Ada pemandangan menarik di Kota Medan, Jumat (17/7). Dinas Kominfo Kota Medan menggelar Seminar Literasi Artificial Intelligence (AI) bersama kader Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM). Pesannya terdengar mulia: mahasiswa diajak bijak memanfaatkan AI, jangan sampai teknologi membuat orang malas berpikir.
Pesan itu tentu patut diapresiasi. Apalagi Sekretaris Dinas Kominfo Kota Medan, Budi Hariono, dengan jujur mengakui dirinya juga menggunakan AI untuk membantu pekerjaan. Bahkan ia mengingatkan, jangan sampai AI hanya dipakai untuk sekali klik membuat pidato, sementara otak justru diparkir.
Masalahnya, warga Medan mungkin sedang bertanya-tanya.
“Pak, AI boleh secanggih apa pun, tapi apakah sudah bisa menghindari lubang jalan otomatis?”
Karena terus terang saja, kehidupan sehari-hari warga masih lebih akrab dengan “Artificial Intelligence” versi lain: Asal Infrastruktur Terlambat.
Di ruang seminar, mahasiswa diajak berdiskusi tentang masa depan teknologi. Di luar gedung, masyarakat masih berdiskusi soal banjir yang datang lebih cepat daripada solusi, lampu jalan yang kadang lebih pintar mati dibanding menyala, hingga pelayanan publik yang sesekali masih meminta warga bolak-balik membawa fotokopi yang entah untuk siapa.
AI memang bisa membuat pidato selesai dalam hitungan detik. Tapi sayangnya, belum ada aplikasi yang bisa membuat jalan rusak langsung mulus setelah difoto dan diunggah ke media sosial.
Belum ada juga fitur “Generate Kota Nyaman” yang sekali klik langsung menghasilkan trotoar layak, drainase lancar, parkir tertib, dan kemacetan berkurang.
Yang ada justru masyarakat semakin kreatif. Kalau melihat jalan berlubang, mereka tak lagi bertanya kapan diperbaiki. Mereka mulai hafal koordinatnya seperti hafal lokasi warung langganan.
Ironisnya, mahasiswa dalam seminar diingatkan agar tidak menjadi generasi yang terlalu bergantung pada AI. Sementara warga berharap pemerintah jangan sampai terlalu bergantung pada seminar sebagai bukti bahwa transformasi digital sudah berjalan.
Sebab transformasi digital bukan diukur dari berapa banyak diskusi tentang AI yang digelar. Ukurannya sederhana: apakah pelayanan publik semakin cepat, laporan warga semakin cepat ditindaklanjuti, dan anggaran benar-benar menghasilkan perubahan yang bisa dirasakan masyarakat.
Tentu seminar seperti ini penting. Literasi digital memang harus diperkuat agar generasi muda tidak hanya menjadi pengguna, tetapi juga pencipta inovasi.
Hanya saja, akan jauh lebih meyakinkan jika kecanggihan AI yang dibicarakan di ruang seminar benar-benar diikuti kecerdasan birokrasi dalam menyelesaikan persoalan yang setiap hari ditemui warga.
Karena bagi masyarakat Medan, kecerdasan buatan memang menarik. Namun yang lebih dinanti adalah kecerdasan dalam mengurus kota.
Sebab kalau AI bisa menjawab ribuan pertanyaan dalam hitungan detik, pemerintah seharusnya juga bisa menjawab satu pertanyaan sederhana dari warga:
“Kapan masalah-masalah dasar kota benar-benar selesai?”(***)







