Air Mata Nurbaini Pecah, Rumah Lapuk dan Bocor Puluhan Tahun Kini Berubah Jadi Hunian Layak

Air Mata Nurbaini Pecah, Rumah Lapuk dan Bocor Puluhan Tahun Kini Berubah Jadi Hunian Layak

MEDAN – Ada kalanya air mata tidak perlu diterjemahkan dengan banyak kata. Cukup melihat rumah yang selama puluhan tahun menjadi tempat berteduh, meski atapnya bocor dan dindingnya mulai lapuk, lalu tiba-tiba berubah menjadi hunian yang layak.

Itulah yang dirasakan Nurbaini (50), warga Jalan Air Bersih No. 68, Kecamatan Medan Kota. Janda lima anak ini tak kuasa menahan haru saat melihat rumahnya yang dulu serba terbatas kini dibangun melalui program rehabilitasi Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) Pemko Medan.

Puluhan tahun Nurbaini menjalani kehidupan di rumah kayu tersebut. Atap bocor, dinding papan yang semakin lapuk, hingga fasilitas kamar mandi dan sumur yang jauh dari memadai menjadi bagian dari kesehariannya.

Tak jarang, untuk beristirahat pun Nurbaini harus tidur beralaskan semen di area tempat ia berjualan.

“Tadinya rumah saya ya sudah hancurlah. Dindingnya papan, sudah bocor-bocor,” kenang Nurbaini dengan suara bergetar, usai peninjauan rumahnya, Senin (5/10/2026).

Namun, mendapatkan rumah layak ternyata tidak semudah mengetuk pintu dan mengajukan permohonan.

Nurbaini mengaku sudah tiga kali mengajukan proposal bedah rumah, tetapi selalu gagal. Ia bahkan menduga ada pihak tertentu yang membuat pengajuan tersebut tidak berjalan.

“Tiga kali gagal. Digagalkan orang supaya rumah ini jangan pernah terbangun. Sampai saya sakit-sakit dipikirkan orang,” ujarnya sambil mengusap air mata.

Apa pun cerita di balik gagalnya pengajuan tersebut, satu hal yang jelas: Nurbaini akhirnya tidak menyerah.

Doa yang terus dipanjatkan seorang ibu tunggal itu kini perlahan terjawab. Rumahnya sudah memasuki tahap akhir pengerjaan dan mulai berubah dari bangunan lapuk menjadi hunian yang lebih layak.

“Alhamdulillah, saya kepingin punya rumah yang baik, yang pakai keramik. Hanya bisa berdoa sama Allah, dan akhirnya doa saya dijawab. Terima kasih banyak untuk Pak Wali Kota Medan Rico Waas,” ucapnya penuh syukur.

Rico Waas Cek Langsung, Rumah Tak Boleh Sekadar Berdiri

Perubahan rumah Nurbaini itu turut disaksikan langsung Wali Kota Medan Rico Tri Putra Bayu Waas yang meninjau progres pembangunan bersama Ketua TP PKK Kota Medan Ny. Airin Rico Waas, Senin (5/10/2026) petang.

Bagi Rico, rehabilitasi RTLH tidak boleh berhenti pada kegiatan bongkar atap, mengganti dinding, memasang lantai, kemudian selesai.

Menurutnya, rumah yang diserahkan kepada warga harus benar-benar siap dihuni dan memberikan rasa nyaman.

Karena itu, meski pembangunan rumah Nurbaini sudah memasuki tahap akhir, Rico masih menemukan sejumlah pekerjaan yang perlu diselesaikan, terutama saluran air dan pengecatan.

“Ini masih ada beberapa yang perlu diatensikan, termasuk saluran air yang masih belum selesai, cat-cat yang juga masih belum kering. Itu perlu diatensikan supaya bisa segera, mungkin seminggu lagi sudah selesai,” ujar Rico.

Pesannya sederhana: jangan sampai rumahnya sudah baru, tetapi pekerjaan rumahnya masih banyak.

Rico juga meminta agar setelah pembangunan selesai, tidak ada lagi material maupun puing-puing yang tersisa di sekitar rumah.

Menurutnya, pelayanan pemerintah kepada warga penerima RTLH harus sampai pada tahap akhir.

“Kalau bisa begitu serah terima, memang sudah rumah layak huni yang sudah bersih, sudah bagus. Jangan disisakan puing-puing. Begitu hanya dikasih rumah, sudah, ditinggal. Tidak. Jadi memang bagian dari pelayanan itu adalah sampai selesai betul, harus bersih,” tegasnya.

213 Rumah Ditargetkan Direhabilitasi

Program rehabilitasi RTLH Pemko Medan tahun ini menargetkan pembangunan 213 unit rumah.

Dari jumlah tersebut, sebanyak 111 unit atau sekitar 50 persen telah memasuki proses pengerjaan. Setiap rumah membutuhkan waktu pembangunan sekitar 40 hingga 45 hari.

Bagi Rico, perhatian terhadap rumah tidak layak huni merupakan bagian dari pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat.

Sebab, rumah bukan sekadar tempat menyimpan perabotan atau berteduh dari hujan. Rumah adalah tempat keluarga menjalani kehidupan sehari-hari.

Karena itu, Rico juga meminta kader Posyandu ikut berperan aktif menemukan warga yang masih tinggal di rumah dengan kondisi tidak layak.

“Kami juga pesankan kepada kader Posyandu untuk bisa mencari ataupun mendapatkan informasi di mana rumah-rumah yang tidak layak huni itu bisa direkomendasi untuk dibenahi,” pungkas Rico.

Bagi Nurbaini, pembangunan rumah tersebut mungkin hanya satu unit dari ratusan rumah yang masuk program pemerintah.

Namun bagi dirinya dan lima anaknya, rumah itu adalah sesuatu yang jauh lebih besar: tempat pulang yang selama puluhan tahun hanya bisa dibayangkan.

Kini, dindingnya tak lagi sekadar papan lapuk, atapnya tak lagi menjadi sumber kecemasan ketika hujan datang, dan lantainya perlahan berubah menjadi sesuatu yang dulu hanya ada dalam doa.

Keramik yang diimpikan akhirnya bukan lagi sekadar harapan—ia mulai menjadi tempat berpijak.(***)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *