Di tengah padatnya agenda politik dan rapat yang dipenuhi tumpukan dokumen, ada kalanya komunikasi paling efektif justru lahir dari sebuah silaturahmi. Tidak selalu membahas pasal demi pasal atau angka-angka anggaran, tetapi dimulai dari duduk bersama dan saling mendengar.
Suasana seperti itulah yang terlihat saat Wakil Ketua DPRD Kota Medan, H. Zulkarnaen, S.K.M., menerima audiensi Badan Kemakmuran Masjid (BKM) Darul Amin, Kelurahan Tembung, Kecamatan Medan Tembung, pada Rabu (8 April 2026).
Pertemuan berlangsung di ruang kerja Wakil Ketua DPRD Kota Medan di Jalan Kapten Maulana Lubis Nomor 1, Medan. Meski digelar dalam suasana formal, esensi pertemuannya justru sederhana: mempererat komunikasi antara wakil rakyat dengan masyarakat yang diwakili melalui pengurus masjid.
Kalau dipikir-pikir, ruang DPRD memang seharusnya tidak hanya ramai saat ada pembahasan anggaran atau perdebatan politik. Sesekali, ruangan itu juga perlu menjadi tempat bertemunya gagasan, aspirasi, dan harapan masyarakat. Sebab demokrasi tidak selalu lahir dari mikrofon sidang, tetapi juga dari obrolan yang berlangsung dengan suasana yang lebih cair.
Audiensi seperti ini menjadi jembatan agar hubungan antara pemerintah, legislatif, dan masyarakat tidak sekadar bertemu saat ada persoalan. Justru komunikasi yang rutin dapat mencegah banyak persoalan muncul karena masing-masing pihak saling memahami kebutuhan dan harapannya.
BKM sebagai pengelola kegiatan kemasjidan memiliki peran yang tidak kecil di tengah masyarakat. Selain mengurus aktivitas ibadah, banyak masjid kini juga menjadi pusat kegiatan sosial, pendidikan, hingga pemberdayaan warga. Karena itu, membangun komunikasi dengan pengurus masjid berarti juga membuka ruang dialog dengan masyarakat secara lebih luas.
Di sisi lain, DPRD juga membutuhkan masukan langsung dari berbagai elemen masyarakat. Sebab kebijakan yang baik tidak hanya lahir dari ruang rapat, tetapi juga dari aspirasi yang disampaikan oleh mereka yang merasakan langsung dinamika kehidupan sehari-hari.
Silaturahmi semacam ini mungkin tidak menghasilkan keputusan besar dalam hitungan jam. Namun, membangun kepercayaan memang bukan pekerjaan yang bisa diselesaikan sekali pertemuan. Ia tumbuh dari komunikasi yang terus dijaga dan kemauan untuk saling mendengarkan.
Harapannya, audiensi tidak berhenti menjadi agenda seremonial yang diakhiri dengan foto bersama. Yang jauh lebih penting adalah lahirnya kolaborasi nyata antara DPRD dan masyarakat dalam mendukung pembangunan serta menjaga keharmonisan kehidupan sosial di Kota Medan.
Karena pada akhirnya, politik yang paling membumi bukanlah yang paling sering terdengar di podium, melainkan yang mau membuka pintu untuk berdialog dengan masyarakat. Dan terkadang, langkah awal menuju solusi memang sesederhana menerima tamu dengan secangkir kopi dan telinga yang siap mendengar.(***)







