BLK Simalungun Direvitalisasi, Sumut Bidik 1.000 Peserta Pelatihan per Tahun: Jangan Cuma Jago Bikin CV!
MEDAN – Pemerintah Provinsi Sumatera Utara (Pemprov Sumut) menargetkan revitalisasi Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Balai Latihan Kerja (BLK) di Kabupaten Simalungun rampung pada Desember 2026. Mulai 2027, fasilitas tersebut ditargetkan mampu melatih 1.000 orang setiap tahun agar memiliki keterampilan yang dibutuhkan dunia kerja.
Program ini menjadi salah satu upaya Pemprov Sumut menjawab tantangan ketenagakerjaan. Sebab, di tengah persaingan mencari pekerjaan yang semakin ketat, modal ijazah dan CV yang terlihat meyakinkan saja belum tentu cukup. Dunia kerja juga menuntut keterampilan nyata, dari mengoperasikan peralatan hingga memberikan pelayanan profesional.
Kepala Dinas Ketenagakerjaan Sumut, Illyan Chandra Simbolon, mengatakan revitalisasi BLK Simalungun merupakan salah satu Program Strategis Daerah (PSD) di bidang ketenagakerjaan.
Hal itu disampaikannya dalam temu pers yang diselenggarakan Dinas Komunikasi dan Informatika Sumut di Lobby Dekranasda, Kantor Gubernur Sumut, Jalan Diponegoro, Medan, Rabu (21/10/2026).
“Revitalisasi BLK di Simalungun sudah berproses. Desember ditargetkan selesai,” ujarnya.
Menurut Illyan, revitalisasi tersebut menjadi bagian dari program prioritas bidang pendidikan melalui pengembangan sekolah unggulan berbasis peningkatan keterampilan. BLK Simalungun dirancang menggunakan sistem berasrama atau boarding, dengan kapasitas menampung 100 peserta pelatihan.
Dengan kapasitas tersebut, pemerintah menargetkan pelatihan bagi 1.000 orang per tahun. Artinya, fasilitas ini diharapkan mampu menjalankan pelatihan secara bergiliran, sehingga manfaatnya tidak berhenti pada satu angkatan peserta saja.
Target tersebut tentu membutuhkan pengelolaan yang matang. Gedung boleh direvitalisasi, peralatan boleh diperbarui, tetapi keberhasilan BLK pada akhirnya akan diukur dari kemampuan lulusannya memasuki dunia kerja atau mengembangkan usaha secara mandiri.
18 Kejuruan Disiapkan, dari Forklift hingga Barista
Pada 2027, BLK Simalungun direncanakan menyediakan 18 bidang kejuruan untuk membekali peserta dengan keterampilan praktis yang relevan dengan kebutuhan pasar kerja.
Sejumlah bidang yang disiapkan antara lain operator forklift, teknik instalasi listrik, ahli kecantikan junior, ahli keselamatan dan kesehatan kerja (K3) umum, desain grafis, caregiver, pengolahan hasil pertanian, barista, hingga servis sepeda motor.
Pilihan tersebut memperlihatkan bahwa pelatihan tidak hanya diarahkan pada pekerjaan teknis, tetapi juga sektor jasa, industri kreatif, perawatan, dan pengolahan hasil pertanian.
Bagi calon tenaga kerja, beragam pilihan ini membuka kesempatan untuk mengembangkan kemampuan sesuai minat dan kebutuhan industri. Bagi pemerintah, tantangannya adalah memastikan materi pelatihan, instruktur, peralatan, dan sertifikasi benar-benar sesuai dengan standar dunia kerja.
Sebab, sertifikat pelatihan memang penting, tetapi perusahaan biasanya juga ingin mengetahui satu hal sederhana: apa yang benar-benar bisa dikerjakan oleh pelamar?
Karena itu, keberhasilan BLK tidak cukup dihitung dari berapa banyak peserta yang duduk di ruang pelatihan atau menerima sertifikat saat penutupan. Tingkat penyerapan lulusan, kesesuaian keterampilan dengan kebutuhan industri, serta jumlah peserta yang mampu membuka usaha sendiri juga layak menjadi ukuran keberhasilan program.
Bukan Sekadar Melatih, tetapi Membuka Jalan Kerja
Revitalisasi BLK Simalungun merupakan satu dari dua Program Strategis Daerah yang dijalankan Dinas Ketenagakerjaan Sumut pada periode berjalan. Program lainnya adalah perlindungan bagi tenaga kerja rentan.
Kedua program tersebut menyasar persoalan ketenagakerjaan dari sisi berbeda. Revitalisasi BLK diarahkan untuk meningkatkan kompetensi calon tenaga kerja, sedangkan perlindungan pekerja rentan ditujukan untuk memperkuat jaminan bagi kelompok pekerja yang membutuhkan perhatian.
Di sisi lain, Dinas Ketenagakerjaan Sumut juga mendorong penguatan pengawasan ketenagakerjaan melalui kolaborasi dengan pemerintah kabupaten dan kota.
Illyan menjelaskan, sinergi tersebut diperlukan untuk meningkatkan kualitas pembinaan, pengawasan, serta pelayanan ketenagakerjaan. Melalui skema kolaborasi, pengawas ketenagakerjaan dapat bekerja sama dengan dinas terkait di kabupaten/kota untuk melakukan pembinaan dan pemeriksaan terhadap temuan di lapangan.
“Kami sedang membuat satu terobosan itu untuk penguatan pengawasan ketenagakerjaan berkolaborasi dengan kabupaten/kota,” kata Illyan.
Langkah ini penting karena persoalan ketenagakerjaan tidak selesai hanya dengan menyiapkan tenaga kerja yang terampil. Hak pekerja, kepatuhan perusahaan terhadap aturan, serta kondisi kerja yang layak juga harus menjadi perhatian.
Dengan kata lain, pekerja perlu dibekali kemampuan agar mudah bersaing, tetapi pada saat yang sama juga harus mendapat perlindungan ketika sudah bekerja.
Target Besar, Pekerjaan Rumah Juga Besar
Target melatih 1.000 orang per tahun menjadi peluang sekaligus tantangan bagi Pemprov Sumut. Sebanyak 18 kejuruan yang direncanakan tersedia harus benar-benar mampu menjawab kebutuhan industri, bukan sekadar terlihat lengkap dalam daftar program.
Pemerintah juga perlu memastikan akses pelatihan terbuka bagi masyarakat yang membutuhkan, termasuk calon tenaga kerja dari daerah sekitar Simalungun. Sistem berasrama diharapkan mendukung proses belajar yang lebih terarah, sementara kualitas instruktur dan fasilitas praktik menjadi penentu penting hasil pelatihan.
Jika seluruh unsur tersebut berjalan baik, BLK dapat menjadi jembatan antara pencari kerja dan kebutuhan industri. Lulusan tidak hanya membawa sertifikat, tetapi juga keterampilan yang bisa langsung digunakan.
Namun, jika pelatihan hanya berhenti pada kegiatan belajar dan pembagian sertifikat, persoalan pengangguran tentu tidak otomatis selesai.
Revitalisasi BLK Simalungun kini ditargetkan rampung pada akhir 2026, dengan program pelatihan mulai diarahkan untuk berjalan pada 2027. Publik tentu berharap target tersebut tidak hanya bagus dalam perencanaan, tetapi juga terbukti melalui hasil nyata.
Sebab, tujuan akhir pelatihan kerja bukan sekadar membuat peserta mahir mengikuti ujian praktik. Yang lebih penting, mereka punya kesempatan lebih besar untuk mendapatkan pekerjaan, meningkatkan pendapatan, atau membangun usaha sendiri.
Gedung BLK boleh baru, peralatan boleh modern, tetapi ukuran keberhasilannya tetap sama: berapa banyak lulusan yang benar-benar menjadi tenaga kerja terampil dan mampu memperbaiki masa depannya.(***)






