Panjat Pinang Jadi Puncak Gebyar Kemerdekaan Medan Kota, Rico Waas Ikut Larut Bersama Warga

Panjat Pinang Jadi Puncak Gebyar Kemerdekaan Medan Kota, Rico Waas Ikut Larut Bersama Warga

MEDAN — Kalau ada satu lomba yang mampu membuat warga dari berbagai usia mendadak kompak, panjat pinang mungkin salah satu juaranya.

Tidak ada yang peduli siapa paling tinggi, siapa paling kuat, atau siapa biasanya paling banyak bicara. Begitu tiang pinang yang licin berdiri, semua punya satu tujuan: sampai ke puncak dan membawa pulang hadiah.

Suasana itulah yang mewarnai Gebyar Kemerdekaan RI yang digelar Kecamatan Medan Kota bersama Karang Taruna Kelurahan Teladan Timur dalam rangka HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.

Berbagai lomba khas 17-an digelar dan sukses menghidupkan suasana. Mulai pertandingan bola, makan kerupuk, estafet sarung, oper tepung, paku dalam botol, terong dalam botol, pipet ke dalam botol, balap kelereng, rebut kursi, joget balon hingga tarik tambang.

Namun, seperti biasanya, panjat pinang tetap menjadi magnet utama.

Mungkin karena hanya dalam lomba inilah orang rela memanjat tubuh temannya sendiri demi sebuah bendera, hadiah, dan tentu saja gengsi satu kampung.

Kemeriahan semakin terasa ketika Wali Kota Medan Rico Tri Putra Bayu Waas hadir langsung di tengah masyarakat. Rico tidak sekadar datang melihat-lihat, tetapi ikut menyemarakkan suasana dan berbaur bersama warga.

Hadir pula Anggota DPRD Kota Medan Afif Abdillah, Camat Medan Kota Muhammad Andi Syahputra, Sekcam Medan Kota, para lurah se-Kecamatan Medan Kota, serta Ketua Karang Taruna Kelurahan Teladan Timur Muhammad Habib Luthfi.

Lima Tim, Satu Tiang, Banyak Harapan

Lima tim turun dalam lomba panjat pinang.

Tiangnya sudah dilumuri licin. Hadiah sudah bergelantungan di atas. Penonton sudah berkumpul.

Tinggal satu persoalan: bagaimana caranya naik?

Di sinilah teori tentang gotong royong diuji secara nyata.

Satu orang menjadi pijakan, yang lain naik, kemudian disusul berikutnya. Kadang berhasil beberapa meter, lalu melorot lagi. Ada yang sudah hampir sampai, tetapi harus turun karena formasi berantakan.

Penonton tentu saja menjadi bagian penting dari pertandingan.

Teriakan penyemangat datang dari segala arah. Ada yang memberi instruksi, ada yang tertawa, ada pula yang mungkin lebih ahli memberi strategi dari bawah daripada mereka yang sedang bergelut dengan tiang.

Namun akhirnya, perjuangan Tim 4 membuahkan hasil.

Setelah berjibaku menaklukkan tiang pinang yang licin, tim tersebut berhasil mencapai puncak dan mengibarkan Sang Saka Merah Putih.

Sorak-sorai pun pecah.

Rico Waas memberikan bonus hadiah kepada tim yang berhasil mencapai puncak tersebut sebagai bentuk apresiasi atas perjuangan mereka.

Yang menarik, semangat berbagi tidak berhenti pada pemenang.

Bagi tim yang belum berhasil, Rico juga memberikan tambahan hadiah. Anggota DPRD Medan Afif Abdillah ikut memberikan tambahan hadiah kepada para peserta.

Pesannya sederhana: dalam lomba kemerdekaan, kalah menang memang biasa.

Yang penting pulang membawa pengalaman—dan kalau bisa, hadiah.

Gotong Royong dalam Bentuk Paling Sederhana

Panjat pinang sebenarnya menyimpan pelajaran yang cukup menarik.

Tidak ada satu orang pun yang bisa mencapai puncak sendirian.

Yang kuat belum tentu paling tinggi. Yang tinggi belum tentu punya pijakan. Yang kecil mungkin justru menjadi bagian penting dari formasi.

Semua harus saling menopang.

Sedikit saja salah perhitungan, seluruh susunan bisa jatuh.

Barangkali konsep ini juga yang membuat panjat pinang tetap bertahan dari generasi ke generasi. Di tengah kehidupan yang semakin individualistis, lomba tersebut memaksa orang untuk memahami satu hal sederhana: kalau ingin sampai ke atas, kadang harus membantu orang lain naik terlebih dahulu.

Ironisnya, prinsip seperti itu sering lebih mudah dipahami di tiang pinang daripada di ruang rapat.

Rico: Semangatnya Luar Biasa

Rico Waas mengapresiasi antusiasme masyarakat Kecamatan Medan Kota yang tetap menjaga semangat kebersamaan dalam perayaan kemerdekaan.

“Semangatnya luar biasa. Kali ini seru sekali karena ada lomba panjat pinang yang menyemarakkan perayaan HUT ke-81 Kemerdekaan kita,” ujar Rico.

Ia mengajak masyarakat untuk terus menjaga semangat dan berpikir positif dalam membangun Kota Medan.

“Pesan saya, seluruh masyarakat harus tetap semangat dan senantiasa berpikiran positif dalam bersama-sama membangun Kota Medan yang kita sayangi ini,” katanya.

Usai menyaksikan perlombaan, Rico pun larut dalam suasana. Ia menyapa warga, berbincang, dan menikmati momen kebersamaan di Kelurahan Teladan Timur.

Tidak ada suasana terlalu formal.

Tidak ada jarak yang kaku.

Yang ada hanyalah warga, pejabat, pemuda dan tokoh masyarakat yang sama-sama menikmati hari kemerdekaan.

Kemerdekaan Tidak Harus Rumit

Gebyar Kemerdekaan di Medan Kota akhirnya bukan hanya menjadi arena perlombaan.

Ia menjadi ruang bertemunya warga.

Anak-anak tertawa, orang tua ikut menyemangati, pemuda sibuk mengatur kegiatan, sementara pemerintah dan unsur legislatif hadir memberi dukungan.

Semua bercampur dalam satu suasana.

Dan mungkin begitulah kemerdekaan seharusnya dirayakan.

Tidak harus selalu dengan seremoni besar.

Kadang cukup dengan lapangan sederhana, lomba yang membuat orang tertawa, hadiah yang tidak seberapa, dan warga yang mau berkumpul tanpa menghitung siapa yang paling penting.

Karena pada akhirnya, yang paling tinggi bukanlah hadiah di puncak tiang pinang.

Yang paling tinggi adalah semangat kebersamaan yang berhasil dibangun warga.

Dan kalau tahun depan panjat pinang kembali digelar, kemungkinan besar satu hal tidak akan berubah: tiangnya tetap licin, hadiahnya tetap menggoda, dan orang-orang tetap rela jatuh demi bisa sampai ke puncak.(***)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *