Audiensi, Bhinneka, dan Sebuah Kota yang Terlalu Pandai Mengerti Tapi Enggan Memahami

Medan8 Dilihat

Medan — Di sebuah ruang tamu resmi yang rapi dan ber-AC stabil, gagasan tentang keberagaman kembali dipanggil untuk duduk manis. Ia datang dengan nama besar: Bhinneka Tunggal Ika. Sebuah kalimat yang sudah begitu sering diucapkan hingga maknanya mulai terasa seperti slogan diskon—terdengar penting, tapi jarang benar-benar dihitung nilainya.

Wali Kota Medan, Rico Tri Putra Bayu Waas, dalam audiensi bersama Pujaketarub Sumut, mengingatkan kembali pentingnya saling memahami di tengah keberagaman. Sebuah pengingat yang menarik, karena di luar ruangan itu, “saling memahami” sering kali berarti “saling diam agar tidak ribut.”

Di kota yang majemuk, semua orang sepakat bahwa harmoni itu penting. Tapi harmoni seperti apa? Harmoni versi siapa? Apakah harmoni itu berarti semua suara terdengar, atau justru tidak ada suara yang cukup keras untuk dianggap masalah?

Keberagaman di Medan, seperti di banyak kota lain, telah lama naik kelas: dari realitas sosial menjadi konsep seremonial. Ia hadir dalam pidato, spanduk, dan acara resmi—lengkap dengan foto bersama dan senyum yang seragam. Namun di kehidupan sehari-hari, keberagaman sering dipraktikkan seperti etika antre: diakui keberadaannya, tapi dilanggar saat keadaan mendesak.

Rico Waas juga mendorong organisasi masyarakat untuk berperan aktif mengatasi persoalan sosial seperti narkoba dan kekerasan. Sebuah ajakan kolaborasi yang terdengar mulia—meskipun secara filosofis menyisakan pertanyaan kecil: jika semua pihak diminta berperan, siapa sebenarnya yang sedang memegang kendali?

Ormas diminta mengedukasi. Pemerintah mengoordinasi. Masyarakat diharapkan berpartisipasi. Semua bergerak dalam lingkaran peran yang rapi, seperti sebuah tarian kolektif—di mana setiap orang tahu langkahnya, tapi tidak ada yang benar-benar tahu siapa yang menggubah musiknya.

Sementara itu, Ketua Pujaketarub datang dengan undangan pelantikan. Sebuah momen simbolik yang menandai awal kepengurusan baru—yang, seperti banyak awal lainnya, penuh dengan harapan bahwa kali ini sesuatu akan berbeda, meskipun struktur masalahnya tetap sama.

Wali Kota menyatakan akan hadir jika berada di Medan. Sebuah pernyataan yang secara tidak langsung mengandung kemungkinan filosofis: bahwa kehadiran, seperti juga keberagaman, kadang bersifat kondisional.

Di akhir pertemuan, semua tampak berjalan sebagaimana mestinya. Pesan tersampaikan, undangan diterima, foto diambil. Keberagaman kembali dilipat rapi dan disimpan dalam bahasa yang sopan.

Dan kota ini pun melanjutkan hidupnya—sebagai ruang di mana semua orang tahu bahwa mereka berbeda, sepakat bahwa itu indah, dan diam-diam berharap perbedaan itu tidak terlalu terasa saat benar-benar diuji.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *