Rencananya Pulihkan Aktivitas Warga, Jembatan Ditinjau Dulu—Dibangunnya Nanti

Medan10 Dilihat

Medan — Setelah dua tahun setia menjadi saksi bisu antara harapan dan genangan air, jembatan perlintasan kereta api di Gang Damai akhirnya mendapat kehormatan tertinggi: ditinjau langsung oleh Wali Kota Medan.

Jembatan yang roboh sejak 2024 itu, menurut warga sekitar, telah naik status dari “akses penting” menjadi “objek wisata penderitaan harian”. Anak-anak sekolah, misalnya, kini sudah mahir cabang olahraga baru: lompat jauh versi darurat dan renang arus ringan.

Dalam kunjungan yang berlangsung khidmat dan penuh dokumentasi, Wali Kota Medan Rico Tri Putra Bayu Waas hadir bersama rombongan pejabat lintas instansi yang jumlahnya nyaris bisa membentuk satu regu pembangunan jembatan—kalau saja mereka membawa semen, bukan map dan rencana.

“Pemerintah tidak akan tinggal diam,” ujar beliau dengan tegas, memastikan bahwa posisi diam tersebut kini telah resmi berubah menjadi berdiri di lokasi sambil melihat-lihat.

Jembatan ini sendiri memiliki nilai historis tinggi. Dibangun pada era kolonial Belanda (1887–1915), kini ia melanjutkan tradisi panjang: sama-sama tidak terlalu memikirkan kenyamanan warga lokal, hanya saja dengan pendekatan yang lebih modern—yakni lewat penundaan.

Karena lahan berada di bawah kewenangan PT KAI, pemerintah kota pun menyiapkan strategi kolaborasi. Strategi ini, menurut sumber yang tidak ingin disebutkan namanya, terdiri dari beberapa tahap penting: rapat, diskusi, rapat lanjutan, peninjauan kedua, dan jika memungkinkan, rapat evaluasi peninjauan.

Warga pun menyambut baik rencana ini. “Kami senang akhirnya jembatan ini diperhatikan,” kata seorang warga, sambil menatap kosong ke arah sisa rangka besi. “Walaupun belum bisa dilalui, setidaknya sekarang sudah sering difoto.”

Di akhir kunjungan, harapan kembali disampaikan: agar akses antar kecamatan tersambung, mobilitas warga pulih, dan anak-anak bisa bersekolah dengan aman.

Sementara itu, anak-anak tetap berangkat sekolah seperti biasa—dengan doa tambahan dan keseimbangan tubuh yang terus diasah.

Karena di Gang Damai, yang terpenting bukan hanya sampai tujuan, tapi juga bagaimana bertahan di perjalanan.(***)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *