Api Anantakupa Tak Kunjung Padam, Alumni Eks Departemen Penerangan Reuni: Dulu Mengawal Penerangan, Kini Mengawal Ingatan

Api Anantakupa Tak Kunjung Padam, Alumni Eks Departemen Penerangan Reuni: Dulu Mengawal Penerangan, Kini Mengawal Ingatan

MEDAN — Ada yang namanya pensiun dari pekerjaan. Tetapi rupanya ada yang tidak mengenal istilah pensiun dari persaudaraan.

Itulah yang terlihat dalam Temu Kangen Eks Departemen Penerangan Sumatera Utara (Sumut), Sabtu (29/8/2026).

Sekitar 250 alumni bersama keluarga besar Api Nan Tak Kunjung Padam (Anantakupa) Sumut berkumpul di Dinas Komunikasi dan Informatika (Kominfo) Sumut, Jalan H.M. Said Nomor 27, Medan.

Mereka datang dari berbagai kabupaten dan kota di Sumatera Utara.

Ada yang mungkin sudah lama tidak bertemu. Ada yang rambutnya sudah semakin putih. Ada pula yang mungkin dulu datang ke kantor membawa tumpukan berkas, sementara hari ini cukup membawa cerita masa lalu.

Tetapi satu hal tampaknya belum berubah:

semangat berkumpulnya masih menyala.

Tema yang diusung pun cukup serius, yakni “Melalui Temu Kangen Anantakupa Sumut, Kita Tingkatkan Kolaborasi Menuju Sumut Berkah.”

Jadi, ini bukan sekadar reuni untuk bertanya, “Masih ingat saya?”

Lebih dari itu, pertemuan tersebut ingin menjembatani masa lalu dengan masa kini dan menjadikan pengalaman panjang para insan penerangan sebagai modal untuk ikut berkontribusi bagi Sumatera Utara.

Dulu Mengabarkan, Kini Mengenang

Suasana haru dan penuh keakraban terasa sejak pertemuan berlangsung.

Para alumni bernostalgia mengenang masa pengabdian di Departemen Penerangan. Doa juga dipanjatkan untuk rekan-rekan seperjuangan yang telah lebih dahulu berpulang.

Anak, cucu, serta keluarga almarhum turut hadir.

Artinya, sejarah pengabdian para insan penerangan tidak berhenti pada orang-orang yang pernah bekerja di dalamnya.

Ia diwariskan melalui keluarga.

Dan mungkin inilah salah satu hal menarik dari sebuah reuni: orang datang bukan hanya membawa umur yang bertambah, tetapi juga membawa cerita yang semakin panjang.

Kalau dulu mereka bertugas menyampaikan informasi kepada masyarakat, kali ini mereka berkumpul untuk menyampaikan kenangan kepada generasi berikutnya.

Lahir di Tengah Keterbatasan

Ketua Forum Anantakupa Sumut, Zainuddin Mars, yang juga mantan Wakil Bupati Deliserdang dua periode, mengatakan insan penerangan memiliki sejarah panjang dalam perjalanan pembangunan bangsa.

Ia mengingat bagaimana para pegawai Departemen Penerangan bekerja dalam berbagai keterbatasan.

Namun keterbatasan tersebut tidak menjadi alasan untuk mengurangi tanggung jawab.

“Kita lahir di tengah-tengah kesulitan, tetapi kita bisa melaksanakan tugas dengan baik. Semangat itu masih berkobar seperti lautan biru samudra,” ujar Zainuddin.

Kalimat tersebut terasa relevan jika dibandingkan dengan zaman sekarang.

Dulu, informasi tidak bisa dikirim dalam hitungan detik.

Tidak ada media sosial yang setiap menit memproduksi kabar baru.

Tidak ada grup WhatsApp yang pagi-pagi sudah penuh dengan berita, video, komentar, bahkan berita yang belum tentu benar.

Namun pekerjaan penerangan tetap harus berjalan.

Sekarang teknologi sudah jauh lebih canggih.

Informasi bisa dikirim dalam hitungan detik.

Masalahnya justru berbeda:

informasi terlalu banyak, sementara kebenaran kadang harus dicari sampai ke ujung internet.

Mungkin di sinilah pengalaman para insan penerangan lama masih memiliki nilai.

250 Orang Hadir, Panitia Sampai Tidak Menyangka

Ketua Panitia Temu Kangen, Amran Matondang, yang pernah menjabat Sekretaris Daerah Kabupaten Labuhanbatu Utara, mengaku tidak menyangka antusiasme alumni begitu besar.

Sekitar 250 orang hadir.

“Tidak percaya begitu banyak yang hadir, sekitar 250 orang. Semangat eks Departemen Penerangan ternyata masih sangat tinggi,” katanya.

Gagasan reuni tersebut awalnya sederhana.

Sejumlah mantan pegawai Departemen Penerangan ingin kembali bertemu dengan teman-teman lama.

Pembicaraan kemudian berkembang. Para senior dan keluarga besar eks Departemen Penerangan ikut dilibatkan.

Akhirnya, yang awalnya hanya ingin bertemu beberapa orang berubah menjadi pertemuan ratusan alumni.

Begitulah reuni.

Kadang yang direncanakan hanya ngopi bersama, tetapi karena yang datang ternyata banyak, akhirnya berubah menjadi acara resmi.

Bedanya, kali ini kopi dan nostalgia sama-sama punya cerita.

Masa Lalu Bertemu Masa Kini

Amran berharap temu kangen tidak berhenti sebagai kegiatan bernostalgia.

Ia mengajak seluruh alumni untuk terus memperkuat silaturahmi sekaligus berkolaborasi dengan pemerintah dalam mendukung pembangunan Sumatera Utara.

“Jadikan temu kangen ini sebagai motivasi untuk lebih bagus dan lebih baik. Kita juga harus berkolaborasi dengan pemerintah dan mendukung program pemerintah. Temu kangen ini mempertemukan masa lalu dengan masa kini,” tegasnya.

Kalimat “mempertemukan masa lalu dengan masa kini” barangkali menjadi inti dari seluruh kegiatan.

Sebab pengalaman masa lalu tetap dibutuhkan untuk menghadapi persoalan masa kini.

Teknologi boleh berubah.

Media boleh berganti.

Nama institusi boleh berubah.

Tetapi kebutuhan masyarakat terhadap informasi yang benar, pelayanan publik yang baik, dan komunikasi pemerintah yang terbuka tetap sama.

RE Nainggolan: Jangan Hanya Bernostalgia

Tokoh eks Departemen Penerangan, Rustam Efendi (RE) Nainggolan, turut mengapresiasi pelaksanaan kegiatan.

Menurutnya, temu kangen jangan hanya menjadi ajang reuni dan nostalgia.

Pertemuan tersebut harus menjadi momentum menjaga komunikasi, persaudaraan dan kekeluargaan di antara keluarga besar eks Departemen Penerangan Sumut.

“Pertemuan seperti ini penting untuk menjaga hubungan persaudaraan yang telah dibangun selama masa pengabdian,” ujarnya.

Pesannya jelas.

Nostalgia boleh.

Cerita masa lalu silakan.

Foto lama juga boleh dibuka kembali.

Tetapi jangan sampai reuni hanya menghasilkan album foto baru.

Harus ada energi baru yang dibawa pulang.

Hasban Ritonga: Api Itu Masih Menyala

Tokoh eks Departemen Penerangan lainnya, Hasban Ritonga, yang pernah menjadi bagian dari Departemen Penerangan dan kemudian dipercaya menjabat sebagai Sekretaris Daerah Sumut, menyebut pertemuan tersebut memiliki makna tersendiri.

Bagi Hasban, kembali ke tempat dahulu mengabdi merupakan pengalaman emosional.

“Ini kesempatan kita bertemu dan bersilaturahmi di tempat lama kita mengabdi. Api Anantakupa tak kunjung padam,” katanya.

Ia juga mengapresiasi antusiasme sekitar 250 alumni dari berbagai daerah.

“Belum pernah perkumpulan eks pensiunan bisa sebanyak ini. Ini lambang kecintaan kita terhadap Departemen Penerangan,” ujarnya.

Kalau api itu benar-benar tidak kunjung padam, maka tugas generasi berikutnya bukan sekadar melihat nyalanya.

Tetapi memastikan apinya tidak berhenti sebagai kenangan.

Dari Departemen Penerangan ke Era Digital

Sementara itu, Sekretaris Dinas Komunikasi dan Informatika Sumut Yazid Matondang, yang mewakili Kepala Dinas Kominfo Sumut, menilai pengalaman dan nilai-nilai pengabdian para insan penerangan masa lalu masih relevan menghadapi tantangan komunikasi dan informasi di era digital.

Menurut Yazid, tantangan komunikasi saat ini justru semakin kompleks.

“Di era digital saat ini, semakin kompleks. Oleh sebab itu, sinergi dan kolaborasi antara pengalaman masa lalu dan energi masa kini menjadi kunci bagi kita untuk menghadirkan pelayanan informasi yang terbaik bagi masyarakat,” ujarnya.

Benar saja.

Kalau dulu tantangannya adalah bagaimana informasi bisa sampai kepada masyarakat, sekarang tantangannya adalah bagaimana masyarakat tidak tenggelam dalam banjir informasi.

Dulu mungkin informasi harus dicari.

Sekarang informasi yang justru mengejar manusia.

Masuk lewat telepon genggam, media sosial, grup keluarga, grup kantor, grup alumni, bahkan grup yang anggotanya sendiri kadang tidak tahu mengapa mereka dimasukkan.

Karena itu, pengalaman insan penerangan dalam membangun komunikasi publik tetap memiliki tempat.

Reuni yang Lebih dari Sekadar Foto Bersama

Yazid juga menyampaikan apresiasi kepada Ketua Forum Anantakupa Sumut, Ketua Panitia Pelaksana dan seluruh jajaran yang telah bekerja keras menyukseskan kegiatan tersebut.

“Atas nama Dinas Kominfo Sumatera Utara, kami menyampaikan apresiasi dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada seluruh panitia yang telah bekerja keras, dengan keikhlasan dan dedikasi, sehingga kegiatan ini berlangsung meriah dan sukses,” katanya.

Ia mengajak seluruh peserta menikmati kebersamaan dan menjadikan temu kangen sebagai momentum memperkuat kekompakan serta persaudaraan.

“Selamat bernostalgia, selamat melepas rindu, dan selamat menikmati kebersamaan hari ini. Semoga setiap detik pertemuan kita bernilai ibadah di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala,” pungkasnya.

Pada akhirnya, Temu Kangen Anantakupa Sumut bukan sekadar tentang para pensiunan yang kembali bertemu.

Ia adalah tentang sejarah.

Tentang orang-orang yang pernah bekerja dalam keterbatasan, tetapi tetap menjalankan tugas.

Tentang persahabatan yang ternyata tidak ikut pensiun.

Tentang keluarga yang ikut menjadi bagian dari perjalanan panjang pengabdian.

Dan tentang pengalaman yang masih bisa diwariskan kepada generasi berikutnya.

Di tengah dunia yang sekarang bergerak begitu cepat, mungkin pertemuan seperti ini justru menjadi pengingat bahwa ada sesuatu yang tidak boleh ikut tergantikan oleh teknologi:

silaturahmi.

Dulu mereka mengawal penerangan.

Kini mereka punya kesempatan mengawal ingatan.

Dan selama para alumni masih mau berkumpul, berbagi pengalaman, serta ikut memberikan gagasan bagi daerah, rasanya slogan “Api Nan Tak Kunjung Padam” memang bukan sekadar nama.

Apinya masih menyala.

Hanya saja, sekarang tidak lagi menerangi satu ruangan kantor.

Ia diharapkan menjadi cahaya pengalaman untuk menerangi perjalanan Sumatera Utara ke depan.(***)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *