kursi wali kota dan bangku penonton lomba 17-an terasa jauh lebih pendek.

Dari Tarik Tambang ke Pukul Goni

Rico tidak hanya mengikuti tarik tambang.

Ia juga menyaksikan berbagai perlombaan rakyat lainnya, termasuk lomba pukul goni yang tentu saja punya tingkat kekocakan tersendiri.

Warga pun menikmati suasana tersebut.

Rapotan mengatakan Rico cukup lama berada di tengah masyarakat. Ia menyempatkan diri menyapa warga dan berdialog dengan mereka.

Yang menarik, perhatian Rico tidak berhenti pada peserta lomba.

Ia juga menghampiri para pelaku UMKM yang berjualan di sekitar lokasi.

Rico membeli dagangan mereka sekaligus mentraktir warga yang hadir.

Bagi pelaku usaha kecil, barangkali ini lebih menyenangkan daripada sekadar menerima ucapan selamat.

Dagangan laku.

Warga kenyang.

Suasana meriah.

Dan perayaan kemerdekaan berjalan tanpa harus membuat proposal setebal skripsi.

Kemerdekaan yang Dibuat Sendiri oleh Warga

Perayaan di Lingkungan 9 tersebut digelar secara swadaya masyarakat dan diinisiasi anak-anak muda setempat.

Mereka menghidupkan tradisi perlombaan rakyat setiap tahun dengan cara sederhana, tetapi penuh semangat.

Di sinilah sebenarnya wajah kemerdekaan terasa cukup nyata.

Tidak harus ada panggung besar.

Tidak harus ada artis terkenal.

Tidak harus ada dekorasi yang menghabiskan anggaran.

Cukup ada warga yang mau bergerak, anak muda yang mau mengurus acara, ibu-ibu yang ikut meramaikan, bapak-bapak yang rela kehilangan gengsi saat tarik tambang, dan anak-anak yang siap pulang membawa hadiah.

Kemerdekaan pun terasa dekat.

Kehadiran Rico Waas di tengah warga menjadi warna tersendiri dalam perayaan tersebut. Sebab seorang pemimpin tidak selalu harus berbicara panjang di atas podium untuk menunjukkan kedekatan dengan masyarakat.

Kadang cukup dengan turun ke lapangan.

Pegang tali.

Tarik sekuat tenaga.

Dan kalau menang, jangan lupa tersenyum bersama warga.

Hari itu, Rico Waas mungkin datang sebagai Wali Kota Medan.

Tetapi di tengah Lingkungan 9 Harjosari 2, untuk beberapa saat ia hanyalah satu dari sekian banyak warga yang sedang merayakan 17 Agustus.

Dan ternyata, menjadi bagian dari warga jauh lebih seru daripada sekadar menyaksikannya dari pinggir lapangan.(***)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *