Greta Thunberg: Dari Papan Karton ke Sel Tahanan, Jejak Penangkapan Aktivis yang Menantang Kekuasaan

Greta Thunberg: Dari Papan Karton ke Sel Tahanan, Jejak Penangkapan Aktivis yang Menantang Kekuasaan

STOCKHOLM — Dulu ia hanya seorang remaja dengan papan bertuliskan School Strike for Climate yang berdiri di depan Parlemen Swedia.

Hari ini, nama Greta Thunberg telah melewati batas isu perubahan iklim.

Ia berdiri di jalan raya, menghadang aktivitas industri fosil, masuk ke tengah demonstrasi, ikut dalam aksi solidaritas Palestina, berlayar menuju Gaza, dan beberapa kali berhadapan langsung dengan polisi.

Konsekuensinya bukan sekadar kritik di media sosial.

Ada tangan aparat yang menarik tubuhnya dari lokasi demonstrasi. Ada penahanan. Ada dakwaan. Ada denda. Ada ruang sidang. Bahkan ada perkara yang akhirnya gugur karena pengadilan menilai bukti penuntutan tidak mencukupi.

Dan menariknya, semua itu terjadi bukan hanya di satu negara.

Swedia, Jerman, Inggris, Belanda, Denmark hingga Israel tercatat dalam perjalanan panjang aktivisme Greta.

Tetapi satu hal harus ditegaskan sejak awal: ditangkap atau ditahan tidak otomatis berarti seseorang terbukti bersalah. Dalam sejumlah kasus Greta justru dibebaskan atau perkaranya dihentikan.

Lantas, seberapa sering sebenarnya perempuan kelahiran 3 Januari 2003 itu berhadapan dengan aparat?

Mari kita napaktilas perjuangan anak muda ini.

2018 — Swedia: Semuanya Bermula dari Sebuah Papan

Agustus 2018.

Greta yang ketika itu masih berusia 15 tahun mulai melakukan aksi mogok sekolah di depan Parlemen Swedia.

Papan sederhananya bertuliskan:

“Skolstrejk för klimatet” — mogok sekolah untuk iklim.

Tidak ada barikade polisi. Tidak ada ruang sidang. Tidak ada borgol.

Hanya seorang siswi dan tuntutan agar pemerintah Swedia mengambil tindakan lebih serius terhadap perubahan iklim.

Aksi yang awalnya dilakukan seorang diri kemudian berkembang menjadi gerakan Fridays for Future yang menyebar ke berbagai negara.

Dari sinilah Greta berubah dari siswi biasa menjadi salah satu wajah aktivisme iklim paling dikenal di dunia.

2023 — Jerman: Tambang Batu Bara dan Tangan Polisi

Januari 2023.

Greta datang ke Lützerath, Jerman, untuk ikut memprotes perluasan tambang lignit Garzweiler.

Pada 17 Januari, polisi membawa Greta menjauh dari lokasi tambang setelah ia ikut berada di area demonstrasi.

Reuters melaporkan Greta sempat ditahan dan kemudian dilepaskan. Polisi membawa sejumlah demonstran keluar dari kawasan tersebut.

Secara hukum, ini bukan perkara yang sama dengan vonis pidana.

Tetapi secara visual, peristiwanya menjadi simbol baru.

Greta—yang selama bertahun-tahun menyerukan agar dunia menghentikan ketergantungan terhadap bahan bakar fosil—kini harus berhadapan langsung dengan aparat ketika memprotes salah satu proyek tambang batu bara terbesar di Eropa.

2023 — Swedia: Aktivis Mulai Masuk Ruang Sidang

Di Swedia sendiri, masalah hukum mulai muncul.

Pada Juni 2023, Greta ikut aksi di Malmö menentang aktivitas industri minyak.

Ia kemudian didakwa karena tidak mematuhi perintah polisi.

Dalam persidangan, Greta mengakui bahwa dirinya memang tidak mengikuti perintah aparat, tetapi menyatakan aksi tersebut dilakukan sebagai bagian dari perjuangan menghadapi krisis iklim.

Kasus ini menunjukkan perubahan penting.

Greta bukan lagi sekadar aktivis yang menyampaikan pidato.

Aksinya mulai bersinggungan langsung dengan ketentuan hukum mengenai demonstrasi dan ketertiban umum.

Oktober 2023 — Inggris: Ditangkap, Didakwa, Lalu Menang di Pengadilan

London.

Greta kembali ditangkap ketika mengikuti demonstrasi menentang pertemuan industri minyak dan gas.

Ia kemudian menghadapi dakwaan terkait ketidakpatuhan terhadap perintah polisi.

Namun cerita tidak berhenti di penangkapan.

Pada Februari 2024, pengadilan Inggris membebaskan Greta dan sejumlah demonstran lainnya setelah hakim menilai jaksa tidak menghadirkan bukti yang cukup untuk membuktikan perkara tersebut.

Dengan demikian, peristiwa ini menjadi contoh penting:

Greta ditangkap, tetapi tidak berakhir dengan vonis bersalah.

Maret 2024 — Swedia: Parlemen Diblokir, Polisi Turun Tangan

Maret 2024.

Greta dan aktivis lainnya memblokir pintu masuk Parlemen Swedia dalam aksi protes.

Polisi kemudian mengangkat dan memindahkan Greta dari pintu gedung.

Reuters melaporkan polisi bahkan menyeretnya sekitar 20 meter dari lokasi yang diblokir sebelum memasukkannya ke kendaraan polisi.

Beberapa waktu kemudian, perkara tersebut berujung pada putusan pengadilan.

Pada Mei 2024, Greta dinyatakan bersalah karena tidak mematuhi perintah polisi dan dijatuhi denda 6.000 krona Swedia.

Ini bukan lagi sekadar aksi simbolik.

Ada putusan pengadilan dan ada denda.

April 2024 — Belanda: Ditahan Dua Kali dalam Sehari

Kalau ada yang mengira satu kali diamankan polisi akan membuat Greta berhenti, kejadian di Den Haag memberikan cerita berbeda.

6 April 2024.

Greta ikut aksi memblokir jalan A12 di Den Haag untuk memprotes subsidi bahan bakar fosil.

Polisi menahannya.

Setelah dilepaskan, Greta kembali bergabung dengan kelompok demonstran yang memblokir jalan lain.

Polisi kembali menahannya.

Dua kali dalam satu hari.

Reuters melaporkan Greta ditahan selama beberapa jam sebelum akhirnya dilepaskan. Polisi Belanda mengatakan total 412 demonstran diamankan dalam aksi tersebut.

Di sini terlihat pola yang semakin jelas.

Greta bukan hanya berbicara tentang perubahan iklim.

Ia memilih bentuk aksi langsung yang berpotensi membuat dirinya berhadapan dengan aparat.

September 2024 — Denmark: Dari Isu Iklim ke Palestina

September 2024.

Greta ditahan polisi di Kopenhagen ketika mengikuti demonstrasi pro-Palestina di sekitar Universitas Kopenhagen.

Polisi Denmark mengatakan sejumlah demonstran ditangkap dalam aksi tersebut dengan dugaan pelanggaran masuk tanpa izin.

Greta kemudian dilepaskan.

Peristiwa ini sekaligus memperlihatkan perubahan spektrum aktivismenya.

Jika sebelumnya namanya hampir selalu identik dengan perubahan iklim, pada periode ini Greta semakin aktif menyuarakan isu Palestina dan Gaza.

Oktober 2025 — Israel: Dari Laut Menuju Ruang Tahanan

Oktober 2025.

Greta ikut dalam Global Sumud Flotilla, rombongan kapal yang berusaha mencapai Gaza membawa bantuan kemanusiaan sekaligus menantang blokade laut Israel.

Armada tersebut dicegat.

Greta termasuk di antara ratusan aktivis yang kemudian ditahan oleh otoritas Israel dan dibawa ke daratan untuk proses deportasi.

AP melaporkan sekitar 440 peserta dari flotilla tersebut ditahan setelah kapal-kapal mereka dicegat. Israel menyatakan para penumpang berada dalam kondisi aman dan akan dideportasi. Penyelenggara flotilla menyatakan tindakan tersebut ilegal.

Artinya, kasus ini memiliki dua versi yang perlu dipisahkan secara jurnalistik:

Israel menyebut tindakan tersebut sebagai penegakan blokade dan alasan keamanan.

Pihak penyelenggara flotilla menilai intersepsi tersebut ilegal.

Greta akhirnya dideportasi.

Desember 2025 — Inggris: Kembali Ditangkap

Belum selesai.

23 Desember 2025.

Greta kembali ditangkap di London ketika menghadiri demonstrasi yang mendukung aktivis pro-Palestina yang sedang melakukan mogok makan.

Reuters melaporkan Greta ditangkap setelah terlihat memegang poster yang menyatakan dukungan terhadap tahanan Palestine Action. Polisi menggunakan ketentuan Terrorism Act dalam penanganan kasus tersebut karena pemerintah Inggris telah melarang Palestine Action.

AP juga melaporkan bahwa Greta ditangkap dalam demonstrasi tersebut dan kemudian dibebaskan dari tahanan.

Sekali lagi, penting membedakan:

penangkapan bukan vonis pengadilan.

Status hukum seseorang pada saat ditangkap belum sama dengan terbukti melakukan tindak pidana.

Juli 2026 — Jerman Kembali: Greta Tak Jauh dari Garis Depan

Juli 2026.

Greta kembali muncul dalam aksi demonstrasi di Berlin yang menentang aktivitas Rheinmetall dan pengiriman senjata ke Israel.

Dalam aksi tersebut, polisi Berlin kembali menahan Greta.

Reuters Connect mencatat Greta ditahan polisi ketika aparat melakukan intervensi terhadap demonstrasi tersebut.

Dengan demikian, Jerman menjadi negara yang setidaknya dua kali tercatat dalam perjalanan Greta berhadapan dengan aparat—pertama pada aksi Lützerath pada 2023 dan kembali pada demonstrasi Berlin pada 2026.

