Belawan Tak Butuh Banyak Seremoni, Tapi Lebih Banyak Solusi
Belawan kembali berganti nakhoda kepolisian. Di Mapolres Pelabuhan Belawan, prosesi pisah sambut berlangsung hangat. Wakil Wali Kota Medan Zakiyuddin Harahap mengajak Kapolres baru, AKBP Aditya S.P. Sembiring, bersinergi membangun Belawan yang indah, aman, dan nyaman.
Kalimat itu tentu terdengar indah. Apalagi Belawan memang punya semua modal untuk menjadi kawasan pesisir yang membanggakan. Lautnya indah, pelabuhannya sibuk, hasil lautnya melimpah, dan letaknya menjadi pintu gerbang ekonomi Sumatera Utara.
Sayangnya, selama ini yang lebih sering viral bukan panorama lautnya, melainkan kabar tawuran, begal, narkoba, dan berbagai persoalan sosial yang seolah datang bergelombang seperti pasang air laut.
Dalam sambutannya, Wakil Wali Kota berharap Belawan menjadi kawasan yang aman sehingga keindahannya bisa benar-benar terlihat. Kalimat itu menarik. Sebab selama ini yang membuat Belawan kurang indah bukan karena lautnya keruh, melainkan karena masalahnya terlalu banyak dan penyelesaiannya sering berjalan pelan.
Pergantian Kapolres tentu menjadi momentum yang baik. Namun masyarakat Belawan mungkin sudah terlalu sering menyaksikan pergantian pejabat. Yang mereka tunggu bukan sekadar nama baru di papan jabatan, tetapi perubahan yang benar-benar terasa di jalanan.
Seremoni pisah sambut memang selalu penuh senyum, salam, dan cinderamata. Yang belum pasti adalah apakah setelah acara selesai, warga bisa pulang dengan rasa aman tanpa khawatir menjadi korban begal atau anak-anak mereka terseret tawuran.
Belawan sebenarnya tidak kekurangan pidato tentang sinergi. Hampir setiap pergantian pejabat, kata-kata seperti kolaborasi, komitmen, dan kebersamaan selalu hadir. Persoalannya, kriminalitas tidak pernah takut pada sambutan. Tawuran tidak bubar karena tepuk tangan. Narkoba juga tidak berhenti beredar hanya karena spanduk bertuliskan “Selamat Datang Kapolres Baru.”
Karena itu, sinergi yang dimaksud seharusnya tidak berhenti di ruang seremoni. Pemerintah Kota Medan juga punya pekerjaan rumah yang tak kalah besar. Keamanan bukan hanya urusan polisi. Lingkungan yang tertata, lapangan kerja yang terbuka, pendidikan yang baik, hingga fasilitas publik yang layak adalah bagian dari upaya mencegah kriminalitas.
Kalau hanya mengandalkan aparat, sama saja seperti menimba air di kapal bocor tanpa pernah menutup lubangnya.
Belawan sudah terlalu lama dijanjikan menjadi kawasan yang indah. Kini masyarakat tentu berharap keindahan itu tidak hanya muncul dalam sambutan pejabat, tetapi benar-benar hadir dalam kehidupan sehari-hari.
Sebab warga Belawan tidak membutuhkan pidato yang semakin indah setiap tahun. Mereka lebih membutuhkan lingkungan yang benar-benar aman untuk mencari nafkah, anak-anak yang bisa tumbuh tanpa akrab dengan tawuran, dan malam yang tenang tanpa rasa waswas.
Kalau itu bisa diwujudkan, maka masyarakat tidak perlu lagi diyakinkan bahwa Belawan itu indah. Mereka akan merasakannya sendiri.(***)