Kronologi Singkat: Negara, Tahun dan Status
Tahun     Negara         Peristiwa Status
2018        Swedia         Mogok sekolah di depan parlemen Aksi awal
2023        Jerman        Protes tambang Lützerath Ditahan sementara
2023        Swedia         Protes di Malmö Didakwa, kemudian dihukum
2023        Inggris         Protes industri minyak dan gas di London Ditangkap & didakwa
2024        Inggris         Persidangan perkara London Dibebaskan
2024        Swedia         Blokade pintu parlemen Dipindahkan polisi, kemudian didenda
2024        Belanda       Protes A12 di Den Haag Ditahan dua kali
2024        Denmark     Protes di Kopenhagen Ditahan
2025         Israel           Global Sumud Flotilla menuju Gaza Ditahan & dideportasi
2025         Inggris         Protes Palestine Action Ditangkap
2026        Jerman        Demonstrasi di Berlin Ditahan

Jadi, Berapa Kali Greta Ditangkap?

Di sinilah kita harus menilai secara berhati-hati. Jika istilah perlawan itu berurusan dengan aparat penegak hukum setempat, dipastikan Greta biangnya.

Mari kita urutkan satu persatu. Jika seluruh istilah ditangkap, ditahan, diamankan dan dipindahkan polisi dicampur menjadi satu angka, jumlahnya dapat terlihat lebih besar.

Contohnya di Den Haag 2024, Reuters secara eksplisit menyebut Greta ditahan dua kali dalam satu hari.

Di Jerman 2023, Reuters menyebutnya detained (dihukum), sementara sejumlah laporan media menggunakan istilah arrested (ditangkap).

Di Swedia 2024, yang terjadi adalah polisi memindahkan Greta secara paksa dari pintu parlemen, kemudian proses hukumnya berujung pada denda.

Karena itu, angka “berapa kali ditangkap” harus memiliki definisi yang jelas.

Yang dapat dipastikan dari catatan publik adalah Greta telah berulang kali ditahan atau ditangkap dalam aksi di sedikitnya enam negara/wilayah hukum: Swedia, Jerman, Inggris, Belanda, Denmark dan Israel.

Dan yang lebih menarik bukan sekadar hitungannya. Melainkan pola perjalanannya.

Dari Aktivis Iklim Menjadi Figur Protes Global

Greta memulai semuanya dengan isu iklim. Tetapi bertahun-tahun kemudian, aktivitasnya telah meluas ke berbagai persoalan sosial dan geopolitik. Tambang batu bara. Subsidi bahan bakar fosil. Industri minyak. Parlemen. Palestina. Gaza. Perdagangan senjata. Dan berbagai bentuk aksi pembangkangan sipil.

Perubahan itu membuat Greta semakin sering berada di wilayah abu-abu antara kebebasan berekspresi, hak demonstrasi dan penegakan hukum.

Pemerintah dan aparat memiliki aturan yang harus ditegakkan. Aktivis memiliki hak untuk menyampaikan kritik dan melakukan demonstrasi. Ketika dua kepentingan itu bertabrakan, polisi biasanya berada di tengah.

Dan Greta berkali-kali memilih untuk tetap berada di garis tersebut.

Perempuan Muda yang Tidak Pergi Ketika Polisi Datang

Ada satu benang merah dari seluruh perjalanan ini. Greta tidak membangun reputasinya melalui pidato di ruang konferensi saja. Ia berkali-kali memilih jalan. Secara harfiah. Ketika demonstrasi berlangsung di jalan, ia berada di sana. Ketika pintu parlemen diblokir, ia berada di sana. Ketika tambang batu bara diprotes, ia berada di sana.

Ketika kapal bantuan menuju Gaza dicegat, ia berada di sana. Dan ketika polisi datang, beberapa kali ia tidak memilih untuk meninggalkan lokasi begitu saja.

Konsekuensinya jelas:

ditahan, ditangkap, didakwa, didenda, disidangkan—dan dalam beberapa kasus dibebaskan.

Itulah sisi Greta yang sering hilang ketika publik hanya melihat fotonya di panggung internasional.

Di balik pidato tentang krisis iklim, ada seorang perempuan muda yang berkali-kali bersedia membayar harga hukum dari bentuk protes yang dipilihnya.

Apakah setiap aksinya benar secara hukum?

Tidak selalu. Beberapa perkara justru berakhir dengan putusan bersalah dan denda.

Apakah setiap penangkapannya berarti ia bersalah?

Juga tidak. Kasus London 2023/2024 menjadi contoh ketika pengadilan membebaskannya.

Namun satu fakta sulit dihapus dari kronologi:

Greta Thunberg tidak hanya berbicara tentang perubahan. Ia berkali-kali menempatkan tubuhnya sendiri di garis depan aksi—dan bersedia menghadapi konsekuensi ketika garis itu bersinggungan dengan aparat penegak hukum.

Dari papan karton di depan parlemen Swedia hingga kendaraan polisi di berbagai negara, perjalanan Greta menunjukkan bahwa aktivisme di dunia nyata memiliki harga yang jauh lebih mahal daripada sekadar menulis tagar di media sosial. Dan Greta, sampai 2026, masih memilih membayar harga itu.(***)

sumber berbagai informasi dan AI

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *